Keramat


Saya bukan tipe manusia yang percaya adanya sesuatu yang "keramat" seperti sumur keramat, makam keramat, danau keramat dan lain-lainya, jika saya mendatangi suatu tempat lantas ada peraturan harus berpakaian sopan, tidak membuang sampah sembarangan atau melakukan sesuatu yang bersifat merusak tempat tersebut lalu saya mematuhinya tentu bukan karena takut tempat itu keramat atau angker tapi karena memang sudah seharusnya begitu, tak berbeda di makam keramat, di dalam angkot, jalan raya ataupun di bioskop, bukankah di mana bumi dipijak di situ langit di junjung?

Keramat bukan sesuatu yang menakutkan dan selalu bersifat mistis atau berhubungan dengan klenik, keramat mungkin saja dibutuhkan untuk mendatangkan sesuatu yang lebih baik misalnya mengeramatkan jalan raya agar jalan tersebut terjaga kebersihanya, kehijauanya, kekuatanya dan seterusnya. Dan salah satu bentuk mengeramatkan jalan adalah adanya aturan kendaraan dengan bobot tertentu yang tidak diperbolehkan melintasi jalan tersebut, dan keramat melahirkan portal, jembatang timbang atau sistem buka-tutup pada sebuah jalan. Mengeramatkan adalah upaya manusia menjaga apa yang seharusnya dijaga, dijaga dari kerusakan yang ditimbulkan ketamakan manusia itu sendiri.
---------------------------
Cirebon, Talun.


--Djenar Abunetti--
djenarabunetti@yahoo.com
Sent from my Nokia