Dengan terkantuk-kantuk saya menulis catatan ini hanya untuk mengurangi rasa kantuk itu sendiri, rasa yang menjadikan mata serasa sepet-sepet enak tapi tidak seperti teh, betul hanya soal kantuk, tak lain dan tak bukan, tidak ada hubungannya dengan demo kasus dokter cantik, malpraktik penyair ganteng atau kasus guru seksi, atau juga soal pekan kondom, jilbabisasi polwan. Asli hanya soal kantuk, atau mengantuk.
Kantuk, atau mengantuk salah satu nikmat yang sering dilupakan, tak jarang pula malah sering disalahkan, pernah baca berita mobil nabrak dan kantuk dituduh sebagai biang keroknya? Kantuk seperti hadir di tempat dan waktu yang salah dan menyebabkan orang lain atau sang sopir itu sendiri mengalami lebih dari ngantuk dan ngorok akibat sang supir mengantuk. Kantuk sering dituduh sedemikian rupa tanpa diberi kesempatan membela diri. Kasihan nasib kantuk, ia hanya menjalankan tugasnya, dan sejauh ini lebih berhasil dari secangkir kopi, atau minuman suplemen.
Dari situlah mungkin ide untuk menyelamatkan kantuk terlahir dan sejak saat itu pemilik jalan menghimbau dengan spanduk besar atau baliho "NGANTUK ISTIRAHATLAH", dan menyediakan rest area. Dari kantuk dan kawan-kawannya terlahir banyak pekerjaan, tukang pijat, tukang kopi, tukang donat sampai teman ngantuk (teman mengantuk-antukan sesuatu) sampai kelelahan dan tertidur.
Dari kantuk, mengantuk maka lahirlah bermacam bentuk ranjang, spring bed, beserta pabriknya, karyawannya dan seterusnya, kantuk menjadi berkah lebih dari sekedar sepet-sepet enak. Kantuk, menidurkan dan juga membangunkan.
Kantuk belum juga pergi dari mataku atau setidaknya berkurang, kantuk ini terlalu nikmat, entahlah, sepertinya aku sengaja membiarkan kantuk ini melakukan tugasnya lebih jauh.
Mengantuklah dengan bijak, jangan mengantuk saat mengendarai mobil, saat mengoperasi pasien, saat menulis puisi, saat membuat kebijakan soal jilbab kepala dan jilbab kelamin, sebab ada jutaan kepala dan jutaan alat kelamin terkantuk-kantuk nikmat di dalam mobil Indonesia yang sedang ngebut di jalan demokrasi.
----------------------------------------------
Galuh Timur, Jawa Tengah
--Djenar Abunetti--
djenarabunetti@yahoo.com
Sent from Nokia Windows Phone.
Kantuk, atau mengantuk salah satu nikmat yang sering dilupakan, tak jarang pula malah sering disalahkan, pernah baca berita mobil nabrak dan kantuk dituduh sebagai biang keroknya? Kantuk seperti hadir di tempat dan waktu yang salah dan menyebabkan orang lain atau sang sopir itu sendiri mengalami lebih dari ngantuk dan ngorok akibat sang supir mengantuk. Kantuk sering dituduh sedemikian rupa tanpa diberi kesempatan membela diri. Kasihan nasib kantuk, ia hanya menjalankan tugasnya, dan sejauh ini lebih berhasil dari secangkir kopi, atau minuman suplemen.
Dari situlah mungkin ide untuk menyelamatkan kantuk terlahir dan sejak saat itu pemilik jalan menghimbau dengan spanduk besar atau baliho "NGANTUK ISTIRAHATLAH", dan menyediakan rest area. Dari kantuk dan kawan-kawannya terlahir banyak pekerjaan, tukang pijat, tukang kopi, tukang donat sampai teman ngantuk (teman mengantuk-antukan sesuatu) sampai kelelahan dan tertidur.
Dari kantuk, mengantuk maka lahirlah bermacam bentuk ranjang, spring bed, beserta pabriknya, karyawannya dan seterusnya, kantuk menjadi berkah lebih dari sekedar sepet-sepet enak. Kantuk, menidurkan dan juga membangunkan.
Kantuk belum juga pergi dari mataku atau setidaknya berkurang, kantuk ini terlalu nikmat, entahlah, sepertinya aku sengaja membiarkan kantuk ini melakukan tugasnya lebih jauh.
Mengantuklah dengan bijak, jangan mengantuk saat mengendarai mobil, saat mengoperasi pasien, saat menulis puisi, saat membuat kebijakan soal jilbab kepala dan jilbab kelamin, sebab ada jutaan kepala dan jutaan alat kelamin terkantuk-kantuk nikmat di dalam mobil Indonesia yang sedang ngebut di jalan demokrasi.
----------------------------------------------
Galuh Timur, Jawa Tengah
--Djenar Abunetti--
djenarabunetti@yahoo.com
Sent from Nokia Windows Phone.

0 comments:
Posting Komentar