Curhat

Pernah dicurhati teman? Sering? Baguslah kalau sering artinya tidak kaget kalau sekarang saya curhati dong, curhat tentang curhat. Lho, iya curhat tentang curhat, kalau kau bingung aku juga bingung bagaimana memulai curhatnya. Jadi begini, tadi siang ada teman curhat denganku, masalahnya biasa saja menurutku, aku tidak terfokus sama masalah yang dihadapainya, aku lebih fokus pada caranya dia curhat. Bingung? Ntar dulu aku belum selesai curhatnya.

Dia itu biasa menulis (status), dan aku tak tahu jenis tulisannya, sepertinya syair atau puisi gitu deh, meski aku tak yakin itu jenis dari keduanya, aku sendiri tidak peduli dia mau nulis apa, selama tidak mengganggu stabilitas NKRI oke sajalah. Nah saking puitisnya, dia curhat dengan bahasa yang puitis juga, tentu sulit untuk dipahami orang sepertiku, boro-boro aku bisa menanggapi masalahnya, mengerti pun tidak, bingung sudah pasti, menebak-nebak kemana arahnya dan apa yang dibicarakannya. Butuh waktu lebih lama untuk memahami kalimatnya jika dibanding bahasanya anak alay.

Berkali-kali aku minta dijelaskan dengan bahasa sehari-hari, bahasa yang biasa saja, berkali-kali juga tak dipedulikan. Jadi kupikir dia memang punya masalah serius, lebih serius dari masalah yang sedang dihadapinya sekarang. Sepertinya ia hidup di awang-awang, tapi bagaimana mungkin di sana tidak ada PLN.

Akhirnya aku capek sendiri, lebih capek dari ngetik curhatanku sendiri, aku hanya berpesan "tempatkan sesuatu pada tempatnya", sebab aku curiga semua masalah yang dihadapinya berawal dari kesalahannya menempatkan sesuatu tersebut.
----------------------------------
Galuh Timur, Jawa Tengah.


--Djenar Abunetti--
djenarabunetti@yahoo.com
Sent from Nokia Windows Phone

0 comments: