Elpiji

Siapa yang tak pernah mendengar makanan bernama sastra dan gas elpiji 12kg? Dua jenis makanan ini sangat mahal, hanya orang-orang tertentu saja yang mengonsumsi dua jenis makanan ini. Sastra umumnya dikonsumsi oleh orang-orang "kaya otak" dan elpiji 12kg dikonsumsi oleh orang yang "berotak kaya", atau yang kaya sungguhan, bukan yang pura-pura kaya dan status facebooknya suka chek in di restoran siap saji padahal makan di warteg, jadi jelas sudah dua makanan ini memang bukan makanan orang dobel miskin seperti saya, miskin otak juga miskin duit.

Maka menjadi wajar di kelas bawah seperti saya tak peduli mau kemana arahnya jalan kesusastraan tersebut menyangkut gonjang ganjing soal pengaruh, mempengaruhi dan dipengaruhi di antara tim delapan dan tigapuluh tiga tokoh. Yang jelas "kagak ngaruh" sama harga beras. Juga soal mau masuk ke dapur mana, atau dapur siapa tabung gas tersebut tidak ada pengaruhnya, rakyat tetep susah. Orang miskin selalu lapar, lapar mengarahkan pikiran ke soal perut dan makanan, bukan bahasa bukan pula tabung gas. Apa pun masalahnya dengan sastra dan seberapa pun gentingnya, beras dan telor tetap di atas urusan bahasa bernama sastra. Atau jangan-jangan puisi memang tak mampu masuk ke dalam kehidupan?. Apa maksudnya "kehidupan adalah puisi, dan puisi adalah kehidupan"? Yang kurang lebihnya seperti itu, yang saya dengar namun lupa siapa pengujarnya karena memang saya tak paham dengan dunia sastra yang menyilaukan tersebut.

Lain harga puisi lain pula harga elpiji yang naik tak kira-kira. Tapi sepertinya murni politis yang memang sudah direncanakan di tahun politik, salah satu tujuannya untuk mengurangi popularitas capres bernama Farhat Abbas. Separuh penduduk Indonesia tahu Farhat bermusuhan dengan keluarga Al, El meski hanya di twitter. Kali ini Farhat diadu dengan Elpiji, tanpa taruhan, dan sorak-sorai bergembira dari tim lawyer hora-hore yang makan tak cukup tempe. Dan kali ini Farhat dikalahkan Elpiji tanpa perlu menyeret banyak pihak yang ingin numpang tenar dalam kasus anak-anak papan atas dan melupakan kasus anak-anak yang sesungguhnya, anak-anak yang busung lapar dan kurang gizi. Tak ada komnas Elpiji yang bersuara.

Elpiji dan puisi sama-sama berpengaruh di kepala rakyat, yang satu mempengaruhi kerja otak kanan, yang satu otak kiri tapi tentu bukan rakyat miskin. Dan tentu tidak ada pengaruhnya bagi dengkul tukang becak, tidak akan jadi ringan beban si bapak dalam mengayuh becak mengejar laju kebutuhan yang semakin jauh hanya karena dibacakan puisi. Tapi memang puisi karya Pertamina yang berkolaborasi dengan Demokrat terbukti lebih ampuh dari puisinya penyair ini atau penyair itu, setidaknya dalam soal pengaruh. Pengaruh buruk atau pengaruh baik lain soal.

Eja[kal]kulasi Denny JA memang bikin tak puas penikmat pisang goreng, Dahlan pun berujar ini salah saya, semua salah saya. Sedangkan kalkulasi harga dan berat puisi 12kg tak seimbang di kepala penikmat sajak, negara ini memang penuh keajaiban, penyair dan gas elpiji sama-sama bisa menguap, mengangkasa tak terjangkau juga tak menjangkau, selain sama-sama menyilaukan. Ada tarik menarik, tarik ulur dan tarik kuat-kuat kemudian dilepaskan di saat yang lain menarik lebih kencang, seperti tarik tambang saat dilepaskan yang lain terjengkang. Siapa pun yang menang dalam dua kasus tersebut rakyat belum tentu kenyang. Dan sayang memang sepertinya kita sudah tak lagi memiliki bahasa yang menenangkan untuk perut yang tak kenyang.
------------------------------------------------------
Rawa Buaya, Jakarta

--Djenar Abunetti--
djenar.abunetti@gmail.com
Sent from Nokia Windows Phone.

0 comments: