Kacang Rebus

Menikmati kacang rebus sambil membaca berita di internet yang isinya soal kemelut parpol, kemelut artis terjerat narkoba, dan kemelut asmara pemain sinetron saya koq jadi heran mengapa jarang sekali berita yang mengenakan, menyenangkan atau menghibur sepertinya sangat jarang sekalipun ada seakan sepi peminatnya, tak pernah menjadi trending topic, misalnya berita anak SMU juara olimpiade fisika, mahasiswa menemukan batre dari bahan biji-bijian dan lain-lain yang bermuatan positif, terlihat sekali dari teras facebook saya yang berseliweran jika bukan tema korupsi ya tema gonjang-ganjingnya parpol, KDRT, pelecehan seksual dan tawuran. Sepertinya orang-orang pada ngilu dan meriang kalau tidak "ngeshare" berita yang semacam itu disertai olok-olok, cacian, hujatan dan seabrek embel-embel lalu yang lainya dengan tergesa segera mengamini, merespon dengan nada yang sama, minor.

Kalau sudah begini membaca berita menjadi sama enegnya dengan makan kacang rebus terlalu banyak menyebabkan mulas-mulas salah-salah bisa mencret, mencretnya akibat terlalu banyak mengkonsumsi kacang rebus hanya perut sendiri yang merasakan dan mencret yang diakibatkan terlalu banyak mengkonsumsi berita negatif menyebabkan bibir susah dikontrol, kuping tetangga jadi merah semua ucapan yang keluar seperti e'ek beleleran di celana, bad news is good news? ah itu bohong, membuat "Bad" yang membacanya dan membuat "good" keuangan pemilik media, media hanyalah hamba uang. Apa bedanya dengan penjual kacang rebus selain cari untung? Konsumsilah berita dan kacang rebus dengan bijak, sesuai kapasitas otak atau perut.
-------------------------
Cirebon, Talun


--Djenar Abunetti--
djenar.abunetti@gmail.com
Sent from my Nokia