05/01/2014
6:57
Pagi ini saya ingin menulis sesuatu yang baru meski tak tahu tentang apa, tapi keinginan tersebut terus bergerak dalam tempurung kepala seperti gadis yang menagih janji-janji pria-pria buaya, merengek tapi sulit terkabul. Mungkin karena saya biasa berbohong maka pagi ini di tagih oleh pikiran saya sendiri untuk menulis catatan sebelum pukul tujuh pagi, atau paling lambat setengah delapan, sebab jam delapan sudah harus memakai seragam tempur.
Belajar mengetik cepat hasilnya nanti saja dilihat kalo sudah capek, yang penting terus menulis, menulis dan menulis tanpa henti dan lupakan hasilnya. Tak penting, ini penting, sangat penting. Karena saya harus bisa melakukannya, ya menulis banyak tanpa perlu memikirkan konsep menulis seperti para penulis sesungguhnya. Ini harus jadi kebiasaan setiap pagiku, atau kapan saja setiap ada kesempatan tak peduli di kakus atau di restoran menulis harus jadi sama pentingnya dengan meminum teh atau kopi, harus dinikmati, diresapi. Ah, enak sepertinya, ya sepertinya.
Tapi itu sekedar ingin. Akan tetapi saya harus merasa lega, sekedar ingin biasa dilakukan banyak orang, ingin tapi tak melakukan apa-apa, artinya saya tak sendiri, tak perlu malu. Tuhan pun malas sepertinya dengan orang sepertiku, artinya Tuhan juga malas mengabulkan keinginan saya yang hanya sekedar ingin. Sekedar ingin memang mudah, tak perlu bergerak apalagi bermodal uang, cukup angan-angan, tinggal menyeduh kopi menyalakan sebatang rokok dan merawang ke langit berharap Tuhan lupa dan salah mengabulkan doa atau usaha seseorang dan memberikan hasilnya kepada kita.
Sekedar ingin dan ingin sekedar, sepertinya tak jauh berbeda meski dibalik penempatan katanya, sebelas duabelas. Ingin sekedar dan sekedar ingin kalau saya pikir artinya seperti sama-sama tak serius, entah menurutmu. Nah, yang ini serius.
--------------------------------------
Rawa Buaya, Jakarta
--Djenar Abunetti--
djenar.abunetti@gmail.com
Sent from Nokia Windows Phone.
6:57
Pagi ini saya ingin menulis sesuatu yang baru meski tak tahu tentang apa, tapi keinginan tersebut terus bergerak dalam tempurung kepala seperti gadis yang menagih janji-janji pria-pria buaya, merengek tapi sulit terkabul. Mungkin karena saya biasa berbohong maka pagi ini di tagih oleh pikiran saya sendiri untuk menulis catatan sebelum pukul tujuh pagi, atau paling lambat setengah delapan, sebab jam delapan sudah harus memakai seragam tempur.
Belajar mengetik cepat hasilnya nanti saja dilihat kalo sudah capek, yang penting terus menulis, menulis dan menulis tanpa henti dan lupakan hasilnya. Tak penting, ini penting, sangat penting. Karena saya harus bisa melakukannya, ya menulis banyak tanpa perlu memikirkan konsep menulis seperti para penulis sesungguhnya. Ini harus jadi kebiasaan setiap pagiku, atau kapan saja setiap ada kesempatan tak peduli di kakus atau di restoran menulis harus jadi sama pentingnya dengan meminum teh atau kopi, harus dinikmati, diresapi. Ah, enak sepertinya, ya sepertinya.
Tapi itu sekedar ingin. Akan tetapi saya harus merasa lega, sekedar ingin biasa dilakukan banyak orang, ingin tapi tak melakukan apa-apa, artinya saya tak sendiri, tak perlu malu. Tuhan pun malas sepertinya dengan orang sepertiku, artinya Tuhan juga malas mengabulkan keinginan saya yang hanya sekedar ingin. Sekedar ingin memang mudah, tak perlu bergerak apalagi bermodal uang, cukup angan-angan, tinggal menyeduh kopi menyalakan sebatang rokok dan merawang ke langit berharap Tuhan lupa dan salah mengabulkan doa atau usaha seseorang dan memberikan hasilnya kepada kita.
Sekedar ingin dan ingin sekedar, sepertinya tak jauh berbeda meski dibalik penempatan katanya, sebelas duabelas. Ingin sekedar dan sekedar ingin kalau saya pikir artinya seperti sama-sama tak serius, entah menurutmu. Nah, yang ini serius.
--------------------------------------
Rawa Buaya, Jakarta
--Djenar Abunetti--
djenar.abunetti@gmail.com
Sent from Nokia Windows Phone.

0 comments:
Posting Komentar