Tampilkan postingan dengan label Picture. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Picture. Tampilkan semua postingan

Masukin Motor



Sekitar jam satu di fly over Jakarta Kota ke arah Jembatan Lima, tepatnya di atas Pasar Pagi Lama. Foto diambil dari jendela ruko yang sedang saya kerjakan, lantai 3 sama tingginya dengan fly over dan satu foto diambil dari lantai 4. Jarak ruko dan fly over sekitar 4 meter.

Sayangnya tak sempat mengambil gambar lagi karena sudah masuk jam kerja, motor sudah berhasil dimasukan ke dalam bajaj dengan posisi ban depan di luar, bodi motor di pintu bajaj, stang sedikit naik ke atap. Jadi bukan posisi yang di foto yang berhasil (stang dulu dimasukan) setelah bolak balik dicoba akhirnya cara kedua berhasil (ekor dulu yang dasukan). Entah di mana si pemilik motor nanti masuknya saya tak melihat lagi. *mau ngliatin terus ada pak mentor, gak enak 😄😅. Dan cerita kenapa motor bisa masuk bajaj ya pastinya mogoklah 😋.
--------------------------------------------
Pasar Pagi, Jakarta Barat


--Djenar Abunetti--
djenarabunetti@yahoo.com
Sent from Nokia Windows Phone
Baca selengkapnya »

Terbalik

Jam lima pagi, seperti biasanya saya terbangun dan tak bisa melanjutkan mimpi-mimpi yang terputus, meski mimpi hanyalah bunga tidur namun ada sebagian orang yang berharap mimpi indah dan berdoa sebelum tidur agar mimpi tersebut datang dan di lain waktu berharap mimpinya menjadi kenyataan.

Barangkali alam mimpi satu-satunya tempat paling bebas, di sana kita bisa melakukan segalanya tanpa rasa takut, rasa bersalah sebab tak ada batasan-batasan hukum, moralitas dan segala tetek bengek yang digembar-gemborkan di alam nyata seperti melanggar HAM dan undang-undang. Alam mimpi tak peduli siapa kita, pengikut Muhammad atau Karl Marx.

Di alam mimpi kita bisa membunuh siapa saja termasuk presiden, bertemu tuhan dan setan dalam satu meja makan, atau jika kita beruntung kita bisa bermimpi tidur dengan banyak makhluk cantik dalam satu ranjang namun sialnya tanpa alat vital. Atau yang paling menjengkelkan, jatuh dan dikejar kereta. Dan semuanya gratis.

Konon katanya segalanya berawal dari mimpi namun saya belum sempat meluangkan sedikit waktu untuk percaya, sebab saya memang sedang membicarakan mimpi dalam arti yang sesungguhnya. Akan tetapi saya menyukai mimpinya John Lennon dalam lirik Imagine ketimbang mimpinya Eyang Subur jadi presiden.

Lalu, jika kenyataan hidup di negara Indonesia sudah seburuk ini masihkah kita percaya bahwa segalanya berawal dari mimpi? Dan siapakah yang memimpikian Indonesia sedemikian buruk dan terwujud membuat hidup di Indonesia semakin tak mudah dipahami mana tidur mana terjaga, mana mimpi mana nyata, mana fiksi mana fakta? Mimpimu? Bangunlah, sarung bantalmu terbalik.
---------------------------------
Jembatan Dua, Jakarta.

*foto sungai di depan Mangga Dua Square, diambil dari jembatan penyebrangan ke halte busway pada sekitar jam setengah sepuluh malam.


--Djenar Abunetti--
djenarabunetti@yahoo.com
Sent from my Nokia
Baca selengkapnya »

Meja Batu


Setiap hari kita duduk dan berbincang tentang berbagai hal di sini, berhadapan di antara bisunya meja batu, tentang ramah rerumputan serta rindang pepohonan peneduh dari panasnya matahari yang seringkali tak mampu menahan derasnya hujan. Kau ingat? Sejak perjumpaan itu aku tak pernah mengenal jemu untuk tetap bertemu, melepas beban selaksa rindu, sebab aku sekeras meja itu, mungkin lebih. Tak kikis digangsir waktu.

Di sini, kau, aku , sering berdebat tentang siapa yang paling atau lebih mencintai di antara kita, dan aku selalu gagal menemukan jawaban pasti atas keraguan-keraguan yang melintas di antara deru rindu pada barisan gigi-gigimu, sebab keraguanku serupa daun gugur yang jatuh di ikatan rambutmu, sejenak mengusik lalu dilupakan, atau mungkin terinjak lincah kaki-kakimu saat mengejar sepasang kupu-kupu.
------------------------------
Wisma ex Timah, Pancoran, Jakarta.


--Djenar Abunetti--
djenar.abunetti@gmail.com
Sent from my Nokia
Baca selengkapnya »

Rongsokan

Seperti biasa setelah selesai makan siang saya duduk-duduk di taman menunggu siapa saja yang datang dan mau berbincang dengan dengan saya, namun jika tempat duduk yang biasa sudah ada yang menempatinya saya akan mencari tempat lainya agar tak mengganggu, siang ini saya berbincang dengan pencari atau pengumpul barang bekas, dan bisa ditebak kami langsung akrab sebab merasa satu ikatan yaitu ikatan senasib "sama-sama orang susah" begitulah Jakarta, kota yang tak mau lagi disebut metropolitan namun maunya disebut megapolitan, akan tetapi saya lebih suka menyebutnya megapolutan (saya kesulitan untuk mejelaskan kata "polutan" dan perlu kamus bahasa kontemporer) sebab tingkat polusinya yang tinggi, kota yang membentuk banyak ikatan nasib.

Sejenak saya akan melupakan soal "polutan", dan kembali ke tukang rongsok yang berasal dari jawa tengah yang jika disebut nama kotanya mengingatkanku pada seseorang, kota batik, Pekalongan. Tanpa basa-basi menanyakan nama apalagi bertukar kartu nama kami mengobrol seolah sudah saling kenal lama, cukup diawali dari mana asalnya, perasaan senasib kami sudah lebih dulu saling berjabat ketika baru beradu tatap dan tersenyum dan berbicara. Tak ada gengsi karena ia lebih tua atau malu karena saya lebih muda, perasaan senasib seringkali menyebabkan orang merasa lebih dekat satu sama lain.

Saya tak setuju jika ibu kota dikatakan lebih kejam dari ibu tiri, ini hanya soal persepsi, kenyataanya banyak ayah tiri yang lebih kejam dari ibu kota terutama pada anak tirinya yang gadis dan masih remaja atau beranjak dewasa, lelaki sekasar saya pun ngeri membayangkanya apalagi gadis-gadis itu dan ibu-ibu mereka. Kenyataan lainya saya juga tak bisa membantah jika Jakarta memang kejam, apapun bisa dihisapnya, dikunyahnya lalu dimuntahkan begitu saja jika memang tak dibutuhkan lagi tanpa rasa bersalah. Saya dari Bumiayu, bapak-bapak dari Pekalongan dan lukisan dari Bali harus siap "dirongsokan" kapan saja.
-------------------------------
Pancoran, Wisma ex Timah, Jakarta.



--Djenar Abunetti--
djenar.abunetti@gmail.com
Sent from my Nokia
Baca selengkapnya »

Kebetulan

Ada begitu banyak kebetulan di dunia ini, entah itu yang betul-betul kebetulan atau kebetulan yang awalnya hanya dibetul-betulkan dan perlu dibetulkan kebetulanya. Betul apa betul? Mau tidak mau jawaban betul itulah yang akan keluar dari pikiranmu sebab kata betul sudah masuk ke alam bawah sadarmu bahwa itu memang betul tanpa perlu bertanya lagi. Dan saya kali ini betul-betul sok tahu, betul?

Betul, kali ini saya akan membetul-betulkan kebetulan yang tidak betul sama sekali dan tidak betul jika kebetulan ini dianggap betul-betul kebetulan. Kebetulan tersebut ketika saya betul-betul mengalami kosongnya perut yang entah betul entah tidak betul umumnya disebut "rasa lapar", lalu saya berjalan dengan betul (artinya tidak sempoyongan, pura-pura pincang atau pura-pura cacat agar di kasihani dan lainya) melewati jembatan penyebrangan orang (tidak betul sama sekali jika JPO dilalui motor untuk memotong jarak atau memutar), dan di depan saya ada orang yang berjalan lalu saya menjepretkan kamera. Ckreeek.

Betul sekali, handphone kembali saya masukan ke kantong jaket jeans yang betul-betul punya saya dan betul-betul saya beli dengan uang sendiri, saya melanjutkan perjalanan ke tenda biru (entahlah saya agak ragu, betul-betul biru atau hanya kebiruan) setelah betul-betul sampai, pesan makanan yang betul-betul makanan (artinya bukan makanan imitasi atau tiruan, pernah melihat buah tiruan? Dulu saya hampir menggigitnya karena tidak tahu itu buah imitasi yang terbuat dari plastik), makan sampai betul-betul kenyang. Dan pulang dengan betul (artinya tidak mampir kesana kemari).

Sesampainya di basecamp saya duduk membuka-buka handphone melihat foto-foto yang betul-betul ngawur (artinya asal jepret, apa saja difoto, mirip bocah kalau betul-betul dipikir) satu foto mengingatkan cover buku yang saya beli beberapa hari yang lalu. Jreng-jreng "Koq mirip ciiiiii.." pikirku setelah betul-betul melihat cover buku tersebut. Betul-betul maksa.

*Dunia pasca Manusia, menjelajahi tema-tema kontemporer filsafat teknologi, ditulis atau dikarang oleh Budi Hartanto diterbitkan oleh Kepik, cetakan pertama Februari 2013, 140 halaman dibeli di Gramedia Melawai, Blok M saat hati sedang galau, dibaca oleh siapa saja yang berminat membacanya.
-----------------------------------------
ex Wisma Timah, Pancoran, Jakarta.


--Djenar Abunetti--
djenar.abunetti@gmail.com
Sent from my Nokia
Baca selengkapnya »

Kota Tua


Terlalu sayang untuk di tinggalkan namun terlalu tua untuk dipertahankan, surga ini, dan kita terlalu lama diam dalam terowongan, di sesaknya wajah-wajah berminyak, silang-silang besi, dan deru mesin berkarat. Mungkin nanti kita tak sempat lagi menikmati es potong, tato temporer, rincik gerimis, dan tentu saja sebuah kenang tentang bangku panjang juga sebuah novel yang hilang.

Tak lama lagi, pasti, senja segera turun dan surga ini makin berusia, renta, ringkih tulang-tulangnya takan mampu lagi menopang keserakahan dan aku ingin segera mengubur segala yang kulewati sejak pagi tadi, di sini, lima inci di bawah sepatu para kurcaci, dilindas putaran roda sepeda mini dan segera kembali seperti dulu, gila, tanpa ingatan tentang kejamnya sebuah kenyataan.

-------------------------
Kota Tua, Jakarta


--Djenar Abunetti--
djenar.abunetti@gmail.com
Sent from my Nokia Asha 311
Baca selengkapnya »

Sedikit Bergerak

Mereka berteriak, menendang ataupun menyundul bola plastik putih di lapangan yang hanya cukup untuk bermain badminton, lapangan sekecil itu menjadi penuh pemain dan sedikit ruang untuk bergerak. Sesak, berdesakan dan jangan-jangan mereka berkeringat karena sesak, bukan karena bergerak dan yang lain menunggu giliran bermain di tepi lapangan dengan rasa yang sama, sesak.

Orang kota tak punya ruang gerak yang cukup dan mereka berlari ke tembok-tembok menyalurkan energi lebih untuk melawan dan menciptakan ruang di dalam ruang yang memang sudah menyempit, menghimpit.
----------------------
Pancoran Barat, Wisma Timah

*sepak bola di Wisma Timah
*grafiti di PJMI, Bintaro Jaya sektor 3

--Djenar Abunetti--
djenar.abunetti@gmail.com
Sent from my Nokia
Baca selengkapnya »

Makam Pahlawan


Sepulangnya dari keluyuran ke makam Sunan Gunung Jati lalu diajak oleh tetangga, TNI serta ayah tiga anak yang bertugas di Cirebon dan jadi pengurus masjid di komplek tempat tinggalnya di desa Tuk, Mekar Sari tersebut ke taman makam pahlawan Kesenden, dia bercerita sering mengikuti upacara pemakaman di sini dan nanti jika dia gugur juga akan dimakamkan di sini.
---------------------
Cirebon


--Djenar Abunetti--
djenar.abunetti@gmail.com
Sent from my Nokia
Baca selengkapnya »

Malam Panjang Jimat

Malam panjang jimat di Keraton Kasepuhan Cirebon.
----------------------
Cirebon


--Djenar Abunetti--
djenar.abunetti@gmail.com
Sent from my Nokia
Baca selengkapnya »

Teman di Museum

Djenar (coklat), Roin (merah), Boing (hitam), Rowi (biru hitam)


--Djenar Abunetti--
djenar.abunetti@gmail.com
Sent from my Nokia
Baca selengkapnya »

Kacang Rebus

Menikmati kacang rebus sambil membaca berita di internet yang isinya soal kemelut parpol, kemelut artis terjerat narkoba, dan kemelut asmara pemain sinetron saya koq jadi heran mengapa jarang sekali berita yang mengenakan, menyenangkan atau menghibur sepertinya sangat jarang sekalipun ada seakan sepi peminatnya, tak pernah menjadi trending topic, misalnya berita anak SMU juara olimpiade fisika, mahasiswa menemukan batre dari bahan biji-bijian dan lain-lain yang bermuatan positif, terlihat sekali dari teras facebook saya yang berseliweran jika bukan tema korupsi ya tema gonjang-ganjingnya parpol, KDRT, pelecehan seksual dan tawuran. Sepertinya orang-orang pada ngilu dan meriang kalau tidak "ngeshare" berita yang semacam itu disertai olok-olok, cacian, hujatan dan seabrek embel-embel lalu yang lainya dengan tergesa segera mengamini, merespon dengan nada yang sama, minor.

Kalau sudah begini membaca berita menjadi sama enegnya dengan makan kacang rebus terlalu banyak menyebabkan mulas-mulas salah-salah bisa mencret, mencretnya akibat terlalu banyak mengkonsumsi kacang rebus hanya perut sendiri yang merasakan dan mencret yang diakibatkan terlalu banyak mengkonsumsi berita negatif menyebabkan bibir susah dikontrol, kuping tetangga jadi merah semua ucapan yang keluar seperti e'ek beleleran di celana, bad news is good news? ah itu bohong, membuat "Bad" yang membacanya dan membuat "good" keuangan pemilik media, media hanyalah hamba uang. Apa bedanya dengan penjual kacang rebus selain cari untung? Konsumsilah berita dan kacang rebus dengan bijak, sesuai kapasitas otak atau perut.
-------------------------
Cirebon, Talun


--Djenar Abunetti--
djenar.abunetti@gmail.com
Sent from my Nokia
Baca selengkapnya »

Kereta

Ada dua kereta di museum Singa Barong, Kasepuhan Cirebon, akibat buru-buru saya lupa mencari info tentang dua kereta tersebut. Nyesel.

--Djenar Abunetti--
djenar.abunetti@gmail.com
Sent from my Nokia
Baca selengkapnya »

Degung

Gamelan Degung berasal dari Banten tahun 1425 yang ada di museum benda kuno Keraton Kasepuhan Cirebon.
------------------------
Cirebon, Talun.


--Djenar Abunetti--
djenarabunetti@yahoo.com
Sent from my Nokia
Baca selengkapnya »

Laras Slendro

Gamelan Laras Slendro (Si Ketuyung) dari Cirebon, tahun 1748 masehi yang ada di museum benda kuno Keraton Kasepuhan Cirebon.
-----------------------
Cirebon, Talun


--Djenar Abunetti--
djenarabunetti@yahoo.com
Sent from my Nokia
Baca selengkapnya »

Rebana


Rebana Sunan Kalijaga yang ada di museum benda kuno Keraton Kasepuhan Cirebon, dengan tiket masuk lima ribu rupiah (di loket, dengan membeli di calo cukup setengahnya saja) kita bisa melihat bukti sejarah dan di bulan Maulud terutama pada malam panjang jimat kita juga bisa menyaksikan pemandian benda-benda pusaka.
------------------------------
Cirebon, Talun


--Djenar Abunetti--
djenarabunetti@yahoo.com
Sent from my Nokia
Baca selengkapnya »

Keramat


Saya bukan tipe manusia yang percaya adanya sesuatu yang "keramat" seperti sumur keramat, makam keramat, danau keramat dan lain-lainya, jika saya mendatangi suatu tempat lantas ada peraturan harus berpakaian sopan, tidak membuang sampah sembarangan atau melakukan sesuatu yang bersifat merusak tempat tersebut lalu saya mematuhinya tentu bukan karena takut tempat itu keramat atau angker tapi karena memang sudah seharusnya begitu, tak berbeda di makam keramat, di dalam angkot, jalan raya ataupun di bioskop, bukankah di mana bumi dipijak di situ langit di junjung?

Keramat bukan sesuatu yang menakutkan dan selalu bersifat mistis atau berhubungan dengan klenik, keramat mungkin saja dibutuhkan untuk mendatangkan sesuatu yang lebih baik misalnya mengeramatkan jalan raya agar jalan tersebut terjaga kebersihanya, kehijauanya, kekuatanya dan seterusnya. Dan salah satu bentuk mengeramatkan jalan adalah adanya aturan kendaraan dengan bobot tertentu yang tidak diperbolehkan melintasi jalan tersebut, dan keramat melahirkan portal, jembatang timbang atau sistem buka-tutup pada sebuah jalan. Mengeramatkan adalah upaya manusia menjaga apa yang seharusnya dijaga, dijaga dari kerusakan yang ditimbulkan ketamakan manusia itu sendiri.
---------------------------
Cirebon, Talun.


--Djenar Abunetti--
djenarabunetti@yahoo.com
Sent from my Nokia
Baca selengkapnya »

Gunung Jati


Ini foto hari minggu kemarin waktu saya keluyuran ke komplek makam Sunan Gunung Jati, saya dibuat takjub dengan banyaknya rombongan peziarah yang bertahlil di depan pintu makam yang konon katanya pintu pertama, sementara makam Sunan Gunung Jati sendiri masih jauh ada setelah pintu kesembilan dan hanya orang-orang tertentu yang diperbolehkan melihatnya.

Saya sendiri tak ikut tahlil rombongan manapun saya datang hanya melihat-lihat, bertiga, satu teman sekerja dan satu lagi orang Koramil yang masih tetangga bertugas dan menetap di Cirebon yang jadi tour guide.
Selesai bertahlil para peziarah melempar bunga atau uang koin ke pintu makam lalu memungutnya kembali serta mengusap-usap pintu tersebut lalu diusapkan ke wajah.
---------------------------
Cirebon, Talun.


--Djenar Abunetti--
djenarabunetti@yahoo.com
Sent from my Nokia
Baca selengkapnya »

Cangkir

Hah...cangkir ini dua puluh empat ribu kurang lima puluh perak? Kenapa gak dibuletin aja sih harganya? Toh sama-sama nipu, Benar-benar kampret nih mini kampret (market) padahal di rak tertera harga sepuluh ribu sembilan ratus rupiah kenapa jadi dua kali lipat? gue gak bisa komplain, lha baca struk belanjanya sudah di rumah masa iya gue jauh-jauh balik lagi ke mini kampret yang sialan itu bela-belain duit yang cuma sekian ribu? Saking dongkolnya gak kepikiran komplain lewat telepon, keburu diremas tuh struk belanja.

Kita seringkali marah atau kesal hanya karena hal-hal remeh padahal kita salah baca, salah dengar. cek dan ricek itu perlu.
--------------------
Cirebon,Talun


--Djenar Abunetti--
djenarabunetti@nokiamail.com
Sent from my Nokia
Baca selengkapnya »

Keluyuran Lagi


Selesai melihat-lihat komplek makam Hajjah Fatimah kami melanjutkan keluyuran menuju jembatan gantung sungai Cideres, Cijati, Majalengka. Tidak ada yang istimewa dari jembatan ini hanya saja di kampungku tidak ada yang seperti ini, jembatan dengan tali baja (seling), besi beton dan plat baja, sungai berarus besar seperti namanya Cideres. Jadi menarik buatku.
-----------------------
Cirebon, Talun

--Djenar Abunetti--
djenarabunetti@nokiamail.com
Sent from my Nokia
Baca selengkapnya »

Masih Keluyuran


Setelah selesai ngopi, ngobrol ngalor ngidul gak jelas kami sepakat mengunjungi makam Hajjah Fatimah di desa Cijati, Majalengka yang dikeramatkan dan mata air ajaib, konon katanya air dari sumur itu bisa mengobati berbagai macam penyakit dan volume airnya tetap meski kemarau panjang. Sampai di komplek makam saya tidak bisa melihat makamnya secara langsung, pintunya tertutup, harus sama kuncenya jadi hanya bisa mengambil gambar semacam pendopo di depan makam, menurut mang Dadang tiap malam jumat pasti ramai orang berzikir jika malam jumat kliwon lebih ramai malah ada yang menginap. Tidak jauh berbeda dengan yang ada di makam Mbah Sawala Sawali yang ada di hutan diklat (Kadipaten) pada keluyuran sebelumnya, belum sempat mengambil gambarnya mungkin nanti sebelum minggu.
--------------------------
Kadipaten


--Djenar Abunetti--
djenarabunetti@nokiamail.com
Sent from my Nokia
Baca selengkapnya »