Sahur ketiga tak seperti yang pertama dan kedua, kali ini lebih mudah bangun, lebih cepat membuka mata dan tak perlu 'colekan' cukup satu teriakan dari lantai bawah aku sudah bangun dan mampu menjawab teriakan tersebut tak kalah kencang (ketahuan banget gue gak pernah bangun malam pada bulan lainya apalagi untuk sholat malam, hadeeeh). Udara di Majalengka pada jam-jam seperti ini sangat dingin, untuk orang jenis pemalas sepertiku jam lima sore pun sudah terlalu dingin untuk mandi namun pada siang hari matahari sangat terik, kuli bangunan sepertiku butuh kesabaran ekstra untuk tetap puasa di bawah sinar matahari sepanjang hari, maklum bangunan masih dalam tahap konstruksi jadi masih serasa menanam beton di lapangan sepak bola.
Kadipaten, Majalengka
--Djenar Abunetti--
Sent using a Sony Ericsson mobile phone