Pagi ini halte Kota Tua sungguh sangat sumpek, ya setiap pagi akan seperti itu selama kita masih ingin didahulukan semakin banyak yang berdesakan, dorong-dorongan sikut-sikutan, seolah tanpa itu kita kurang berkelas, kurang hebat. Bukankah kita akan merasa enak jika masuk pelan-pelan, tertib, yang keluar didahulukan toh sopir busway sepertinya bukan tipe kejar setoran, soal telat di tempat kerja toh sudah biasa, mengapa harus tampak mengejar waktu jika kita bangun selewat dhuha?. Kalau antri saja tidak bisa, bagaimana dengan hal lain yang lebih serius dari sekedar antri? Wallahu a'lam.
Tapi sepertinya kita selalu dan terlalu asik dengan hal-hal seperti itu, dan sepertinya kita memang menyukai yang sumpek-sumpek, sambil berharap sumpek menjadi indah tanpa melakukan perubahan dari dalam diri kita sendiri, atau jangan-jangan kita berpikir sumpek itu demokratis, sumpek itu puitis, sumpek itu filosofis, sumpek itu harmonis, sumpek itu tak melanggar HAM.
Apa setelah kita bisa masuk ke dalam busway lalu semua selesai? Tidak! Kita sepertinya memang ditakdirkan lahir untuk sikut-sikutan, dorong-dorongan. Di dalam bus kita harus menyikut yang lain agar tak mendapat tempat, kalau perlu kita lemparkan saja ke luar dari bus, tak peduli dia bayar atau tidak, tak peduli itu wanita atau orang tua atau malah anak-anak. Kita rajin mengutip ayat "masuklah kamu ke dalam surga dari pintu yang mana saja", dan benar-benar dipraktekkan dalam keseharian kita di halte busway, tak peduli di depan pintu ada berapa orang yang datang lebih dulu, yang penting dorong dan masuk, pintu untuk wanita atau sebaliknya.
Lain penumpang lain pula supirnya, tak hanya penumpang yang berdesakan, sikut-sikutan, sopir pun tak lepas dari acara sakral ini, desak-desakan dengan kendaraan lain. Lihat saja di setiap perempatan, masing-masing seolah menyumbang paling banyak untuk pembuatan jalan tersebut terutama pemilik motor, berhenti dengan menjorok ke jalur lain, (yang dari arah timur berhenti lebih maju, demikian juga yang dari arah barat, tinggal yang dari arah utara dan selatan yang harus ekstra hati-hati melaju, ironisnya itu di jalurnya sendiri). Bagaimana kita antri, begitu juga kualitas kita.
----------------------------------------------
Koridor 12, Pluit-Kota Tua-Tanjung Priok.
--Djenar Abunetti--
djenarabunetti@yahoo.com
Sent from Nokia Windows Phone.
Tapi sepertinya kita selalu dan terlalu asik dengan hal-hal seperti itu, dan sepertinya kita memang menyukai yang sumpek-sumpek, sambil berharap sumpek menjadi indah tanpa melakukan perubahan dari dalam diri kita sendiri, atau jangan-jangan kita berpikir sumpek itu demokratis, sumpek itu puitis, sumpek itu filosofis, sumpek itu harmonis, sumpek itu tak melanggar HAM.
Apa setelah kita bisa masuk ke dalam busway lalu semua selesai? Tidak! Kita sepertinya memang ditakdirkan lahir untuk sikut-sikutan, dorong-dorongan. Di dalam bus kita harus menyikut yang lain agar tak mendapat tempat, kalau perlu kita lemparkan saja ke luar dari bus, tak peduli dia bayar atau tidak, tak peduli itu wanita atau orang tua atau malah anak-anak. Kita rajin mengutip ayat "masuklah kamu ke dalam surga dari pintu yang mana saja", dan benar-benar dipraktekkan dalam keseharian kita di halte busway, tak peduli di depan pintu ada berapa orang yang datang lebih dulu, yang penting dorong dan masuk, pintu untuk wanita atau sebaliknya.
Lain penumpang lain pula supirnya, tak hanya penumpang yang berdesakan, sikut-sikutan, sopir pun tak lepas dari acara sakral ini, desak-desakan dengan kendaraan lain. Lihat saja di setiap perempatan, masing-masing seolah menyumbang paling banyak untuk pembuatan jalan tersebut terutama pemilik motor, berhenti dengan menjorok ke jalur lain, (yang dari arah timur berhenti lebih maju, demikian juga yang dari arah barat, tinggal yang dari arah utara dan selatan yang harus ekstra hati-hati melaju, ironisnya itu di jalurnya sendiri). Bagaimana kita antri, begitu juga kualitas kita.
----------------------------------------------
Koridor 12, Pluit-Kota Tua-Tanjung Priok.
--Djenar Abunetti--
djenarabunetti@yahoo.com
Sent from Nokia Windows Phone.

0 comments:
Posting Komentar