Kaos

Demi hidup tak perlu harus mati, demikian bunyi sebuah slogan yang tertulis di punggung kaos hitam "seragam" grup musik underground, entah grup apa, saya pun merasa tak perlu harus (cari) mati untuk sekedar tahu namanya, dan yang jelas saya  kesulitan memahami slogan tersebut, sepertinya saya butuh sekolah khusus slogan, jargon dan entah apa lagi.

Demi hidup tak perlu harus mati, di "alam kaos" sepertinya mudah, kita tak perlu mati-matian mempertahankan hidup, demikian yang terlintas dipikiran saya yang entah benar entah tidak. Dan lagi-lagi saya tak perlu harus (cari) mati sekedar untuk mempertahankan pendapat saya, sekilas seperti tak menghargai hidup, mudah menyerah, skeptis dan apatis (apa sih bedanya dua kata ini, asal nemplok biar dikira intelek).

Beda di "alam kaos" beda di "alam buruh", di alam buruh hidup harus diperjuangkan sampai titik darah paling ironi, mati di tangan saudara sendiri, saudara setanah air, yang jelas-jelas sama susahnya.

Maka jika kita merasa hidup tak lagi nyaman, aman apalagi sejahtera masuklah atau pindahlah ke "alam kaos", ya kaos mana saja.

Dan kupikir kita memang sebenarnya sudah di "alam kaos", kaos yang membuat kondisi chaos, kaos biru, kuning, merah dengan slogan atau jargon masing-masing yang sama susahnya dipahami, sebagaimana slogan grup musik underground.
-------------------------
Galuh Timur, Jawa Tengah.

--Djenar Abunetti--
djenarabunetti@yahoo.com
Sent from Nokia Windows Phone

0 comments: