Sedang mengkhayal saja seandainya waktu sekitar tujuh jam yang digunakan tim salep delapan-delapan menggerebek (terduga) teroris digunakan untuk mencangkul sawah, berapa luas atau berapa petak yang berhasil dicangkul? Tak perlu serius, ini hanya khayalan, atau pengandaian yang silakan dianggap berlebihan, norak atau melecehkan. Tapi sebelumnya silakan simak pernyataan para pakar atau pengamat teroris, tak bisakah dibuat "operasi senyap"? Selanjutnya saya mempersilakan pembaca untuk menilai kinerja tim salep tersebut, sebab gaya narsis di Bandung kemarin bukan yang pertama, dan menurut pengalaman saya sebagai tukang cangkul sawah, mencangkul yang kedua lebih baik dari mencangkul yang pertama, sebab sebelumnya saya sudah mempelajari seberapa keras lahan yang harus dicangkul apakah itu tanah lempung atau tanah berbatu dan berpasir, bisa mengatur nafas, tempo, atau berapa besar tenaga yang diperlukan saat mengangkat pacul dan berapa besar yang dibutuhkan saat mengayunkannya. Mencangkul memang lebih sederhana dari menembak. Dan sejauh ini belum ada "mencangkul senyap".
Tujuh jam itu sama dengan sehari kerja para buruh pabrik, kuli bangunan, tukang laundry atau mereka yang lebih banyak menggunakan otot ketimbang otak dan tanpa latihan khusus. "mencuci" atau "mencangkul" teroris memang tak sama atau malah jauh berbeda dengan mencangkul sawah atau mencuci karpet, tapi konon pengalaman adalah guru paling berharga. Saya jadi berpikir koq tim salep masih memakai gaya lama atau memang menyukai gaya ini? Atau tak belajar dari pengalaman?, kalau kata anak muda jaman sekarang, "ngapain aja lo selama ini?"
----------------------------
Jembatan Dua, Jakarta.
--Djenar Abunetti--
djenarabunetti@yahoo.com
Sent from my Nokia