Kebetulan

Ada begitu banyak kebetulan di dunia ini, entah itu yang betul-betul kebetulan atau kebetulan yang awalnya hanya dibetul-betulkan dan perlu dibetulkan kebetulanya. Betul apa betul? Mau tidak mau jawaban betul itulah yang akan keluar dari pikiranmu sebab kata betul sudah masuk ke alam bawah sadarmu bahwa itu memang betul tanpa perlu bertanya lagi. Dan saya kali ini betul-betul sok tahu, betul?

Betul, kali ini saya akan membetul-betulkan kebetulan yang tidak betul sama sekali dan tidak betul jika kebetulan ini dianggap betul-betul kebetulan. Kebetulan tersebut ketika saya betul-betul mengalami kosongnya perut yang entah betul entah tidak betul umumnya disebut "rasa lapar", lalu saya berjalan dengan betul (artinya tidak sempoyongan, pura-pura pincang atau pura-pura cacat agar di kasihani dan lainya) melewati jembatan penyebrangan orang (tidak betul sama sekali jika JPO dilalui motor untuk memotong jarak atau memutar), dan di depan saya ada orang yang berjalan lalu saya menjepretkan kamera. Ckreeek.

Betul sekali, handphone kembali saya masukan ke kantong jaket jeans yang betul-betul punya saya dan betul-betul saya beli dengan uang sendiri, saya melanjutkan perjalanan ke tenda biru (entahlah saya agak ragu, betul-betul biru atau hanya kebiruan) setelah betul-betul sampai, pesan makanan yang betul-betul makanan (artinya bukan makanan imitasi atau tiruan, pernah melihat buah tiruan? Dulu saya hampir menggigitnya karena tidak tahu itu buah imitasi yang terbuat dari plastik), makan sampai betul-betul kenyang. Dan pulang dengan betul (artinya tidak mampir kesana kemari).

Sesampainya di basecamp saya duduk membuka-buka handphone melihat foto-foto yang betul-betul ngawur (artinya asal jepret, apa saja difoto, mirip bocah kalau betul-betul dipikir) satu foto mengingatkan cover buku yang saya beli beberapa hari yang lalu. Jreng-jreng "Koq mirip ciiiiii.." pikirku setelah betul-betul melihat cover buku tersebut. Betul-betul maksa.

*Dunia pasca Manusia, menjelajahi tema-tema kontemporer filsafat teknologi, ditulis atau dikarang oleh Budi Hartanto diterbitkan oleh Kepik, cetakan pertama Februari 2013, 140 halaman dibeli di Gramedia Melawai, Blok M saat hati sedang galau, dibaca oleh siapa saja yang berminat membacanya.
-----------------------------------------
ex Wisma Timah, Pancoran, Jakarta.


--Djenar Abunetti--
djenar.abunetti@gmail.com
Sent from my Nokia