Sebuah subuh bergulir pelan, menggelinding, membentur tiang gawang lalu pecah, disemburkan moncong pengeras suara di mushola ke luasnya udara, subuh menyebar, dengan segera meresap ke dalam pori-pori sepi, mengendap, sunyi.
Sebelumnya, subuh berlari, beradu cepat dengan langkah peri penghuni lorong remang mungkin juga gelap, dengan gincu menyala diterpa terang lampu jalan, terbatuk, terantuk, tersuruk di hiruk pikuk kota yang tak mengenal kantuk. Subuh terus berlari dalam sadarnya, dalam tidurnya.
Sebelumnya, subuh berdesakan di commuterline, antri di loket, menembus rapat gerimis, meloncati genangan, lubang jalanan, subuh meloncat-loncat dalam girangnya, dalam sedihnya. Subuh terus meloncat-loncat entah untuk apa dan untuk siapa.
Sebelumnya, subuh membersihkan diri, mengejar kopaja ke arah senja, menuruni puluhan anak tangga untuk sebuah nama dalam hatinya, Killila.
--------------------------------
Jembatan Dua, Jakarta.
--Djenar Abunetti--
djenar.abunetti@gmail.com
Sent from my Nokia