Sabtu pagi kemarin saya harus menjemput teman saya, Killila, di bandara Soekarno Hatta dan ini untuk pertama kalinya dalam hidup saya menjemput seorang gadis di bandara (biasanya dijemput, kuntilanak?) entahlah tiba-tiba saja saya mau melakukanya dengan semangat super hero, padahal belum lama mengenalnya dan baru bertemu dua kali dan saya ingin jujur mengakui bahwa Ia adalah sebuah pribadi yang berbeda, unik dan menarik, dan sejak jumat sore saya sudah berpikir untuk menyetel alarm di handpone agar bangun lebih pagi, mandi dan ganti baju lebih cepat (memangnya punya baju ganti?), sarapan dan mengejar bus kota ke terminal Blok M, menunggu bus Damri, selanjutnya saya tidak tahu mesti bagaimana. Nyatanya? Kesiangan.
Seperti saat pertama kali akan bertemu, Killila iseng bermain petak umpet, "hape lobet, aku matiin ya om" setengah sadar kujawab "okee" glekkk, ngantuku ilang seketika, aku tersentak sadar belum menanyakan dia naik apa, dan kupikir dia juga sengaja tak memberi tahuku, humor yang cukup menjengkelkan sebenarnya buatku tapi entahlah aku tak bisa marah di depanya karena sifat isengnya yang kelewatan atau mungkin saja saya belum benar-benar mengenalnya hingga humornya membuatku seperti ingin menjitak kepalanya sampai benjol sebesar telur angsa. Tapi ya itulah dia, Killila, kupikir dia tetap akan seperti itu meski kepalanya benjol dan sepertinya saya tak perlu melakukan kekejaman seperti itu.
Pagi itu pula saya harus menggangu teman lamaku si Ferdy yang seharusnya masih nyenyak di kasurnya, untuk sekedar bertanya di terminal mana saya harus menunggu Lion Solo-Jakarta meski sebenarnya saya tak yakin Killila menggunakan pesawat tersebut, hal itu karena saya panik saat dalam bus Damri saya bingung harus menjawab apa ketika awak bus tersebut menanyakan saya turun di terminal mana dan penumpang lain mencoba membantuku sekaligus memusingkanku, ia bertanya dengan logat khas kota Medan "temanmu naik apa?" dan tentu saja saya bingung karena memang tidak tahu dan sebagai lelaki saya merasa malu karena menjadi tampak lebih bodoh dari yang terlihat, terlebih di depan anak gadisnya yang duduk di sebelahnya. Dan kukira banyak lelaki termakan gengsi seperti ini, gengsi untuk terlihat lebih cerdas dari yang sebenarnya.
------------------------
Ditulis di Bandara Soeta, Jakarta, diedit di Pancoran, Jakarta juga sih, dibaca di mana-mana. :-D
--Djenar Abunetti--
djenar.abunetti@gmail.com
Sent from my Nokia