Tampilkan postingan dengan label Daily. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Daily. Tampilkan semua postingan

Sepertiku

11/01/2014
20:38

Sekarang apa? Sekarang sudah hari sabtu, besok libur sekarang sudah saatnya menulis catatan harian lagi, belanja mingguan sudah, makan sudah, main game juga sudah, cuma baca buku aja yang belum. Lagi malas baca itu saja, tak butuh alasan banyak dan omong kosong ini itu. Omong kosong tak perlu banyak, omong kosong tak perlu dibukukan, didiskusikan apalagi dijual, simpan saja di hati masing-masing barangkali nanti kalau sudah bukan omong kosong lagi dan layak jual, layak makan atau layak pakai maka omong kosong baru dinilai penting.

Omong kosong memang mudah, asal masih punya mulut, bisa bicara banyak dan sedang tidak sariawan. Omong kosong sekarang lagi ngetrend. Atau malah aku yang tak menyadari aku juga suka banyak omong kosong? Ah ini juga omong kosong kok, tapi masa iya semua harus dinilai omong kosong? Kasihan yang betul-betul ngomong tak asal bunyi, artinya tak sekedar mangap, buka mulut lalu tidur lagi. Nah kalau itu yang terjadi namanya ngigau. Ngigau biasanya membawa peristiwa sehari-hari, umpamanya siang hari ketemu cewek lalu kenalan dan dalam tidur mimpi ketemu lalu memanggil namanya. Itu bahaya. Mengigau memang membahayakan rahasia perusahaan dan rahasia rumah tangga terlebih yang tinggal di rumah petak 3x4 meter, suara bisa kemana-mana sementara kita tak menyadarinya. Pernah mengigau? Kalau belum maka cobalah mengigau, dan bukukan kemudian dijual barangkali namamu akan jadi tenar dan berpengaruh di dunia per-igauan Indonesia atau dunia.

Balik lagi ke omong kosong yang mirip igauan dan sama berbahayanya, ngomong kosong dan mengigau sama-sama tak tahu apa yang diucapkan apa yang dikatakan, hanya kadang-kadang saja sebagian orang yang sedang mengigau tersebut bangun dan mendengar suara sendiri dan sadar "oh aku mengigau rupanya", tengak-tengok, minum air putih dan tidur lagi. Omong kosong juga begitu, hanya ada di alam sadar, tentu sadar dan kesadaran dua hal yang berbeda.

Banyak buku berisi omong kosong, banyak acara tivi juga berisi omong kosong, omong kosong sudah menjalar di mana-mana, omong kosong sudah jadi kebutuhan. Reporter tivi pagi buta bagi-bagi omong kosong yang tak perlu, mestinya sepagi itu bagi-bagi sarapan, bubur kacang hijau atau kopi sama ubi rebus ini malah disuguhi bualan yang bikin mual perut yang belum terisi. Tentu rugi buatku kalau pagi-pagi disuruh mendengar atau melihat acara omong kosong dengan menikmati kopi dengan membelinya sendiri dan listrik bayar sendiri. Anehnya jadi tradisi, dan mereka bilang ini loh modern, ini loh cara hidup masa kini, ini loh gaya hidup masa depan. Tapi yang jelas aku masa bodoh. Ah, jangan-jangan reporter itu sedang mengigau, sepertiku.
---------------------------------------------
Angke, Jakarta Barat.


--Djenar Abunetti--
djenar.abunetti@gmail.com
Sent from Nokia Windows Phone.
Baca selengkapnya »

Catatan Buruk


Serasa ada yang ingin membuat kepalaku meledak, entah apa, mungkin saya perlu mengeluarkannya dengan sebutir peluru agar kepalaku berlubang dan sesuatu itu mengalir tak menyisakan segala yang memberatkan kepalaku, tapi seberapa berani saya melakukannya? Atau saya perlu orang lain yang melakukannya? Pak polisi misalnya, atau pak penjahat bersenpi? Atau malah keduanya sama saja? Entahlah, barangkali hanya baju yang membedakannya atau memang keduanya benar-benar beda, saya tak peduli kedua-duanya.

Barangkali saja setelah kepalaku berlubang dari kiri ke kanan atau sebaliknya dan mirip terowongan saya bisa melihat sesuatu yang bergerak, berputar dan berlari dalam kepalaku dan setelah itu mengambilnya, menyimpannya dan menguncinya rapat-rapat dalam kotak, atau menghanyutkannya ke sungai kemudian lupa tentang segalanya.

Sepertinya terdengar gila atau jangan-jangan saya sudah benar-benar gila, tapi saya harus percaya ini sesuatu yang biasa dialami banyak orang dan saya memerlukan alat, sarana atau perkakas untuk "mengambil" sesuatu di dalam kepala saya tersebut meski tak harus berupa peluru dan kemudian benar-benar menghanyutkannya isi kepala tersebut ke sungai.

Ini hanya soal memilih dan menentukan, sesuatu yang biasa saya gunakan untuk mengeluarkan isi kepala yang membuncah itu biasanya sebuah pensil dan kertas. Dan ketika saya akan mengeluarkan sesuatu yang buruk dari dalam tempurung kepala dan akan meledak saya menggunakan kertas bekas, atau sesuatu yang memang sudah tak digunakan seperti buku petunjuk menggunakan ponsel, kalender dengan sistem sehari sobek, kadang juga buku catatan kecil buram cinderamata hasil kondangan. Tak harus kertas polos atau bergaris, toh sesuatu itu hanya berupa unek-unek yang lazim mendatangi siapa saja, dan itu benar-benar sampahnya otak tak harus ditempatkan di buku catatan paling istimewa bernama hati.

Beberapa orang benar-benar memiliki ide praktis dan berani ketika mengalami hal serupa atau malah lebih berat dari saya, seperti melompat dari gedung tinggi atau menenggak pil tidur dalam dosis besar atau yang paling keren menurutku dengan menembak kepala sendiri seperti di awal catatan ini. Dan untunglah saya tak memiliki senjata seperti itu dan tak memiliki nyali untuk melakukan hal-hal seperti itu. Sebagian yang lain menyelesaikannya dengan mendekatkan diri dengan sang pencipta. Bukankah hidup soal memilih? Dan saya memilih membesarkan nyali untuk tetap menulis catatan buruk tentang pikiran dan kepribadian buruk saya di sini.
------------------------------------------------------------
Rawa Buaya, Jakarta.


--Djenar Abunetti--
djenarabunetti@yahoo.com
Sent from Nokia Windows Phone
Baca selengkapnya »

Catatan

Ternyata saya sudah lama menulis catatan meskipun tidak setiap hari, selama itu pula saya tidak menyadari bahwa catatan saya semakin buruk dari hari ke hari, terbukti status saya kemarin di facebook menghasilkan caci maki yang membutuhkan waktu sekitar 4 jam untuk mendinginkan atau menenangkan seseorang yang tersinggung berat akibat statusku, untung saja tidak sampai harus berdarah-darah di kotak komentar

Sepertinya orang bijak memang tak pernah salah, "lidah lebih tajam dari pedang", kata bijak ini rupanya sudah lama kulupakan atau memang sudah terlupakan?, tergerus sesuatu yang dianggap lebih cocok dengan jaman, kebebasan berbicara, kebebasan nyetatus, kebebasan berkicau, sehingga memunculkan akun anonimous yang lucunya dijadikan acuan. Tentu ada yang berdarah-darah di sana akibat tajamnya kicauan, tajamnya status atau tajamnya catatan, "status terkadang lebih kejam dari kenyataan".
----------------------------------------
Galuh Timur, Jawa tengah.

--Djenar Abunetti--
djenarabunetti@yahoo.com
Sent from Nokia Windows Phone.
Baca selengkapnya »

Kere

Saya sedang malas menulis catatan, sekarang saya lagi terkena demam game online War 2 Commander. Game strategi membangun sebuah negara, menjajah yang lain, kita bisa berteman atau jadi musuh dan perang. Bisa jadi kita jadi "kere" beneran akibat perang yang makan biaya, selain memakai koneksi internet dalam game ini juga (tak) harus membeli tool (diamond)dengan pulsa.

Tapi seperti biasanya, saya lebih memilih atau menunggu "runtuhan" diamond gratisan, dikumpulkan kemudian "dipurchasekan", ditukar dengan tool-tool yang dibutuhkan. Orang kere memang kemana-mana susah, jangankan di alam nyata di alam khayal juga tetep susah.
---------------------------------
Galuh Timur, Jawa Tengah.


--Djenar Abunetti--
djenarabunetti@yahoo.com
Sent from Nokia Windows Phone
Baca selengkapnya »

Curhat

Pernah dicurhati teman? Sering? Baguslah kalau sering artinya tidak kaget kalau sekarang saya curhati dong, curhat tentang curhat. Lho, iya curhat tentang curhat, kalau kau bingung aku juga bingung bagaimana memulai curhatnya. Jadi begini, tadi siang ada teman curhat denganku, masalahnya biasa saja menurutku, aku tidak terfokus sama masalah yang dihadapainya, aku lebih fokus pada caranya dia curhat. Bingung? Ntar dulu aku belum selesai curhatnya.

Dia itu biasa menulis (status), dan aku tak tahu jenis tulisannya, sepertinya syair atau puisi gitu deh, meski aku tak yakin itu jenis dari keduanya, aku sendiri tidak peduli dia mau nulis apa, selama tidak mengganggu stabilitas NKRI oke sajalah. Nah saking puitisnya, dia curhat dengan bahasa yang puitis juga, tentu sulit untuk dipahami orang sepertiku, boro-boro aku bisa menanggapi masalahnya, mengerti pun tidak, bingung sudah pasti, menebak-nebak kemana arahnya dan apa yang dibicarakannya. Butuh waktu lebih lama untuk memahami kalimatnya jika dibanding bahasanya anak alay.

Berkali-kali aku minta dijelaskan dengan bahasa sehari-hari, bahasa yang biasa saja, berkali-kali juga tak dipedulikan. Jadi kupikir dia memang punya masalah serius, lebih serius dari masalah yang sedang dihadapinya sekarang. Sepertinya ia hidup di awang-awang, tapi bagaimana mungkin di sana tidak ada PLN.

Akhirnya aku capek sendiri, lebih capek dari ngetik curhatanku sendiri, aku hanya berpesan "tempatkan sesuatu pada tempatnya", sebab aku curiga semua masalah yang dihadapinya berawal dari kesalahannya menempatkan sesuatu tersebut.
----------------------------------
Galuh Timur, Jawa Tengah.


--Djenar Abunetti--
djenarabunetti@yahoo.com
Sent from Nokia Windows Phone
Baca selengkapnya »

Sapaan Pagi



Seperti biasanya ia menyapaku setiap aku melintasi halaman rumahnya, sejak kedatanganku ia makhluk pertama yang menyambutku, ia tak peduli siapa aku, statusku dan segala tentangku. Pagi ini ia memanggilku dari balik pintu gerbang rumahnya, dan seperti biasa aku kesulitan memahami bahasanya, aku hanya bisa melambaikan tangan sebagai tanda aku mendengar sapanya dan berlalu menuju warung pulsa agar tetap bisa browsing, chatting atau sekedar spaming di status teman-teman.

Entahlah, tiba-tiba aku terpikir tentang dia yang ramah tanpa perlu diadd jadi teman atau sekedar jadi follower, sepertinya ia ramah pada siapa saja yang baru dilihatnya termasuk aku yang baru seminggu di sini. Ia memanggilku lagi dari balik pagar sepulangnya aku dari warung pulsa, aku menengoknya lagi melambai dan berlalu, berulang-ulang setiap hari sepanjang minggu. Lama aku memikirkan dia yang di balik pagar, kawan baruku mungkin sama kesepiannya denganku yang beberapa hari ini tinggal dan bekerja sendiri di komplek ini.

Ingin rasanya aku menanyakan apakah dia punya akun facebook, twitter atau nomor ponsel agar bisa langsung mendengar suaranya, suara yang sering mengagetkanku dari balik pagar, suara yang membuatku ingin melintasi jalan lain namun urung karena lebih jauh saat aku membeli pulsa, sarapan atau makan siang. Tapi kupikir ia bukan tipe netizen, netter atau apa saja. Tidak sepertiku yang seolah tak bisa hidup tanpa benda sialan bernama HP, ponsel, handphone, gadget dan apapun itu, sebab semakin pintar seseorang semakin sulit bahasanya meski hanya satu hal yang dikatakanya. Tidak seperti kawan baruku, ia sepertinya tak suka berkicau di twitter, ngomong jelek di status facebook dan pura-pura baik. Ia lebih suka bicara langsung, suka atau tidak diungkapkannya saat itu juga tanpa kepura-puraan.

Anjing tetangga, kapan kau berhenti menggonggongku??
------------------------
Taman Semanan Indah, Jakarta.


--Djenar Abunetti--
djenarabunetti@yahoo.com
Sent from Nokia Windows Phone
Baca selengkapnya »

Sepatu



Langit diterangi kilatan-kilatan seperti lampu blitz, langkahku semakin terburu melewati truk-truk yang berbaris paralel, aku harus lebih cepat dari hujan, pikirku. Jalan semakin sempit saja, di sebelah kiri penuh parkiran dan sebelah kanan ada perbaikan saluran, entah pada ayunan yang keberapa, seribu, duaribu mungkin sepuluh ribu seekor kecoa melintas, "kreshh" sepatuku melindasnya, aku dan dia tak sempat saling menghindar,  mungkin dia pun sama denganku yang panik dan terburu-buru sebab kilatan-kilatan di langit.

Sang kecoa mati seketika, isi perut dan kepalanya keluar, terburai aku memandang kasihan sejenak sebelum melanjutkan ayunan kaki untuk menggenapkan langkahku hari ini. Langkahku mungkin genap hari ini di angka sepuluh ribu tapi mungkin langkah sang kecoa tidak, mungkin juga lebih, kami sama-sama tak yakin. Langkah sang kecoa berakhir di hitungan ke sekian di alas kakiku. Tapi dunia memang seperti itu, sepertinya harus ada yang mati meski tanpa alasan yang jelas seperti di tempat lain di mana manusia-manusia saling berbunuhan tanpa alasan yang masuk akal, seolah harus ada yang dibunuh meski hanya sekedar menuntaskan rasa jijik, jijik atas agamanya, ideologinya, bahkan hanya karena warna kulit yang jelas bukan kehendaknya. Seolah lebih rendah dari kecoa.

Kilatan cahaya masih menerangi langit Jakarta, kilatan yang membuatku dan kecoa sama-sama terburu menuju sepatu-sepatu.
-------------------------

Pasar Pagi, Jakarta.

--Djenar Abunetti--
djenarabunetti@yahoo.com
Sent from Nokia Windows Phone
Baca selengkapnya »

Di Semanan



Saat ini saya bekerja di kawasan Taman Semanan Indah, Kalideres, Jakarta Barat. Seminggu saja rasanya sebulan,  selain bekerja hanya berdua dengan teman saya Martin Ahong juga karena lokasi jauh dari keramaian, sebab saya lebih menyukai tempat seperti kawasan Pasar Pagi lama atau Jembatan Item di kawasan kumuh Angke yang beberapa minggu lalu selesai pengerjaannya. Di sini memang nyaman untuk ditinggali bagi orang-orang yang tidak kere seperti saya yang setiap membutuhkan sesuatu harus jalan kaki, di sini tidak bising, aman dan nyaman dan pastinya sepi.

Pemalas seperti saya sarapan cukup menunggu tukang bubur (bubur ayam, kacang hijau) tukang roti, atau tukang lontong sayur yang lewat, kalau lewat jam delapan saya baru keluar komplek untuk membeli kopi, gorengan dan makan siang harus berjalan lebih jauh lagi.
----------------------------------------------

Taman Semanan Indah, Jakarta.


--Djenar Abunetti--
djenarabunetti@yahoo.com
Sent from Nokia Windows Phone
Baca selengkapnya »

Mulai Lagi

Cukup berat rasanya untuk memulai lagi, seperti yang sudah-sudah setelah lama istirahat tak menulis catatan harian saya harus "bekerja" lebih keras mengumpulkan ingatan-ingatan yang berserak, kalimat-kalimat yang tercecer atau mungkin juga kemauan saya yang pingsan setelah "dihajar" maling beberapa bulan yang lalu (tepatnya bulan Mei) dengan empat buah HP saya digondolnya.

Tentu ada banyak cerita, berita juga derita yang tak sempat saya rekam di sini sepanjang tiga bulan terakhir, banyak yang terlewatkan tentunya. Entahlah meski ada warnet tapi saya tak bisa menulis di sana, selain berisik papan ketik juga biasanya tak nyaman, maklum tempat umum. Dan keinginan menulis catatan begitu kuat, hingga saya terus berusaha membeli handphone baru yang "lebih" mampu mendukung hobi saya, menulis catatan, "nggedabrus" alias membual.

Tak ada yang baru, semua hanya pengulangan, demikian juga dengan catatan yang sekarang sebagai pembuka dan seterusnya. Seperti kita yang setiap pagi mengulang sarapan dengan menu yang sama, meski tak sama persis namun setidaknya dari bahan yang tak jauh berbeda. Tak ada yang khusus dari blog ini, selain kebutuhan membuang sampah. Dan blog ini adalah tempat sampah.
----------------------------
Pasar pagi, Jakarta Barat

--Djenar Abunetti--
djenarabunetti@yahoo.com
Sent from Nokia Windows Phone
Baca selengkapnya »

Beda Gila

"ini gila, aku tak bisa menulis apapun!!! Sampah di otakku semakin berserakan dan akan segera meracuni anggota tubuh yang lain!!!" Boy tampak gelisah, memukul-mukulkan tinju ke pahanya sendiri, seperti ingin memecahkan sebongkah batu besar yang membebani pikirannya.

"sudahlah Boy nikmati saja kegilaanmu, kegelisahanmu, barangkali inilah satu-satunya kejujujuran yang kau miliki, kejujuran bahwa kau memikirkan dia, hingga kau tak mampu memikirkan hal lain selain dia, bahkan hanya untuk menulis catatan sampah pun kau tak mampu" Noyaw menimpali keluhan Boy tanpa menoleh sedikitpun, seperti tak peduli ia terus membuka halaman demi halaman buku di depannya sesekali menyeruput teh dan menghisap rokok kretek di jemari kasarnya.

Boy terdiam, sesekali Noyaw meliriknya kasihan mungkin juga merasa geli atas tingkah Boy yang seperti abege labil, Noyaw kutu buku yang jujur, sok bijak, sok rasional, sok idealis, sok filosofis dan sok realis sementara Boy rajin membuat catatan, suka berbohong, kekanak-kanakan, sok ganteng, suka jeprat-jepret, mudah terbawa perasaan, apa adanya, sok romantis, sok puitis dan lebih terbuka mengungkapkan perasaan. Dua pribadi yang tak memiliki kesamaan selain warna kulitnya yang sama-sama gelap menjadi perpaduan yang aneh, membingungkan dan sulit dipahami orang di sekitarnya namun tetap berusaha menjadi manusia yang baik meski sering gagal.

Akhir-akhir ini Boy jatuh cinta pada cewek grunge sementara Noyaw tak setuju sebab menilai Boy terlalu cengeng dan lembek untuk ukuran gadis pujaanya, Boy menilai saudaranya terlalu munafik untuk urusan cinta dan sudah pasti kekacauan demi kekacauan mewarnai hari-hari yang mereka lalui. Mereka beda tapi sama gilanya.
---------------------------------
Jembatan Dua, Jakarta.

*gak apa-apa deh datar juga dari awal sampe akhir, daripada gak bisa tidur, :-D


--Djenar Abunetti--
djenarabunetti@yahoo.com
Sent from my Nokia
Baca selengkapnya »

Mencangkul

Sedang mengkhayal saja seandainya waktu sekitar tujuh jam yang digunakan tim salep delapan-delapan menggerebek (terduga) teroris digunakan untuk mencangkul sawah, berapa luas atau berapa petak yang berhasil dicangkul? Tak perlu serius, ini hanya khayalan, atau pengandaian yang silakan dianggap berlebihan, norak atau melecehkan. Tapi sebelumnya silakan simak pernyataan para pakar atau pengamat teroris, tak bisakah dibuat "operasi senyap"? Selanjutnya saya mempersilakan pembaca untuk menilai kinerja tim salep tersebut, sebab gaya narsis di Bandung kemarin bukan yang pertama, dan menurut pengalaman saya sebagai tukang cangkul sawah, mencangkul yang kedua lebih baik dari mencangkul yang pertama, sebab sebelumnya saya sudah mempelajari seberapa keras lahan yang harus dicangkul apakah itu tanah lempung atau tanah berbatu dan berpasir, bisa mengatur nafas, tempo, atau berapa besar tenaga yang diperlukan saat mengangkat pacul dan berapa besar yang dibutuhkan saat mengayunkannya. Mencangkul memang lebih sederhana dari menembak. Dan sejauh ini belum ada "mencangkul senyap".

Tujuh jam itu sama dengan sehari kerja para buruh pabrik, kuli bangunan, tukang laundry atau mereka yang lebih banyak menggunakan otot ketimbang otak dan tanpa latihan khusus. "mencuci" atau "mencangkul" teroris memang tak sama atau malah jauh berbeda dengan mencangkul sawah atau mencuci karpet, tapi konon pengalaman adalah guru paling berharga. Saya jadi berpikir koq tim salep masih memakai gaya lama atau memang menyukai gaya ini? Atau tak belajar dari pengalaman?, kalau kata anak muda jaman sekarang, "ngapain aja lo selama ini?"
----------------------------
Jembatan Dua, Jakarta.


--Djenar Abunetti--
djenarabunetti@yahoo.com
Sent from my Nokia
Baca selengkapnya »

Cerita Manis

Tentangnya,

Lama aku terdiam, memikirkan kata dan kalimat seperti apa yang paling tepat, ya, setidaknya paling mudah dimengerti untuk menggambarkan semua yang ada dalam pikiran, hati ataupun perasaanku saat ini, kondisi yang paling sulit kupahami ketika aku mendadak menjadi sangat gembira tanpa alasan, hanya karena melihat langkahnya yang makin mendekat dan tersenyum. Aku seperti melompat jauh ke belakang, ke alam tujuh belas tahun yang lalu meski semuanya tak menimbulkan jerawat batu.

Terkadang aku merasa begitu lebih bodoh dan konyol dari yang terlihat, seperti ada yang mendorongku untuk lebih berani menggenggam jemarinya, memainkan cincin di jari manisnya namun tak mampu berkata apa-apa selain detak jantungku bertambah cepat. Ah, semua terlalu manis buatku entah baginya.
------------------------
Jembatan Dua, Jakarta.


--Djenar Abunetti--
djenar.abunetti@gmail.com
Sent from my Nokia
Baca selengkapnya »

Rongsokan

Seperti biasa setelah selesai makan siang saya duduk-duduk di taman menunggu siapa saja yang datang dan mau berbincang dengan dengan saya, namun jika tempat duduk yang biasa sudah ada yang menempatinya saya akan mencari tempat lainya agar tak mengganggu, siang ini saya berbincang dengan pencari atau pengumpul barang bekas, dan bisa ditebak kami langsung akrab sebab merasa satu ikatan yaitu ikatan senasib "sama-sama orang susah" begitulah Jakarta, kota yang tak mau lagi disebut metropolitan namun maunya disebut megapolitan, akan tetapi saya lebih suka menyebutnya megapolutan (saya kesulitan untuk mejelaskan kata "polutan" dan perlu kamus bahasa kontemporer) sebab tingkat polusinya yang tinggi, kota yang membentuk banyak ikatan nasib.

Sejenak saya akan melupakan soal "polutan", dan kembali ke tukang rongsok yang berasal dari jawa tengah yang jika disebut nama kotanya mengingatkanku pada seseorang, kota batik, Pekalongan. Tanpa basa-basi menanyakan nama apalagi bertukar kartu nama kami mengobrol seolah sudah saling kenal lama, cukup diawali dari mana asalnya, perasaan senasib kami sudah lebih dulu saling berjabat ketika baru beradu tatap dan tersenyum dan berbicara. Tak ada gengsi karena ia lebih tua atau malu karena saya lebih muda, perasaan senasib seringkali menyebabkan orang merasa lebih dekat satu sama lain.

Saya tak setuju jika ibu kota dikatakan lebih kejam dari ibu tiri, ini hanya soal persepsi, kenyataanya banyak ayah tiri yang lebih kejam dari ibu kota terutama pada anak tirinya yang gadis dan masih remaja atau beranjak dewasa, lelaki sekasar saya pun ngeri membayangkanya apalagi gadis-gadis itu dan ibu-ibu mereka. Kenyataan lainya saya juga tak bisa membantah jika Jakarta memang kejam, apapun bisa dihisapnya, dikunyahnya lalu dimuntahkan begitu saja jika memang tak dibutuhkan lagi tanpa rasa bersalah. Saya dari Bumiayu, bapak-bapak dari Pekalongan dan lukisan dari Bali harus siap "dirongsokan" kapan saja.
-------------------------------
Pancoran, Wisma ex Timah, Jakarta.



--Djenar Abunetti--
djenar.abunetti@gmail.com
Sent from my Nokia
Baca selengkapnya »

Gengsi Lelaki

Sabtu pagi kemarin saya harus menjemput teman saya, Killila, di bandara Soekarno Hatta dan ini untuk pertama kalinya dalam hidup saya menjemput seorang gadis di bandara (biasanya dijemput, kuntilanak?) entahlah tiba-tiba saja saya mau melakukanya dengan semangat super hero, padahal belum lama mengenalnya dan baru bertemu dua kali dan saya ingin jujur mengakui bahwa Ia adalah sebuah pribadi yang berbeda, unik dan menarik, dan sejak jumat sore saya sudah berpikir untuk menyetel alarm di handpone agar bangun lebih pagi, mandi dan ganti baju lebih cepat (memangnya punya baju ganti?), sarapan dan mengejar bus kota ke terminal Blok M, menunggu bus Damri, selanjutnya saya tidak tahu mesti bagaimana. Nyatanya? Kesiangan.

Seperti saat pertama kali akan bertemu, Killila iseng bermain petak umpet, "hape lobet, aku matiin ya om" setengah sadar kujawab "okee" glekkk, ngantuku ilang seketika, aku tersentak sadar belum menanyakan dia naik apa, dan kupikir dia juga sengaja tak memberi tahuku, humor yang cukup menjengkelkan sebenarnya buatku tapi entahlah aku tak bisa marah di depanya karena sifat isengnya yang kelewatan atau mungkin saja saya belum benar-benar mengenalnya hingga humornya membuatku seperti ingin menjitak kepalanya sampai benjol sebesar telur angsa. Tapi ya itulah dia, Killila, kupikir dia tetap akan seperti itu meski kepalanya benjol dan sepertinya saya tak perlu melakukan kekejaman seperti itu.

Pagi itu pula saya harus menggangu teman lamaku si Ferdy yang seharusnya masih nyenyak di kasurnya, untuk sekedar bertanya di terminal mana saya harus menunggu Lion Solo-Jakarta meski sebenarnya saya tak yakin Killila menggunakan pesawat tersebut, hal itu karena saya panik saat dalam bus Damri saya bingung harus menjawab apa ketika awak bus tersebut menanyakan saya turun di terminal mana dan penumpang lain mencoba membantuku sekaligus memusingkanku, ia bertanya dengan logat khas kota Medan "temanmu naik apa?" dan tentu saja saya bingung karena memang tidak tahu dan sebagai lelaki saya merasa malu karena menjadi tampak lebih bodoh dari yang terlihat, terlebih di depan anak gadisnya yang duduk di sebelahnya. Dan kukira banyak lelaki termakan gengsi seperti ini, gengsi untuk terlihat lebih cerdas dari yang sebenarnya.
------------------------
Ditulis di Bandara Soeta, Jakarta, diedit di Pancoran, Jakarta juga sih, dibaca di mana-mana. :-D


--Djenar Abunetti--
djenar.abunetti@gmail.com
Sent from my Nokia
Baca selengkapnya »

Sedikit Bergerak

Mereka berteriak, menendang ataupun menyundul bola plastik putih di lapangan yang hanya cukup untuk bermain badminton, lapangan sekecil itu menjadi penuh pemain dan sedikit ruang untuk bergerak. Sesak, berdesakan dan jangan-jangan mereka berkeringat karena sesak, bukan karena bergerak dan yang lain menunggu giliran bermain di tepi lapangan dengan rasa yang sama, sesak.

Orang kota tak punya ruang gerak yang cukup dan mereka berlari ke tembok-tembok menyalurkan energi lebih untuk melawan dan menciptakan ruang di dalam ruang yang memang sudah menyempit, menghimpit.
----------------------
Pancoran Barat, Wisma Timah

*sepak bola di Wisma Timah
*grafiti di PJMI, Bintaro Jaya sektor 3

--Djenar Abunetti--
djenar.abunetti@gmail.com
Sent from my Nokia
Baca selengkapnya »

Penting

Baiklah saya kembali, kembali memaksa diri untuk menulis catatan harian yang terbengkalai sekitar tiga minggu meski sekarang saya sudah menguap untuk ke sekian kalinya setelah lebih dari dua jam mencoba login ke email dan selalu menghasilkan "communication error, please try again later" dan saya harus bertarung dengan diri sendiri untuk tetap cool, calm and confident "try and try" meski kemudian menyerah, namun setelah satu jam didiamkan sambil merebus air, membaca Si Parasit Lajang-nya Ayu Utami dan meyeduh kopi akhirnya operator sialan memberiku sedikit rasa kasihan lalu membiarkan saya login sesuai bualanya di iklan-iklan, saya mengetik dengan cepat dan terburu-buru mengklik "save to draft" sebelum alasan yang sama "communication error" dan hasil ketikan saya kabur tanpa bekas. Sebab operator seluler seringkali lebih kejam dari ibu tiri, begitu nasihat ibu kandung.

Pada paragraf kedua ini saya mulai berpikir tentang pembaca yang saya duga mulai berpikir apakah ini penting untuk disimak atau dilewatkan saja sebelum benar-benar menekan tombol "next blog" atau "close this windows". Dan saya merasa ini penting untuk diketahui pembaca bahwa saya seringkali mengubah posisi menulis dari duduk menjadi berbaring atau sebaliknya untuk tetap melanjutkan menulis catatan sekaligus tetap merasa nyaman, mengubah atau berganti posisi dalam menulis menurutku sangat penting, sama pentingnya seperti saat berhubungan intim. Mengurangi kebosanan, dan tentu untuk merasakan sensasi yang berbeda-beda, namun sejauh ini saya belum pernah menulis dengan posisi doggy style. Stop, sampai di sini saja.

Dan ternyata ini tidak penting sama sekali bukan? Dan saya pun tahu ini tak lebih penting dari antri BBM, beras murah atau antri tiket bioskop. Nah, saya mulai terpancing untuk bicara tentang sebuah kata yang seringkali mengganggu pikiran saya, kata yang sangat pendek namun berefek panjang yaitu "penting" dan "kepentingan" dan seberapa penting catatan ini ditulis tentunya sangat bergantung pada kepentingan lainya. Jelasnya, ketika saya memulai menulis catatan, saya tahu catatan tersebut (lebih tepat catatan ini) tidaklah "penting" namun saya memiliki "kepentingan" lain semisal supaya otak saya tidak sumpek dan lebih fresh maka saya perlu menumpahkan sampah-sampah tersebut dari tempurung kepala saya, atau kepentingan saya sebagai tukang bangunan untuk menawarkan atau menjual jasa menambal bocoran, mengecat atau sekedar membetulkan kran air di wastafel. Maka catatan-catatan yang lebih pas disebut sampah otak seperti ini menjadi penting, tentunya untuk saya karena rasa "fresh" itulah "kepentingan" yang sesungguhnya, dan sampah otak lahir dari sebuah "kepentingan" maka ia menjadi "penting" penting untuk tetap dipertahankan keberadaanya, kesinisannya kebusukanya, kekonyolanya ataupun kebodohanya yang menjadi ciri pemiliknya (saya) yang memang hanya kuli bangunan.
------------------------------
PJMI, Bintaro


--Djenar Abunetti--
djenar.abunetti@gmail.com
Sent from my Nokia
Baca selengkapnya »

Enaknya

Enaknya jadi ustadz di abad kloset ceramah cukup posting kalimat-kalimat bijak sesekali copy paste ayat suci dan hadis di fanspage facebook, twitter atau blogspot serta wordpress. Bisa sambil makan, menikmati kopi dan pisang goreng, rebahan atau malah nangkring di kloset.

Ustadz abad kloset tidak perlu mencontohkan atau mempraktekan ucapanya sebab tidak ada yang tahu selain diri dan akunya, jamaah belum tentu melihatnya malah mungkin jamaah tidak pernah mengenalinya jika bertemu di jalan, boro-boro mengucap salam, melirik saja tidak.

Menjadi jamaah atau umat juga tak kalah enak, sama seperti yang dilakukan penceramahnya, bisa mengikuti khotbah ustadz favorite sambil mojok, sambil e'e, nonton film atau malah sambil onani.

Menjadi jamaah untuk mendapat pahala berlipat dan masuk surga cukup meretweet, like page dan membaginya di wall, tak perlu melakukan apapun meski adzan di mushola sudah mengundang yang penting "share", "retwit" ucapan ustad yang hasil copy paste.

Sebenarnya kita ini hamba tuhan apa hamba akun?
-----------------------------
Galuh Timur


--Djenar Abunetti--
djenar.abunetti@gmail.com
Sent from my Nokia
Baca selengkapnya »

Sore Ini

Cuaca sore ini sangat cerah tapi sepenuhnya saya tak percaya kecerahan ini akan bertahan lama sebab cuaca seringkali berubah tanpa pemberitahuan seperti pemadaman listrik, sulit diduga seperti halnya hati para remaja, dan benar saja ketika saya belum sempat menyelesaikan kalimat ini gerimis langsung turun seolah tahu saya sedang menyindirnya, meski tak sederas kemarin namun cukup membuat orang-orang berlarian, berteduh atau mengangkat jemuran.

Sampai sore ini saya masih mampu menahan diri untuk tidak log in ke facebook, sudah empat puluh delapan jam sejak di-nonaktifkan, ternyata tidak ada apapun yang terjadi dalam hidup saya ketika akun tersebut di-nonaktifkan, tidak ada gempa bumi, gunung meletus atau asteroid yang jatuh, biasa saja seperti hari lainya.

Awalnya saya berpikir mungkin saya termasuk golongan pecandu internet (netter) yang bisa pingsan jika satu jam facebookan tanpa menulis status tak jelas atau tanpa komentar tak jelas ternyata mudah saja untuk empatpuluh delapan jam tanpa membukanya pun saya bisa melakukanya. Dimulai dengan mengurangi kebiasaan update status dari satu jam sekali menjadi empat jam sekali dan seterusnya, singkatnya mengurangi aktifitas di dalamnya, mudah bukan? Dan sebuah tanya mampir di Whatapps "bagaimana kalau kangen sama temen-temen"? Wajar saja pertanyaan ini, namun "untuk apa kangen? Kenal saja tidak" dari sekian ratus teman yang ada di friendlist saya hanya memiliki tidak lebih dari limapuluh orang yang benar-benar teman termasuk mantan pacar, selingkuhan atau yang sekedar pernah ketemu atau cuma tidur bareng selebihnya ya entah siapa juga tidak tahu. Selain facebook kan bisa telpon, ketemu atau SMS, kalau memang ada perlu.
----------------------------------------------------
Galuh Timur


--Djenar Abunetti--
djenarabunetti@yahoo.com
Sent from my Nokia
Baca selengkapnya »

Policephobia

Asli gue tuh phobia ama yang namanya pak police, phobia umumnya diartikan ketakutan yang berlebihan terhadap sesuatu (busyettt panjang banget, satu bukti bahasa kita memang ribet). Gue udah beberapa kali jalan sama temen trus kena tilang, soal tilang menilang sih emang kerjaanya atau tugasnya si police gue juga maklum tapi ngomongnya kadang bikin gak enak ati, kurang menunjukan kalau dia itu "pengayom" masyarakat, terus yang gue yakini tuh kalo sama orang yang berduit tuh nadanya gak bakal begitu coz gue lama jadi joki tri ini wan pernah sekali tuh mobil ketangkep, asli sopaaaaan banget tuh pak police.

Gue phobia bukan bener-bener takut sama orangnya tapi takut "jika berurusan sama beliau" (duiiiit muluuu xixixi) asli maleeeees banget. Eh, waktu gue mau ke Majalengka temen gue kena tilang di Tegal begitu beres langsung tancep celakanya dua minggu kemudian di Majalengka temen gue servis motor, pas orang bengkel nanya surat motor terus ditunjukin baru nyadar tuh surat motor udah ketuker waktu kena tilang di Tegal terus temen gue balik ke Tegal niatnya mau ngambil tuh surat motor, nyampe kantor dibohongin melulu katanya lagi dicariin, katanya jauh, beda regu dan seabrek alasan lain. Temen gue terus SMS tetangganya yang polisi juga tapi pangkatnya lebih tinggi dari si "Mr. Alasan", terus temen gue bilang sama Mr. Alasan "kata Mr. Clean suruh ketemu bapak" tentu si Mr. Alasan kaget trus nanya "emang kamu siapanya Mr. Clean?", singkatnya urusan cepet kelar, padahal si mister ini juga tahu tuh surat ada di "gudang", nyatanya dia masuk bentar doang keluar beres.

Kalau gue sih pernah liat pak police yang biasa mangkal (jiahaha kayak banci aja mangkal) di pertigaan jalan Haji Nawi, Jakarta "serah terima" sama awak metro mini 72 (Blok M - Lebak Bulus) di kolong meja pecel lele langganan gue yang gak jauh dari pertigaan jalan tersebut, lha kebetulan "beliau" juga makan di situ, jatah kursi (kursi plastik yeee, bukan kursi panas) gue bersebelahan sama "beliau" trus di depan gue awak metro, dia sih gak makan (orang lagi narik, diberentiin diajak ke situ) duduk, "beliau" sambil makan juga bincang-bincang tanganya yang kiri di bawah meja si kenek juga begitu sementara SIM di atas meja, stelah "serah terima" selesai SIM diambil si awak terus pergi. Ya gue jadi inget ini kali yang namanya "korupsi di bawah meja" :-D. Sekarang katanya udah sama mejanya dikorup ya?
---------------------------------
Galuh Timur


--Djenar Abunetti--
djenar.abunetti@gmail.com
Sent from my Nokia
Baca selengkapnya »

Selamat Pagi Kloset

Selamat pagi closet selamat beraktivitas, namun sebelum hari terlalu jauh tolong dengarkan bualanku, bualan tentang asbak yang kelelahan menampung puntung yang pontang dan yang panting semalam suntuk tanpa kejelasan apa yang harus ditunggu dan apa yang harus ditinggal oleh kaum insom(nia), kaum yang hidupnya dihantui susah tidur, susah move on dan barangkali susah BAB.

 Sepertinya kau mulai paham jika aku menyukai kata BAB dan yang berhubungan dengan BAB semisal closet atau kakus dan aku ingin memberi satu jawaban dari sekian kemungkinan jawaban yang akan muncul dari pertanyaan mengapa harus BAB dan kloset, sebab kakus atau closet satu-satunya tempat yang mampu membuatmu berekspresi secara total dan menciptakan atau membuat karya paling jujur, tak peduli kau jago akting dan kualitas vokalmu memenangkan semacam trophy atau award, namun aku tak punya cukup modal untuk mengadakan acara semacam factor closet dan closet award sepertinya layak dipertimbangkan pemilik tivi swasta yang keranjingan isi kakus untuk msngadakan closet award di tahun-tahun berikutnya.

Kau tahu closet? Semalam asbak mengeluh tentangku, tentang tivi, tentang dia yang selalu basah namun aku hanya menyarankan untuk cebok sebelum tidur, sumpah aku tak lebih dari itu! Namun kau juga harus tahu closet, dialah yang dalam seminggu ini terus menggangguku dengan meneleponku sepanjang malam dan siangku dan mungkin hanya satu yang kubutuhkan saat ini, sesuatu yang teramat sulit dilakukan lelaki genit dan plin-plan sepertiku, ketegasan, dan itu sulit buatku sesulit BAB saat sembelit.
---------------------------------------
Galuh Timur


--Djenar Abunetti--
djenar.abunetti@gmail.com
Sent from my Nokia
Baca selengkapnya »