Tampilkan postingan dengan label Sampah otak. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Sampah otak. Tampilkan semua postingan

Nguping

14/01/2014
11:54

Nguping obrolan di warung gado-gado:

"Jakarta amblas 20cm/tahun, bla bli blu blo."
"Bla bli blu blo," temannya menyahut.
"Iya, bla bli blu blo," yang pertama meyakinkan temannya.

"Ah masa sih?", pikirku.

Sebuah suara dari warung soto dengan yakin dan mantap mengatakan seperti itu, dan saya pun yakin daun telinga yang masih menempel di kepala dan komponen di dalamnya masih normal dan tak salah mendengar, meski kemungkinan salah dengar itu tetap ada sebab posisiku terhalang tirai dari spanduk bekas sebagai pembatas teritorial warung soto dan warung gado-gado. Dan tiba-tiba saja saya merasa bersalah karena tak punya pengetahuan seluas itu dan merasa kalah dari bangsa lain dalam soal menangani bencana yang itu juga masih hasil "nguping" di berita-berita, atau pengalaman orang-orang yang pernah ke luar negeri dan tinggal di sana.

Mengapa kita seperti tak punya kemampuan mengatasi banjir sedangkan kita punya banyak ahli, sampai si ahli yang kurang perhatian pemerintah ini blusukan ke warung gado-gado. Anganku segera beralih, sebab ada cabai yang masih utuh tergigit, ini pasti bukan buatan ahli gado-gado. Sialan. Kita tak kekurangan ahli hampir di semua bidang, dan para ahli banjir dadakan dan ahli-ahli lainnya sering muncul di televisi, di warung gado-gado, di pangkalan ojek dan di kedai kopi pinggir jalan sampai sekelas Hard Rock. Ahli banjir dadakan seringkali lupa bahwa sebelumnya Ia ahli dalam membuang sampah sembarangan, dan ahli "ngeyel" ketika dihimbau untuk tidak menempati kawasan hijau penyerap banjir, Ia segera pindah keahlian ketika keahlian sebelumnya berdampak pada dirinya dan orang lain, dan ujungnya ahli menyalahkan, ahli menghasut yang lain untuk satu suara dengannya.

Ahli-ahli seperti inilah yang kita punya, ahli yang sepertinya  dari jebolan universitas abrakadabra. Kita memang butuh ahli yang sesungguhnya di bidang apa saja untuk kemajuan kota ini, negara ini dan bangsa ini. Dan ahli kerjasamalah yang paling sulit dicari, sebab kerjasama seringkali tak menguntungkan dari berbagai segi, maka ahli-ahli tersebut seperti khawatir namanya tak terkenal karena ada banyak nama tentunya dalam kerjasama, khawatir tak kebagian jatah karena jatah sekian harus dibagi sekian banyak orang. Maka kerja sendiri-sendiri jadi pilihan meski hasil seringkali tidak nyambung dengan yang lain, yang penting terkenal dan amplop tebal. Dan marilah kita menikmati dan merasakan hasil kerja yang seperti gado-gado dengan beberapa cabai yang masih utuh dan mengganggu di mulut kemajuan, mulut yang maju tangan di belakang. Offside.
--------------------------------------------------
Bojong Indah, Jakarta.


--Djenar Abunetti--
djenar.abunetti@gmail.com
Sent from Nokia Windows Phone.
Baca selengkapnya »

Elpiji

Siapa yang tak pernah mendengar makanan bernama sastra dan gas elpiji 12kg? Dua jenis makanan ini sangat mahal, hanya orang-orang tertentu saja yang mengonsumsi dua jenis makanan ini. Sastra umumnya dikonsumsi oleh orang-orang "kaya otak" dan elpiji 12kg dikonsumsi oleh orang yang "berotak kaya", atau yang kaya sungguhan, bukan yang pura-pura kaya dan status facebooknya suka chek in di restoran siap saji padahal makan di warteg, jadi jelas sudah dua makanan ini memang bukan makanan orang dobel miskin seperti saya, miskin otak juga miskin duit.

Maka menjadi wajar di kelas bawah seperti saya tak peduli mau kemana arahnya jalan kesusastraan tersebut menyangkut gonjang ganjing soal pengaruh, mempengaruhi dan dipengaruhi di antara tim delapan dan tigapuluh tiga tokoh. Yang jelas "kagak ngaruh" sama harga beras. Juga soal mau masuk ke dapur mana, atau dapur siapa tabung gas tersebut tidak ada pengaruhnya, rakyat tetep susah. Orang miskin selalu lapar, lapar mengarahkan pikiran ke soal perut dan makanan, bukan bahasa bukan pula tabung gas. Apa pun masalahnya dengan sastra dan seberapa pun gentingnya, beras dan telor tetap di atas urusan bahasa bernama sastra. Atau jangan-jangan puisi memang tak mampu masuk ke dalam kehidupan?. Apa maksudnya "kehidupan adalah puisi, dan puisi adalah kehidupan"? Yang kurang lebihnya seperti itu, yang saya dengar namun lupa siapa pengujarnya karena memang saya tak paham dengan dunia sastra yang menyilaukan tersebut.

Lain harga puisi lain pula harga elpiji yang naik tak kira-kira. Tapi sepertinya murni politis yang memang sudah direncanakan di tahun politik, salah satu tujuannya untuk mengurangi popularitas capres bernama Farhat Abbas. Separuh penduduk Indonesia tahu Farhat bermusuhan dengan keluarga Al, El meski hanya di twitter. Kali ini Farhat diadu dengan Elpiji, tanpa taruhan, dan sorak-sorai bergembira dari tim lawyer hora-hore yang makan tak cukup tempe. Dan kali ini Farhat dikalahkan Elpiji tanpa perlu menyeret banyak pihak yang ingin numpang tenar dalam kasus anak-anak papan atas dan melupakan kasus anak-anak yang sesungguhnya, anak-anak yang busung lapar dan kurang gizi. Tak ada komnas Elpiji yang bersuara.

Elpiji dan puisi sama-sama berpengaruh di kepala rakyat, yang satu mempengaruhi kerja otak kanan, yang satu otak kiri tapi tentu bukan rakyat miskin. Dan tentu tidak ada pengaruhnya bagi dengkul tukang becak, tidak akan jadi ringan beban si bapak dalam mengayuh becak mengejar laju kebutuhan yang semakin jauh hanya karena dibacakan puisi. Tapi memang puisi karya Pertamina yang berkolaborasi dengan Demokrat terbukti lebih ampuh dari puisinya penyair ini atau penyair itu, setidaknya dalam soal pengaruh. Pengaruh buruk atau pengaruh baik lain soal.

Eja[kal]kulasi Denny JA memang bikin tak puas penikmat pisang goreng, Dahlan pun berujar ini salah saya, semua salah saya. Sedangkan kalkulasi harga dan berat puisi 12kg tak seimbang di kepala penikmat sajak, negara ini memang penuh keajaiban, penyair dan gas elpiji sama-sama bisa menguap, mengangkasa tak terjangkau juga tak menjangkau, selain sama-sama menyilaukan. Ada tarik menarik, tarik ulur dan tarik kuat-kuat kemudian dilepaskan di saat yang lain menarik lebih kencang, seperti tarik tambang saat dilepaskan yang lain terjengkang. Siapa pun yang menang dalam dua kasus tersebut rakyat belum tentu kenyang. Dan sayang memang sepertinya kita sudah tak lagi memiliki bahasa yang menenangkan untuk perut yang tak kenyang.
------------------------------------------------------
Rawa Buaya, Jakarta

--Djenar Abunetti--
djenar.abunetti@gmail.com
Sent from Nokia Windows Phone.
Baca selengkapnya »

Sekedar

05/01/2014
6:57

Pagi ini saya ingin menulis sesuatu yang baru meski tak tahu tentang apa, tapi keinginan tersebut terus bergerak dalam tempurung kepala seperti gadis yang menagih janji-janji pria-pria buaya, merengek tapi sulit terkabul. Mungkin karena saya biasa berbohong maka pagi ini di tagih oleh pikiran saya sendiri untuk menulis catatan sebelum pukul tujuh pagi, atau paling lambat setengah delapan, sebab jam delapan sudah harus memakai seragam tempur.

Belajar mengetik cepat hasilnya nanti saja dilihat kalo sudah capek, yang penting terus menulis, menulis dan menulis tanpa henti dan lupakan hasilnya. Tak penting, ini penting, sangat penting. Karena saya harus bisa melakukannya, ya menulis banyak tanpa perlu memikirkan konsep menulis seperti para penulis sesungguhnya. Ini harus jadi kebiasaan setiap pagiku, atau kapan saja setiap ada kesempatan tak peduli di kakus atau di restoran menulis harus jadi sama pentingnya dengan meminum teh atau kopi, harus dinikmati, diresapi. Ah, enak sepertinya, ya sepertinya.

Tapi itu sekedar ingin. Akan tetapi saya harus merasa lega, sekedar ingin biasa dilakukan banyak orang, ingin tapi tak melakukan apa-apa, artinya saya tak sendiri, tak perlu malu. Tuhan pun malas sepertinya dengan orang sepertiku, artinya Tuhan juga malas mengabulkan keinginan saya yang hanya sekedar ingin. Sekedar ingin memang mudah, tak perlu bergerak apalagi bermodal uang, cukup angan-angan, tinggal menyeduh kopi menyalakan sebatang rokok dan merawang ke langit berharap Tuhan lupa dan salah mengabulkan doa atau usaha seseorang dan memberikan hasilnya kepada kita.

Sekedar ingin dan ingin sekedar, sepertinya tak jauh berbeda meski dibalik penempatan katanya, sebelas duabelas. Ingin sekedar dan sekedar ingin kalau saya pikir artinya seperti sama-sama tak serius, entah menurutmu. Nah, yang ini serius.
--------------------------------------
Rawa Buaya, Jakarta


--Djenar Abunetti--
djenar.abunetti@gmail.com
Sent from Nokia Windows Phone.
Baca selengkapnya »

Bayangkan Saja

[Mendadak Lontong]

Rakyat sehat negara kuat hanya khayalan, rasanya sulit diwujudkan. Bayangkan saja kalau bangun pagi-pagi ada tukang lontong lewat tapi mahal tak kira-kira, mau batal membeli rasanya kurang enak sudah memanggil, mau tetap melawan harga juga tak enak di kantong yang cuma puluhan ribu perhari pemasukannya, bayangkan lagi kalau lontong sebesar jempol dan panjang setengah jengkal berbandrol tiga ribu limaratus rupiah. Artinya makan dua buah sudah seharga tujuh ribu rupiah, makan empat buah berarti empatbelas ribu rupiah, siapa yang bisa sehat kalau seperti ini? Meski kenyang bukan ukuran sehat, tapi perut keroncongan terlilit harga pastilah sakit. Bayangkan! Ini baru lontongnya, belum bala-balanya yang seharga duaribu limaratus rupiah perbiji. Bayangkan saja.

Kalau ngomong soal zona nyaman dan tak nyaman pasti saya merasa salah memilih zona, padahal masih sama di wilayah Jakarta Barat berbeda dengan di kawasan Tubagus Angke yang serba murah di kawasan Rawa Buaya harga lontong saja benar-benar buaya. Di Angke sarapan nasi uduk cukup empat ribu rupiah sudah ada bala-bala berikut krupuknya, di sini nasi uduk sembilan ribu, harga seperti itu kalau di Angke sudah bisa makan pecel ati ayam.

[Apa kamu bilang? Kerja di sini tidur di Angke? Makan di Angke? Bikin cepet jadi tue bangke, yang bener aje, ngabisin waktu ame biaye. Stres yang ade, ngehe loe. Ngasih solusi gak kire-kire.]

Rakyat sehat negara kuat, rakyat lapar negara tepar. Itu juga kalau semua begitu, untungnya Jakarta bukan hanya berisi orang seperti saya. Jakarta dan Indonesia lebih banyak orang yang kenyang dan sehat. Kalau hanya kuli bangunan seperti saya dan beberapa teman saja yang kelaparan dan mati tercekik harga Insyaallah negara tetap kuat, boleh percaya boleh tidak bukan sulap bukan sihir. Aminkan saja, kalau tidak percaya ya dibayangkan saja.
-------------------------------------------------------------------
Rawa Buaya, Jakarta.


--Djenar Abunetti--
djenarabunetti@gmail.com
Sent from Nokia Windows Phone.
Baca selengkapnya »

Kuliner

Witing tresno jalaran soko kuliner, kalau mau menyatakan cinta atau nembak cewek maka sering sering saja diajak makan, dijamin tekor meski cinta belum tentu bersambut sesuai harapan. Witing tresno jalaran soko kuliner, cinta tumbuh karena seringnya sarapan bareng lunch bareng atau pun dinner bareng. Entah bareng keluarga atau bareng selingkuhan, yang penting bareng.

Kuliner, saya tidak tahu arti harfiah dari kata kuliner ini. Saya hanya merasa cocok memplesetkan kata yang saya rasa pas di ujung lidah saya dari kulino ke kuliner. Tapi gejala kuliner-kulineran ini memang sepertinya ada sejak dulu apalagi sekarang dengan adanya media sosial kita bisa tahu siapa saja yang ada janji makan-makan, entah makan makanan atau malah makan angin bukan urusan saya. Apalagi urusan tempatnya, tabu rasanya kalau menanyakan mau pada kemana kalian? Sedangkan kenal betul saja tidak.

Kuliner-kulineran yang kulino jadi tresno memang makan biaya, tapi cinta memang perlu biaya besar seperti halnya perang. Dan cinta memang urusan perang, perang sebuah hasrat yang menuntut dinyatakan atau tidak, dengan kuliner tersebut ada harapan lebih ringan dalam menyatakan cinta yang seringkali nyangkut di tenggorokan, meski tetap saja ada pertaruhan di meja makan, apakah dia tersedak mendengar "tembakan" dan berhenti makan karena selera jadi berubah atau berhenti makan karena langsung jaga image takut dibilang "kamu makanya banyak, pantesan melar". Meja makan tak ubahnya medan perang dalam kondisi ini, pulang bahagia atau pulang kecewa. Bisa-bisa berangkat bareng pulang sendiri-sendiri.

Tresno jalaran soko kuliner, kalau tak siap modal jangan bercinta. Tapi bukan berarti tak bercinta lantas tak perlu modal, jika cinta sama dengan urusan perang bukan artinya kalau tidak perang lantas tak boleh membeli alutista. Cinta dan perang soal kedaulatan. Kalau Indonesia saja yang jarang perang membeli tank Leopard dari Jerman meski bekas maka cinta juga mestinya punya "dana strategis" yang mesti siap kapan saja untuk digunakan berperang di meja makan.  Selamat berakhir pekan.
-----------------------------------------
Rawa Buaya, Jakarta.


--Djenar Abunetti--
djenarabunetti@yahoo.com
Sent from Nokia Windows Phone
Baca selengkapnya »

Terompet

Terompet, benda ajaib ini lebih sering muncul dalam jumlah banyak di akhir tahun dalam rangka menyambut tahun yang baru. Seolah tanpa terompet tahun baru tak jadi datang atau tahun baru tak ceria, padahal keceriaan yang dibawa terompet hanya terjadi pada wajah pendengar aktif (penuip juga penikmat terompet) dan penjual terompet sebelum pukul 00:00 lewat dari itu siapa yang mau membeli? Bagi pendengar pasif (tak ikutan meniup) hanyalah sumpek, bising.

Terompet memang ajaib, menyenangkan di pangkal dan menjengkelkan di ujungnya, tentu karena suara yang keluar dari ujungnya sangat mengganggu orang yang sedang tidur tetapi menyenangkan peniupnya. Di beberapa tempat ada rambu-rambu bergambar dilarang membunyikan terompet, lebih tepatnya klakson.

Polusi bukan hanya soal zat yang keluar dari benda berbentuk terompet (knalpot) dan terhirup melalui udara tapi juga suara dari benda berbentuk knalpot (terompet) dan masuk ke telinga. Maka knalpot atau pun terompet dalam hal ini esensinya sama, sumber polusi. Dan sungguh celaka jika keduanya ada di saat yang sama, di malam tahun baru. Berapa zat dari kenalpot yang terhisap dan berapa db (desibell) suara yang masuk ke telinga? Bonus petasan dan kembang api.

Entah siapa yang memulai kemudian membudayakan menyambut tahun baru dengan meniup terompet, mengapa tidak meniup ban kempes saja? Siapa tahu bengkel-bengkel motor akan merekrut para peniup terbaik dan membayar lebih dari karyawan lain, hitung-hitung penghematan energi kompresor yang tak cukup diisi air, atau segelas kopi hitam dan goreng pisang. Dan masih ada benda lain yang berbentuk sama selain knalpot dan terompet, yaitu toa atau pengeras suara yang (maaf) ada di masjid-masjid dan terkadang tak digunakan sebagaimana mestinya.

Jika akhir tahun atau awal tahun dilepas dan disambut dengan terompet demikian juga dengan dunia, dilepas dan menyambut kelahiran kembali kehidupan akhirat (kiamat) dengan terompet malaikat. Terompet, knalpot atau pun toa adalah agama dengan kiblat masing-masing dengan hasil yang sama, bising.
-------------------------------------------
Angke, Jakarta

--Djenar Abunetti--
djenarabunetti@yahoo.com
Sent from Nokia Windows Phone.
Baca selengkapnya »

Antri

Pagi ini halte Kota Tua sungguh sangat sumpek, ya setiap pagi akan seperti itu selama kita masih ingin didahulukan semakin banyak yang berdesakan, dorong-dorongan sikut-sikutan, seolah tanpa itu kita kurang berkelas, kurang hebat. Bukankah kita akan merasa enak jika masuk pelan-pelan, tertib, yang keluar didahulukan toh sopir busway sepertinya bukan tipe kejar setoran, soal telat di tempat kerja toh sudah biasa, mengapa harus tampak mengejar waktu jika kita bangun selewat dhuha?. Kalau antri saja tidak bisa, bagaimana dengan hal lain yang lebih serius dari sekedar antri? Wallahu a'lam.

Tapi sepertinya kita selalu dan terlalu asik dengan hal-hal seperti itu, dan sepertinya kita memang menyukai yang sumpek-sumpek, sambil berharap sumpek menjadi indah tanpa melakukan perubahan dari dalam diri kita sendiri, atau jangan-jangan kita berpikir sumpek itu demokratis, sumpek itu puitis, sumpek itu filosofis, sumpek itu harmonis, sumpek itu tak melanggar HAM.

Apa setelah kita bisa masuk ke dalam busway lalu semua selesai? Tidak! Kita sepertinya memang ditakdirkan lahir untuk sikut-sikutan, dorong-dorongan. Di dalam bus kita harus menyikut yang lain agar tak mendapat tempat, kalau perlu kita lemparkan saja ke luar dari bus, tak peduli dia bayar atau tidak, tak peduli itu wanita atau orang tua atau malah anak-anak. Kita rajin mengutip ayat "masuklah kamu ke dalam surga dari pintu yang mana saja", dan benar-benar dipraktekkan dalam keseharian kita di halte busway, tak peduli di depan pintu ada berapa orang yang datang lebih dulu, yang penting dorong dan masuk, pintu untuk wanita atau sebaliknya.

Lain penumpang lain pula supirnya, tak hanya penumpang yang berdesakan, sikut-sikutan, sopir pun tak lepas dari acara sakral ini, desak-desakan dengan kendaraan lain. Lihat saja di setiap perempatan, masing-masing seolah menyumbang paling banyak untuk pembuatan jalan tersebut terutama pemilik motor, berhenti dengan menjorok ke jalur lain, (yang dari arah timur berhenti lebih maju, demikian juga yang dari arah barat, tinggal yang dari arah utara dan selatan yang harus ekstra hati-hati melaju, ironisnya itu di jalurnya sendiri). Bagaimana kita antri, begitu juga kualitas kita.
----------------------------------------------
Koridor 12, Pluit-Kota Tua-Tanjung Priok.

--Djenar Abunetti--
djenarabunetti@yahoo.com
Sent from Nokia Windows Phone.
Baca selengkapnya »

OTW

18/12/2013
8:03

Jakarta mendung pagi ini, seperti biasa saya berangkat kerja dengan kendaraan umum favorite saya, Transjakarta, menuju Tanjung Priuk dari halte Stasiun Jakarta Kota. Lumayan dapat tempat duduk, biasanya sudah penuh, hari ini berangkat agak siang karena memang kesiangan tapi artinya saya punya waktu sekitar satu jam untuk menulis catatan harian, atau membaca buku yang setiap hari saya bawa untuk mengusir bosan di saat macet dan saya sedang membayangkan seandainya semua orang naik busway, commuterline atau yang lainnya dan semua orang menulis catatan perjalanannya yang lebih panjang dari "OTW" atau menulis tentang apa saja dalam perjalanannya pastilah akan ada banyak cerita yang bisa dihadirkan, sekian puluh atau malah sekian ribu cerita perhari, berapa setahun? Mungkin cukup dijadikan buku cerita yang setebal Tembok China.

Saya juga sedang membayangkan juga jika semua orang sibuk menulis, atau membaca takan ada yang sempat melakuan pelecehan seksual, mencopet dan segala hal yang buruk, tapi tentunya juga takan muncul cerita sejenis itu (cerita tentang mencopet, pelecehan seksual dan kejahatan lain). Tentu juga akan ada banyak jenis tulisan meski dalam satu bus, dari unek-unek sampai puisi terpendek berjudul OTW.

Bayangan lainnya muncul di kepala untuk membuat semacam tempat berbagi pengalaman tentang kendaraan umum ini, berbagi cerita tentang busway. Dan pagi ini saya bisa menulis catatan dalam busway karena sangat tidak biasa saya mendapat tempat duduk di busway koridor 12 ini, bisa masuk saja sudah bagus, artinya kendaraan ini semakin banyak peminatnya hanya saja penumpang belum bisa tertib. Lain dulu lain sekarang, dulu waktu masih baru, busway seperti tak ada peminatnya sekarang semua orang menyukainya.

Hujan di luar, bus sedikit bocor di gerbong untuk pria, gerbong belakang deretan kiri depan, kaca tampak dialiri air hujan, seperti cover sebuah buku yang entah apa judulnya sepintas pernah melewati lini waktu facebook saya, indah memang dan saya berpikir apa jangan-jangan pembuatnya naik busway juga? Ah tapi kaca dengan pemandangan seperti itu bisa di mana saja, di rumah sendiri, rumah pacar, rumah tetangga atau malah di rumah seteru kita.

Beberapa orang terkantuk-kantuk, lainnya tertidur dan bermimpi tentang Jakarta yang lebih rapi atau tentang Indonesia yang lebih baik mungkin juga dunia yang lebih damai, entahlah semoga saja mimpinya indah dan nanti jika terbangun dan turun di halte tujuan segera ia akan mewujudkan mimpi-mimpinya dengan turun tak berdesakan.

Ah, bukankah dunia hanya mimpi? Sebagian orang meyakini semuanya hanya mimpi yang lain percaya setengah mati ini nyata. Tapi bagiku keduanya tidaklah penting, lalu apa yang penting bagiku? Entahlah sepertinya saya bukan pemimpi dari sekian banyaknya pemimpi, saya hanya bagian dari tim hore dari sekian juta tim yang ada di dunia ini, tim hore yang akan selalu berteriak entah kalah dan entah menang setidaknya berteriak untuk menghibur diri sendiri semacam onani, atau masturbasi. Pemberhentian terakhir sebentar lagi.
-----------------------------------------------
Koridor 12, Pluit-Tanjung Priok.

--Djenar Abunetti--
djenarabunetti@yahoo.com
Sent from Nokia Windows Phone.
Baca selengkapnya »

Suluk PLN

Malam ini masih seperti malam-malam sebelumnya, gelap. Seperti biasa saya sedang belajar, mengaji, memahami dan mendalami ilmu SABAR, di majelis kegelapan dibimbing oleh PLN, kata beliau "gelapnya kamar tak segelap kuburan", gelapnya rumah tak segelap hati tanpa lilin iman.

PLN seperti Khidir, menguji Musa dengan melarang bertanya mengapa begini, mengapa begitu, namun dirinya bertindak seolah diluar nalar. Tindakan PLN penuh pesan tersembunyi, tidak sembarang murid bisa memahami maksud dari sang mursyid Syaikh Al-Lisrtikiyah, dengan garis keturunan Al-Thomas Edison yang sempat dituduh idiot.

Cara PLN berdakwah tidak seperti ustadz-ustadz yang lain teriak-teriak dengan pengeras suara, "orang sabar disayang tuhan, orang sabar pantatnya lebar", tidak juga seradikal Abu Bakar Baasyir.  PLN adalah wakil tuhan yang diutus untuk menguji langsung seberapa sabarnya kita, tanpa kata-kata. PLN mengajarkan nikmatnya terang dan kesabaran dengan mematikan aliran listrik pada jam tanggung seperti ini. PLN sangat religius. Jeglek.
--------------------------------------
Galuh Timur, Jawa Tengah.

--Djenar Abunetti--
djenarabunetti@yahoo.com
Sent from Nokia Windows Phone
Baca selengkapnya »

Kondom

Omong-omong soal kondom nih; dari mana datangnya kondom? Bisa dari mata turun ke hati, bisa juga dari pabrik (fee) turun ke Bu Menteri. Akan tetapi kenapa kampanye kondom justru lebih banyak ke kampus-kampus? Bukan di sekitar Bu Menteri dulu membaginya‬ apa maksudnya?? Sepertinya Ibu Menteri curiga di kampus banyak ayamnya, atau yang lebih parah Bu Menteri menganggap kampus seperti lokalisasi, pelecehan benar.

Tapi saya sedikit bingung, yang bagi-bagi kondom wanita yang komplain juga kebanyakan wanita (di timeline facebook saya loooh) ada apa dengan wanita? Apa karena wanita ingin dimengerti, atau karena tak suka penis pakai kondom? Ah, entahlah mari kita tanyakan pada kondom yang bergoyang.

Mahasiswinya sudah hamil pekan kondom nasionalnya baru digelar, eh‬ siapa yang telat? Yang telat banyak, bisa kereta, angkot, bisa penyair, bisa mahasiswi bisa juga Bu Menteri, pastinya sih otak kuli-ku lebih telat tapi yang jelas tidak ada yang lebih diuntungkan selain produsen kondom dari acara Pekan Kondom Nasional kemarin yang katanya batal. Dan setahuku "burung" itu atheis, tidak perlu disuruh pakai sarung, peci, atau jilbab juga surban.

Selamat petang rakyat republik kondom, untung tak dapat diraih malang tak dapat ditolak, bukan sesuatu yang mustahil jika nanti ada kosakata baru semisal "mengondomi hati"  lebih baik dari mengondomi kelamin sebagai perimbangan atas kritik terhadap kondomisasi nasional, seperti istilah "menjilbabi hati" lebih penting dari menjilbabi kepala, kalimat yang sering saya dengar di penolakan-penolakan kasus jilbab. Dan ledekan khas "atas kerudung bawah warung", akan beradu dengan "atas surban bawah kondom", sebagai balasan kaum hawa.

Maghrib sudah menjelang, lupakan sejenak persoalan yang sekenyal latex, mari mengondomi hati dengan ayat-ayat suci, atau untuk yang beragama syahwat jilbabilah selalu kelaminmu sebelum beribadah di lokalisasi.
--------------------------------------------
Galuh Timur, Jawa Tengah.

--Djenar Abunetti--
djenarabunetti@yahoo.com
Sent from Nokia Windows Phone.
Baca selengkapnya »

Kantuk

Dengan terkantuk-kantuk saya menulis catatan ini hanya untuk mengurangi rasa kantuk itu sendiri, rasa yang menjadikan mata serasa sepet-sepet enak tapi tidak seperti teh, betul hanya soal kantuk, tak lain dan tak bukan, tidak ada hubungannya dengan demo kasus dokter cantik, malpraktik penyair ganteng atau kasus guru seksi, atau juga soal pekan kondom, jilbabisasi polwan. Asli hanya soal kantuk, atau mengantuk.

Kantuk, atau mengantuk salah satu nikmat yang sering dilupakan, tak jarang pula malah sering disalahkan, pernah baca berita mobil nabrak dan kantuk dituduh sebagai biang keroknya? Kantuk seperti hadir di tempat dan waktu yang salah dan menyebabkan orang lain atau sang sopir itu sendiri mengalami lebih dari ngantuk dan ngorok akibat sang supir mengantuk. Kantuk sering dituduh sedemikian rupa tanpa diberi kesempatan membela diri. Kasihan nasib kantuk, ia hanya menjalankan tugasnya, dan sejauh ini lebih berhasil dari secangkir kopi, atau minuman suplemen.

Dari situlah mungkin ide untuk menyelamatkan kantuk terlahir dan sejak saat itu pemilik jalan  menghimbau dengan spanduk besar atau baliho "NGANTUK ISTIRAHATLAH", dan menyediakan rest area. Dari kantuk dan kawan-kawannya terlahir banyak pekerjaan, tukang pijat, tukang kopi, tukang donat sampai teman ngantuk (teman mengantuk-antukan sesuatu) sampai kelelahan dan tertidur.

Dari kantuk, mengantuk maka lahirlah bermacam bentuk ranjang, spring bed, beserta pabriknya, karyawannya dan seterusnya, kantuk menjadi berkah lebih dari sekedar sepet-sepet enak. Kantuk, menidurkan dan juga membangunkan.

Kantuk belum juga pergi dari mataku atau setidaknya berkurang, kantuk ini terlalu nikmat, entahlah, sepertinya aku sengaja membiarkan kantuk ini melakukan tugasnya lebih jauh.

Mengantuklah dengan bijak, jangan mengantuk saat mengendarai mobil, saat mengoperasi pasien, saat menulis puisi, saat membuat kebijakan soal jilbab kepala dan jilbab kelamin, sebab ada jutaan kepala dan jutaan alat kelamin terkantuk-kantuk nikmat di dalam mobil Indonesia  yang sedang ngebut di jalan demokrasi.
----------------------------------------------
Galuh Timur, Jawa Tengah

--Djenar Abunetti--
djenarabunetti@yahoo.com
Sent from Nokia Windows Phone.
Baca selengkapnya »

Permainan


Menurutku yang gamer, hidup itu hanya sebuah permainan, tentunya dalam permainan jenis apa pun tak boleh ada kecurangan dan taat pada aturan main yang berlaku. Mungkin saja menurut pelawak hidup itu lelucon, menurut penyair hidup itu puisi, menurut ekonom hidup itu soal untung rugi, menurut atlet hidup itu olah raga, menurut politisi hidup itu soal memilih, menurut hakim hidup itu soal memutuskan, menurut facebooker hidup itu status, dan menurut tukang service jam di pasar hidup hanya soal waktu. Itu hanya pandanganku yang gamer, tak lepas dari main-main, kamu boleh  ikut bermain-bermain, boleh juga serius.

Aku memang suka bermain-main, terlebih bermain dengan waktu, (mungkin lebih tepat mempermainkannya), dengan hidupku, meski seringkali waktu hendak membunuhku, bola waktu memantul keras mengenaiku, menyesakkan dadaku, tapi aku tetap bermain-main, karena aku seorang gamer. Hidupku permainanku, tentu bukan karena slogan iklan rokok jarum pentul itu yang memberiku semacam pembenaran, atau pun penguatan namun aku lebih suka sebuah dialog sebuah film yang entah apa judulnya dan aku menontonnya pada usia belasan, namun masih melekat kuat di ruang ingatan, "hidup akan lebih berarti jika berani menantang maut".

Ayo bermain, mainkan perananmu sebaik mungkin.
--------------------------------------
Galuh Timur, Jawa Tengah.

--Djenar Abunetti--
djenarabunetti@yahoo.com
Sent from Nokia Windows Phone
Baca selengkapnya »

Pekerjaan

Hujan selalu membawa banyak cerita meski tak selalu romantis, kadang cerita tragis muncul di belahan bumi yang lain, dan cerita konyol di tempat lainnya. Apapun yang diakibatkan hujan, hujan tetaplah berkah meski baliho caleg di perempatan jalan roboh menimpa mobil, meski kabel PLN putus kesabet dahan pohon yang patah, lalu travo meledak dan mati lampu semalaman, menyebabkan BTS telepon seluler kehilangan suplai listrik menyebabkan sinyal senin kamis, meski Jakarta tenggelam, hujan tetaplah (dianggap) berkah. Jika sudah seperti ini berkah dan bencana menjadi sulit dibedakan, bagiku berkah hanya sebuah kondisi, entah menurutmu.

Sekitar jam dua siang ketika itu hujan sangat deras dan tempat tidurku bertiga dengan teman sejawat di sebuah kios 4x6 meter di sebuah komplek BTN di kota Kadipaten, Jawa Barat bocor di sana-sini, niat tidur gagal total. Terdengar deru mesin motor matic berhenti di depan kios kami, "siapa hujan-hujan begini nyamperin, pak mentor pasti sudah molor di kantor", pikirku. Tak lama kemudian pintu sliding di ketuk dari luar, kusuruh temanku membukanya, lalu tampaklah dua perempuan basah kuyup dengan kaos putih tipis yang lekat di kulit putihnya dan pakaian dalam hitam nampak jelas. Hujan deras begini disuguhi pemandangan seperti ini rasanya sulit untuk menekan laju darah di mana setan ikut mengalir di dalamnya. Benar-benar ujian, imanku yang lebih tipis dari kaos perempuan itu semakin tipis dibuatnya.

Perbincangan singkat dengan hasil akhir sebuah alamat rumah yang tak jauh dari tempatku, hanya beberapa blok, dua perempatan dari tempatku.
"ayo Ndol kita ke sana", kataku. Semangatku membara mengalahkan hawa dingin akibat hujan yang semakin deras, sederas laju darahku. Hujan masih deras, dua perempuan muda pulang lebih dulu.

Sampailah kami di rumah dua perempuan tadi, diajak masuk dan diperlihatkan dapur yang nyaris seperti kolam renang, setelah naik turun ke atap maka aku berkesimpulan karena kemiringan atap yang tidak seimbang, ditambah talang yang hanya satu pembuangan untuk bentangan sejauh itu pun mampet, maka dapur tersebut menjadi kolam renang yang ada kompornya, karena 70% air masuk dan lantai dapur lebih rendah dari ruangan lainya. Ah aku sampai lupa dengan kaos tipis itu, pekerjaan selalu mengurangi juga menghindarkan hal-hal buruk dalam diriku.
--------------------------
Galuh Timur, Jawa Tengah.


--Djenar Abunetti--
djenarabunetti@yahoo.com
Sent from Nokia Windows Phone
Baca selengkapnya »

Kaos

Demi hidup tak perlu harus mati, demikian bunyi sebuah slogan yang tertulis di punggung kaos hitam "seragam" grup musik underground, entah grup apa, saya pun merasa tak perlu harus (cari) mati untuk sekedar tahu namanya, dan yang jelas saya  kesulitan memahami slogan tersebut, sepertinya saya butuh sekolah khusus slogan, jargon dan entah apa lagi.

Demi hidup tak perlu harus mati, di "alam kaos" sepertinya mudah, kita tak perlu mati-matian mempertahankan hidup, demikian yang terlintas dipikiran saya yang entah benar entah tidak. Dan lagi-lagi saya tak perlu harus (cari) mati sekedar untuk mempertahankan pendapat saya, sekilas seperti tak menghargai hidup, mudah menyerah, skeptis dan apatis (apa sih bedanya dua kata ini, asal nemplok biar dikira intelek).

Beda di "alam kaos" beda di "alam buruh", di alam buruh hidup harus diperjuangkan sampai titik darah paling ironi, mati di tangan saudara sendiri, saudara setanah air, yang jelas-jelas sama susahnya.

Maka jika kita merasa hidup tak lagi nyaman, aman apalagi sejahtera masuklah atau pindahlah ke "alam kaos", ya kaos mana saja.

Dan kupikir kita memang sebenarnya sudah di "alam kaos", kaos yang membuat kondisi chaos, kaos biru, kuning, merah dengan slogan atau jargon masing-masing yang sama susahnya dipahami, sebagaimana slogan grup musik underground.
-------------------------
Galuh Timur, Jawa Tengah.

--Djenar Abunetti--
djenarabunetti@yahoo.com
Sent from Nokia Windows Phone
Baca selengkapnya »

Kotak

Ada banyak kotak di sekitar kita, entah itu kotak amal, kotak suara, kotak saran dan lain-lain, dari sekian banyak kotak pastilah ada satu kotak yang paling menarik dan paling bagus menurut kita, meskipun sebenarnya mungkin agak mencong, atau menceng, atau malah tidak berbentuk kotak sama sekali.

Seringkali saya merasa bangga terhadap kotak yang saya miliki, dan condong menjelekan kotak milik orang lain, celakanya saya memandang kotak orang lain dari dalam kotak saya sendiri, kotak yang saya masuki penuh keyakinan bahwa ini kotak terbaik, penuh kebanggaan bahwa ini kotak yang paling sempurna meski saya tak pernah melihatnya dari luar kotak, artinya saya hanya berdasarkan "katanya". Saya perlu bercermin, jangan-jangan kepala saya juga berbentuk kotak hingga sering melahirkan pertanyaan "mengapa amal dikotak-kotak?, atau jangan-jangan karena suara kita sudah dikotak-kotakkan?

Kotak-kotak bertebaran semakin banyak, beranak pinak di muka bumi, menyempitkan pikiran dan menyebabkan lupa bahwa kotak hanyalah alat, sarana, instrumen dan seabrek istilah yang makin dipikir makin mengaburkan bahwa kotak hanyalah kotak bukan lingkaran, kerucut juga trapesium.

Ah, sepertinya saya butuh lebih banyak kotak saran, dan bukan baju bermotif kotak-kotak.
-------------------------------
Galuh Timur, Jawa Tengah.

--Djenar Abunetti--
djenarabunetti@yahoo.com
Sent from Nokia Windows Phone
Baca selengkapnya »

Sepatu



Langit diterangi kilatan-kilatan seperti lampu blitz, langkahku semakin terburu melewati truk-truk yang berbaris paralel, aku harus lebih cepat dari hujan, pikirku. Jalan semakin sempit saja, di sebelah kiri penuh parkiran dan sebelah kanan ada perbaikan saluran, entah pada ayunan yang keberapa, seribu, duaribu mungkin sepuluh ribu seekor kecoa melintas, "kreshh" sepatuku melindasnya, aku dan dia tak sempat saling menghindar,  mungkin dia pun sama denganku yang panik dan terburu-buru sebab kilatan-kilatan di langit.

Sang kecoa mati seketika, isi perut dan kepalanya keluar, terburai aku memandang kasihan sejenak sebelum melanjutkan ayunan kaki untuk menggenapkan langkahku hari ini. Langkahku mungkin genap hari ini di angka sepuluh ribu tapi mungkin langkah sang kecoa tidak, mungkin juga lebih, kami sama-sama tak yakin. Langkah sang kecoa berakhir di hitungan ke sekian di alas kakiku. Tapi dunia memang seperti itu, sepertinya harus ada yang mati meski tanpa alasan yang jelas seperti di tempat lain di mana manusia-manusia saling berbunuhan tanpa alasan yang masuk akal, seolah harus ada yang dibunuh meski hanya sekedar menuntaskan rasa jijik, jijik atas agamanya, ideologinya, bahkan hanya karena warna kulit yang jelas bukan kehendaknya. Seolah lebih rendah dari kecoa.

Kilatan cahaya masih menerangi langit Jakarta, kilatan yang membuatku dan kecoa sama-sama terburu menuju sepatu-sepatu.
-------------------------

Pasar Pagi, Jakarta.

--Djenar Abunetti--
djenarabunetti@yahoo.com
Sent from Nokia Windows Phone
Baca selengkapnya »

Pertanyaan

Ada banyak pertanyaan di dunia ini yang sering melintas di pikiran kita atau di sekitar kita, beberapa pertanyaan ada yang sudah terjawab dan lebih banyak lagi yang belum terjawab, sepanjang waktu pertanyaan demi pertanyaan datang silih berganti, dan mungkin saja salah satu tugas manusia di dunia ini adalah menjawab pertanyaan-pertanyaan tersebut baik yang ia ciptakan sendiri atau orang lain. Saat kita kecil pertanyaan kapan sekolah, kapan dikhitan menjadi pertanyaan biasa bagi orang dewasa tapi mungkin ada rasa yang berbeda bagi si anak kecil, takut, penasaran dan malah lebih ingin cepat mengalaminya. Pertanyaan demi pertanyaan terus menghampiri, kapan lulus, kapan tunangan, kapan nikah dan kapan kerja, kapan punya anak, kapan menantu dan segalanya terjawab begitu saja oleh waktu, atau kita yang menjawabnya? dan kita sendiri seperti lupa terhadap pertanyaan-pertanyaan itu sendiri dan sadar atau tidak kita mewariskan banyak pertanyaan serupa di generasi berikutnya. Seolah tanpa pertanyaan-pertanyaan tersebut kita tak bisa hidup, atau memang hidup itu sebuah pertanyaan?

Hanya pertanyaan kapan mati? Yang tidak terlontar dari bibir kita, karena memang kita menghendaki lebih banyak pertanyaan lagi, lagi dan lagi meski terkadang kita mengeluh menjawab pertanyaan yang semakin sulit dari waktu ke waktu, seperti ujian kenaikan kelas, kelulusan sampai interview di tempat kerja. Dan konon menurut ajaran sebuah agama manusia yang mati dan di dalam kubur pun tak lolos dari serangkaian pertanyaan untuk uji kelayakan masuk surga atau masuk neraka.

Malu bertanya sesat di jalan, banyak bertanya jelas mengesalkan, tetapi sepertinya kita memang hidup dari pertanyaan, di atas pertanyaan dan untuk pertanyaan. Orang-orang besar mulai bertanya sejak berabad-abad yang lalu "dari mana kita berasal, untuk apa kita di sini, dan kemana setelahnya", dan bukankah apa yang kita genggam juga berasal dari pertanyaan "bagaimana agar kita bisa berkomunikasi dengan mudah, cepat dan murah?", maka muncul jawaban seperti handphone, phablet, smartphone dan sejumlah aplikasi turut menjawab keresahan tentang sebuah jarak. Maka, bertanyalah tentang hal-hal besar seperti halnya orang-orang besar.

Bertanya pada peramal, pembaca garis "takdir" tangan dukun, atau paranormal mungkin salah satu upaya manusia dalam rangka menjawab pertanyaan-pertanyaan yang ada dalam benaknya, siapa aku? Mengapa aku? Bagaimana aku dan seterusnya yang pada akhirnya akan mendatangkan berbagai pertanyaan baru, lalu untuk apa semua ini? Hidup memang tanda tanya.
-------------------------------------------------
Pasar Pagi, Jakarta


--Djenar Abunetti--
djenarabunetti@yahoo.com
Sent from Nokia Windows Phone
Baca selengkapnya »

Sia-Sia

Sia-sia saja sejak tadi saya mencoba menulis catatan namun gagal, saya kesulitan sekali menggali perbendaharaan kata, tema atau ide tulisan. Tapi saya tak ingin kesia-siaan tersebut benar-benar terwujud dengan tak ada catatan yang benar-benar jadi, maka kesia-siaan itu sendiri yang ingin saya catat sore ini, sebelum "kesi-siaan" tersebut benar-benar sia-sia, tanpa jejak. Agar kalimat "tak ada yang sia-sia" semakin mengukuhkan kebenarannya, setidaknya saya membuktikannya sore ini.

Tapi mungkin bagi orang lain yang membaca catatan ini akan merasa benar-benar sia-sia karena memang tulisan ini hanya sebuah pelarian membunuh waktu. Dan kita memang ada dalam alam "sia-sia", tempenesia, vickynesia, tahunesia, kedelainesia, keledainesia dan segudang "sia-sia" lain yang kadang memalukan juga mungkin memilukan di sisi yang lain bagi rakyat Indonesia.

Dan kali ini saya merasa tidak sia-sia setelah berhasil mengumpulkan beberapa kata yang berujung "sia-sia" dengan memaksanya berbaris rapi seperti "kesia-siaan" yang terjadi pada beberapa hari ini di bumi Indonesia.
----------------------------------------------
Jakarta, Pasar Pagi.

--Djenar Abunetti--
djenar.abunetti@gmail.com
Sent from Nokia Windows Phone.
Baca selengkapnya »

Tempenesia

Akhir-akhir ini bangsa yang biasa disebut bangsa tempe kelimpungan dikarenakan mahalnya harga makanan yang terlihat sepele, berbahan dasar kedelai, dari manusia sampai keledai  banyak peminatnya, TEMPE. Tapi entah keledai yang mana membuat harga kedele melambung tenggeeeee sekaleee menyebabkan pengrajin tempe kecele, penikmatnya hanya bisa "mele-mele" atau mejulur-julurkan lidah karena harganye melamboeng tenggeee.

Sudah seharusnya bangsa Tempenesia bangga dengan produk lokal bernama tempe ini, siapa sangka makanan yang diklaim makanan orang kere ini membuat negara yang besar kepala ini tampak jadi lebih kecil dan tak berdaya hanya karena tempe, dan memble. Mungkin nanti muncul ideologi tempeisme atau semacam gerakan spiritual, moral atau malah sebatas oral yang akan memperjuangkan nasib bangsa tempenesia, mulai dari petani kedelai sampai pengrajin tempe (perajin atau pengrajin ya?)

Tempenesia yang sekarang memang berbeda dengan tempenesia yang dulu, sampai-sampai ada artis cilik dadakan bernama Tempe Satria menyanyi yang liriknya "tempe dulu bukanlah tempe yang sekarang.....sekarang alhamdulillah"
--------------------------------------------------
Pasar Pagi, jakarta Barat


--Djenar Abunetti--
djenarabunetti@yahoo.com
Sent from Nokia Windows Phone
Baca selengkapnya »

Buntu

Otak saya sedang buntu, mandek, atau mungkin sedang kram akan tetapi saya ingin melanjutkan catatan tentang otak buntu yang saya alami, barangkali saja ada sesuatu dalam kebuntuan tersebut seperti fatwa bijak "di dalam kemandekan ada kelancaran". Buntu atau mentok memang tak enak, cobalah ngebut di gang atau jalan buntu lebih-lebih sakit usus buntu, saya sama sekali tak menginginkannya maka di sinilah saya menemukan nikmatnya otak buntu.

Sejenak saya terdiam mengikuti riak-riak pikiran sebab pikiran (air) beriak tanda tak dalam kata petuah dan lagi-lagi saya harus menconteknya dan memplesetkannya semau saya, ini akibat terlalu banyak membaca petuah, untung saja saya masih mampu menahan muntah. Kedangkalan saya semakin jelas, nah, di kedangkalan tersebut saya tenggelam, tenggelam memaknai apa itu dalam?, apa itu dangkal?. Jika kosong adalah isi dan isi adalah kosong lantas bolehkah saya memaksa memaknai dalam itu dangkal dan dangkal itu dalam, bagus itu jelek dan jelek itu bagus dan seterusnya. Lalu apa gunanya rumus-rumus yang sedemikian njlimet untuk kehidupan ini, bukankah hidup itu sederhana? Atau sederhana itu njlimet?

Otak saya semakin buntu, saya menyerah pada diri saya sendiri, pada rumus yang menurut saya sangat "nggedabrus" (bohong besar) bahwa hidup ini begini, hidup itu begitu. Lalu apa gunanya kita memperdebatkan sebuah makna hidup? Apakah makna hidup itu lebih penting dari hidup itu sendiri?
-----------------------------


--Djenar Abunetti--
djenarabunetti@yahoo.com
Sent from my Nokia
Baca selengkapnya »