Tempenesia

Akhir-akhir ini bangsa yang biasa disebut bangsa tempe kelimpungan dikarenakan mahalnya harga makanan yang terlihat sepele, berbahan dasar kedelai, dari manusia sampai keledai  banyak peminatnya, TEMPE. Tapi entah keledai yang mana membuat harga kedele melambung tenggeeeee sekaleee menyebabkan pengrajin tempe kecele, penikmatnya hanya bisa "mele-mele" atau mejulur-julurkan lidah karena harganye melamboeng tenggeee.

Sudah seharusnya bangsa Tempenesia bangga dengan produk lokal bernama tempe ini, siapa sangka makanan yang diklaim makanan orang kere ini membuat negara yang besar kepala ini tampak jadi lebih kecil dan tak berdaya hanya karena tempe, dan memble. Mungkin nanti muncul ideologi tempeisme atau semacam gerakan spiritual, moral atau malah sebatas oral yang akan memperjuangkan nasib bangsa tempenesia, mulai dari petani kedelai sampai pengrajin tempe (perajin atau pengrajin ya?)

Tempenesia yang sekarang memang berbeda dengan tempenesia yang dulu, sampai-sampai ada artis cilik dadakan bernama Tempe Satria menyanyi yang liriknya "tempe dulu bukanlah tempe yang sekarang.....sekarang alhamdulillah"
--------------------------------------------------
Pasar Pagi, jakarta Barat


--Djenar Abunetti--
djenarabunetti@yahoo.com
Sent from Nokia Windows Phone

0 comments: