Seperti biasanya ia menyapaku setiap aku melintasi halaman rumahnya, sejak kedatanganku ia makhluk pertama yang menyambutku, ia tak peduli siapa aku, statusku dan segala tentangku. Pagi ini ia memanggilku dari balik pintu gerbang rumahnya, dan seperti biasa aku kesulitan memahami bahasanya, aku hanya bisa melambaikan tangan sebagai tanda aku mendengar sapanya dan berlalu menuju warung pulsa agar tetap bisa browsing, chatting atau sekedar spaming di status teman-teman.
Entahlah, tiba-tiba aku terpikir tentang dia yang ramah tanpa perlu diadd jadi teman atau sekedar jadi follower, sepertinya ia ramah pada siapa saja yang baru dilihatnya termasuk aku yang baru seminggu di sini. Ia memanggilku lagi dari balik pagar sepulangnya aku dari warung pulsa, aku menengoknya lagi melambai dan berlalu, berulang-ulang setiap hari sepanjang minggu. Lama aku memikirkan dia yang di balik pagar, kawan baruku mungkin sama kesepiannya denganku yang beberapa hari ini tinggal dan bekerja sendiri di komplek ini.
Ingin rasanya aku menanyakan apakah dia punya akun facebook, twitter atau nomor ponsel agar bisa langsung mendengar suaranya, suara yang sering mengagetkanku dari balik pagar, suara yang membuatku ingin melintasi jalan lain namun urung karena lebih jauh saat aku membeli pulsa, sarapan atau makan siang. Tapi kupikir ia bukan tipe netizen, netter atau apa saja. Tidak sepertiku yang seolah tak bisa hidup tanpa benda sialan bernama HP, ponsel, handphone, gadget dan apapun itu, sebab semakin pintar seseorang semakin sulit bahasanya meski hanya satu hal yang dikatakanya. Tidak seperti kawan baruku, ia sepertinya tak suka berkicau di twitter, ngomong jelek di status facebook dan pura-pura baik. Ia lebih suka bicara langsung, suka atau tidak diungkapkannya saat itu juga tanpa kepura-puraan.
Anjing tetangga, kapan kau berhenti menggonggongku??
------------------------
Taman Semanan Indah, Jakarta.
--Djenar Abunetti--
djenarabunetti@yahoo.com
Sent from Nokia Windows Phone


0 comments:
Posting Komentar