"ini gila, aku tak bisa menulis apapun!!! Sampah di otakku semakin berserakan dan akan segera meracuni anggota tubuh yang lain!!!" Boy tampak gelisah, memukul-mukulkan tinju ke pahanya sendiri, seperti ingin memecahkan sebongkah batu besar yang membebani pikirannya.
"sudahlah Boy nikmati saja kegilaanmu, kegelisahanmu, barangkali inilah satu-satunya kejujujuran yang kau miliki, kejujuran bahwa kau memikirkan dia, hingga kau tak mampu memikirkan hal lain selain dia, bahkan hanya untuk menulis catatan sampah pun kau tak mampu" Noyaw menimpali keluhan Boy tanpa menoleh sedikitpun, seperti tak peduli ia terus membuka halaman demi halaman buku di depannya sesekali menyeruput teh dan menghisap rokok kretek di jemari kasarnya.
Boy terdiam, sesekali Noyaw meliriknya kasihan mungkin juga merasa geli atas tingkah Boy yang seperti abege labil, Noyaw kutu buku yang jujur, sok bijak, sok rasional, sok idealis, sok filosofis dan sok realis sementara Boy rajin membuat catatan, suka berbohong, kekanak-kanakan, sok ganteng, suka jeprat-jepret, mudah terbawa perasaan, apa adanya, sok romantis, sok puitis dan lebih terbuka mengungkapkan perasaan. Dua pribadi yang tak memiliki kesamaan selain warna kulitnya yang sama-sama gelap menjadi perpaduan yang aneh, membingungkan dan sulit dipahami orang di sekitarnya namun tetap berusaha menjadi manusia yang baik meski sering gagal.
Akhir-akhir ini Boy jatuh cinta pada cewek grunge sementara Noyaw tak setuju sebab menilai Boy terlalu cengeng dan lembek untuk ukuran gadis pujaanya, Boy menilai saudaranya terlalu munafik untuk urusan cinta dan sudah pasti kekacauan demi kekacauan mewarnai hari-hari yang mereka lalui. Mereka beda tapi sama gilanya.
---------------------------------
Jembatan Dua, Jakarta.
*gak apa-apa deh datar juga dari awal sampe akhir, daripada gak bisa tidur, :-D
--Djenar Abunetti--
djenarabunetti@yahoo.com
Sent from my Nokia