Di Terowongan

12/01/2014
15:16

Seusai membeli buku bekas Jalan Pintu Kecil, Pasar Pagi lama aku ke Kota Tua sekitar jam dua siang dan tidur di terowongan yang penuh orang berlalu lalang, terowongan yang menghubungkan halte busway dan stasuin kereta Kota Tua. Terowongan yang selalu menggemakan bunyi apa saja, bunyi penutup pembuangan air dari beton atau bak kontrol karena penempatan yang tidak seimbang menjadi suara paling keras gemanya, lebih keras  dari suara langkah kaki, langkah berbagai sepatu dan langkah berbagai tujuan yang bertemu di terowongan. Terowongan yang akan selalu kukenang, sebab memberiku perlindungan dari cuaca.

Hujan masih samar-samar terlihat rintiknya di atas kolam berair mancur, cuaca cukup dingin untuk kota Jakarta, di siang ini ada banyak doa melangit semoga tidak banjir atau mungkin sekedar doa semoga jemuranku kering. Semua jenis doa dilangitkan. Namun hujan tetap saja turun tak peduli celana dalam siapa yang belum terangkat. Aku masih terkantuk-kantuk, setiap kali terbangun wajah-wajah di kanan kiriku menatap aneh, wajah-wajah yang singgah untuk tetap bisa melangkah. Lantai yang dingin seperti menambah kaku punggungku, dan tentu saja ngilu di kaki.

Pedagang uli, pedagang kopi, pedagang pernak-pernik ponsel dan rujak tumbuk ikut menggemakan suara-suara batin yang tertekan, menekan gemuruh air mancur yang terpancar sepanjang hari di lingkaran terowongan, persimpangan dari berbagai tujuan, persimpangan perpisahan sepatu-sepatu, perisahan celana jeans dan legging, high heels dan sepatu boot. Perpisahan dan pertemuan selalu ada di sini, atau bisa juga perpisahan dan pertemuan terjadi di atas sana, di halte busway, atau stasiun kereta. Meski terkadang tanpa peluk dan cium, atau malah senyum getir.

Aku masih terkantuk-kantuk kemudian tidur lagi dengan berbantal buku-buku omong kosong sosial politik dan ekonomi, ah mengapa dunia harus serumit ini kalau hanya sekedar tidur nyenyak yang diinginkan? Tentu ada yang lebih diinginkan dari itu. Tapi aku tak paham arah laju dunia, laju peradaban yang semakin aneh di mataku, di pikiranku. Atau mungkin saja aku sudah tak waras akibat terlalu banyak melihat kenyataan yang menyesakan, yang menyempitkan harapan. Tapi toh dunia tetap melaju, meski ada berbagai pertemuan dan perpisahan di terowongan, jalan kehidupan.

Gadis-gadis tertawa riang, dalam pelukan gadget buatan China dan berbisik, "Bawalah aku kemana saja bersamamu, don't leave me alone" seperti dialog roman-roman yang terlalu sering kubaca dan membosankan, jangan-jangan roman-roman itu nyata adanya. Betis bertato melintas di bawah rok mini dan sepatu kulit imitasi semata kaki dalam balutan bulu-bulu yang jarang melitas di ujung hidung. Mata tukang rujak tumbuk kali ini lebih berbinar dari biasanya, saat betis bertato memesan rujak, "Satu ya bang, jangan pedes-pedes."

Aku harus pergi dari sini, dari terowongan kota yang selalu menjanjikan kenyamanan tanpa pernah terwujud, janji-janji kota, janji-janji kemajuan dan kemanusiaan yang sama kosongnya dengan buku-buku loakan. Kota ini terlalu menyesakkan, memilukan dan penuh kemuraman seperti novel-novel horor murahan.

Aku belum terjaga sepenuhnya ketika loyalis, kadalis dan juga fundamentalis saling berebut kue lapis, kue yang akan selalu mendatangkan lalat-lalat menjijikan tanpa pernah tahu caranya berbagi seperti anak-anak di ujung sana, anak-anak yang dipaksa bekerja oleh orang tuanya menjaga ratusan pasang sandal, anak-anak yang kehilangan masanya di tengah ratusan pasang langkah yang bergairah, pasrah dan juga meyerah pada kenyataan.
-----------------------------------------------------
Terowongan Kota Tua, Kota Tua, Jakarta.


--Djenar Abunetti--
djenar.abunetti@gmail.com
Sent from Nokia Windows Phone.

0 comments: