Kondom

Omong-omong soal kondom nih; dari mana datangnya kondom? Bisa dari mata turun ke hati, bisa juga dari pabrik (fee) turun ke Bu Menteri. Akan tetapi kenapa kampanye kondom justru lebih banyak ke kampus-kampus? Bukan di sekitar Bu Menteri dulu membaginya‬ apa maksudnya?? Sepertinya Ibu Menteri curiga di kampus banyak ayamnya, atau yang lebih parah Bu Menteri menganggap kampus seperti lokalisasi, pelecehan benar.

Tapi saya sedikit bingung, yang bagi-bagi kondom wanita yang komplain juga kebanyakan wanita (di timeline facebook saya loooh) ada apa dengan wanita? Apa karena wanita ingin dimengerti, atau karena tak suka penis pakai kondom? Ah, entahlah mari kita tanyakan pada kondom yang bergoyang.

Mahasiswinya sudah hamil pekan kondom nasionalnya baru digelar, eh‬ siapa yang telat? Yang telat banyak, bisa kereta, angkot, bisa penyair, bisa mahasiswi bisa juga Bu Menteri, pastinya sih otak kuli-ku lebih telat tapi yang jelas tidak ada yang lebih diuntungkan selain produsen kondom dari acara Pekan Kondom Nasional kemarin yang katanya batal. Dan setahuku "burung" itu atheis, tidak perlu disuruh pakai sarung, peci, atau jilbab juga surban.

Selamat petang rakyat republik kondom, untung tak dapat diraih malang tak dapat ditolak, bukan sesuatu yang mustahil jika nanti ada kosakata baru semisal "mengondomi hati"  lebih baik dari mengondomi kelamin sebagai perimbangan atas kritik terhadap kondomisasi nasional, seperti istilah "menjilbabi hati" lebih penting dari menjilbabi kepala, kalimat yang sering saya dengar di penolakan-penolakan kasus jilbab. Dan ledekan khas "atas kerudung bawah warung", akan beradu dengan "atas surban bawah kondom", sebagai balasan kaum hawa.

Maghrib sudah menjelang, lupakan sejenak persoalan yang sekenyal latex, mari mengondomi hati dengan ayat-ayat suci, atau untuk yang beragama syahwat jilbabilah selalu kelaminmu sebelum beribadah di lokalisasi.
--------------------------------------------
Galuh Timur, Jawa Tengah.

--Djenar Abunetti--
djenarabunetti@yahoo.com
Sent from Nokia Windows Phone.

0 comments: