Sahur kelima, sepertinya aku mulai bisa bangun sendiri sebelum teriakan khas 'banguuun, mau sahur gaaak' dari lantai bawah ruko tempat aku dan kawan-kawan tinggal, malahan kali ini aku membangunkan keponakanku yang satu lantai denganku. Sedangkan aku semalam baru tidur jam setengah satu setelah selesai kerja lembur sampai jam dua belas malam menyelesaikan pekerjaan pengecoran enam belas tiang utama. Seharusnya malam ini aku terlelap karena kelelahan, namun yang terjadi mataku lebih cepat terbuka.
Puasa seharusnya memang begitu, membuat kebiasaan-kebiasaan baru yang tadinya terasa sulit dilakukan. Diawali dengan bangun sekitar jam tiga dinihari (sepertiga malam terakhir) untuk makan sahur, sholat malam, berdzikir atau tadarus sambil menunggu masuknya waktu shubuh. Waktu inilah waktu yang paling enak-enaknya untuk tidur dan bermimpi namun waktu ini juga salah satu waktu paling utama yang dinantikan para pecinta dan perindu tuhan untuk berkomunikasi dengan kekasihnya.
Hari kelima, mudah-mudahan aku lebih mampu membiasakan diri tak seperti hari pertama dan kedua yang terasa sangat berat mengendalikan diri terlebih pada emosi, kalau hanya menahan lapar aku rasa semua orang bisa. Tak mudah buat orang temperamental sepertiku untuk tidak 'meledak' di tengah terik matahari sepanjang hari, kehausan dan suasana lapangan yang kadang tak sejalan. Dan sabar haruslah jadi kebiasaan yang dibawa di mana saja, kapan saja bukan sekedar sabar menanti datangnya sirup, es campur atau buah segar dari beduk imsak sampai beduk maghrib lalu balas dendam.
Munjul, Majalengka.
--Djenar Abunetti--
Sent using a Sony Ericsson mobile phone