Witing tresno jalaran soko kuliner, kalau mau menyatakan cinta atau nembak cewek maka sering sering saja diajak makan, dijamin tekor meski cinta belum tentu bersambut sesuai harapan. Witing tresno jalaran soko kuliner, cinta tumbuh karena seringnya sarapan bareng lunch bareng atau pun dinner bareng. Entah bareng keluarga atau bareng selingkuhan, yang penting bareng.
Kuliner, saya tidak tahu arti harfiah dari kata kuliner ini. Saya hanya merasa cocok memplesetkan kata yang saya rasa pas di ujung lidah saya dari kulino ke kuliner. Tapi gejala kuliner-kulineran ini memang sepertinya ada sejak dulu apalagi sekarang dengan adanya media sosial kita bisa tahu siapa saja yang ada janji makan-makan, entah makan makanan atau malah makan angin bukan urusan saya. Apalagi urusan tempatnya, tabu rasanya kalau menanyakan mau pada kemana kalian? Sedangkan kenal betul saja tidak.
Kuliner-kulineran yang kulino jadi tresno memang makan biaya, tapi cinta memang perlu biaya besar seperti halnya perang. Dan cinta memang urusan perang, perang sebuah hasrat yang menuntut dinyatakan atau tidak, dengan kuliner tersebut ada harapan lebih ringan dalam menyatakan cinta yang seringkali nyangkut di tenggorokan, meski tetap saja ada pertaruhan di meja makan, apakah dia tersedak mendengar "tembakan" dan berhenti makan karena selera jadi berubah atau berhenti makan karena langsung jaga image takut dibilang "kamu makanya banyak, pantesan melar". Meja makan tak ubahnya medan perang dalam kondisi ini, pulang bahagia atau pulang kecewa. Bisa-bisa berangkat bareng pulang sendiri-sendiri.
Tresno jalaran soko kuliner, kalau tak siap modal jangan bercinta. Tapi bukan berarti tak bercinta lantas tak perlu modal, jika cinta sama dengan urusan perang bukan artinya kalau tidak perang lantas tak boleh membeli alutista. Cinta dan perang soal kedaulatan. Kalau Indonesia saja yang jarang perang membeli tank Leopard dari Jerman meski bekas maka cinta juga mestinya punya "dana strategis" yang mesti siap kapan saja untuk digunakan berperang di meja makan. Selamat berakhir pekan.
-----------------------------------------
Rawa Buaya, Jakarta.
--Djenar Abunetti--
djenarabunetti@yahoo.com
Sent from Nokia Windows Phone
Kuliner, saya tidak tahu arti harfiah dari kata kuliner ini. Saya hanya merasa cocok memplesetkan kata yang saya rasa pas di ujung lidah saya dari kulino ke kuliner. Tapi gejala kuliner-kulineran ini memang sepertinya ada sejak dulu apalagi sekarang dengan adanya media sosial kita bisa tahu siapa saja yang ada janji makan-makan, entah makan makanan atau malah makan angin bukan urusan saya. Apalagi urusan tempatnya, tabu rasanya kalau menanyakan mau pada kemana kalian? Sedangkan kenal betul saja tidak.
Kuliner-kulineran yang kulino jadi tresno memang makan biaya, tapi cinta memang perlu biaya besar seperti halnya perang. Dan cinta memang urusan perang, perang sebuah hasrat yang menuntut dinyatakan atau tidak, dengan kuliner tersebut ada harapan lebih ringan dalam menyatakan cinta yang seringkali nyangkut di tenggorokan, meski tetap saja ada pertaruhan di meja makan, apakah dia tersedak mendengar "tembakan" dan berhenti makan karena selera jadi berubah atau berhenti makan karena langsung jaga image takut dibilang "kamu makanya banyak, pantesan melar". Meja makan tak ubahnya medan perang dalam kondisi ini, pulang bahagia atau pulang kecewa. Bisa-bisa berangkat bareng pulang sendiri-sendiri.
Tresno jalaran soko kuliner, kalau tak siap modal jangan bercinta. Tapi bukan berarti tak bercinta lantas tak perlu modal, jika cinta sama dengan urusan perang bukan artinya kalau tidak perang lantas tak boleh membeli alutista. Cinta dan perang soal kedaulatan. Kalau Indonesia saja yang jarang perang membeli tank Leopard dari Jerman meski bekas maka cinta juga mestinya punya "dana strategis" yang mesti siap kapan saja untuk digunakan berperang di meja makan. Selamat berakhir pekan.
-----------------------------------------
Rawa Buaya, Jakarta.
--Djenar Abunetti--
djenarabunetti@yahoo.com
Sent from Nokia Windows Phone

0 comments:
Posting Komentar