Tidak Ada Judulnya

Apa karena judulnya tidak ada judulnya lantas saya harus menutup handphone, dan tidak melanjutkan menulis isinya, lalu tidur dengan rasa penasaran yang tak terjawab? Sepertinya itu ide yang buruk, lebih buruk dari catatan ini, tentunya itu juga bukan sesuatu yang pasti.

Iya? Jika jawabanmu "ya" itu membuat saya nyaman dan merasa menemukan teman baru, bukan teman seperjuangan, sekerja atau seranjang tapi teman se-kegelisahan, rasanya aneh ya di telinga koq bisa ada teman se-kegelisahan, gelisah massal. Hah? Loe aja kali gelisah gue nggak, katamu ketus.

Kita melompat saja ke dunia perpolitikan kita yang sedang gelisah, gelisah tak didengar, gelisah takut tak terpilih, takut tak dianggap pahlawan, dan lupa bahwa memberikan sesuatu yang baik untuk bangsa dan negara tak perlu terkenal lebih dulu, tak harus jadi presiden dulu, jadi wakil rakyat dulu, atau jadi menteri, agaknya rumus sederhana tersebut sudah tak terpakai. Politisi, presiden, blogger, tukang kopi, atau tukang gali kubur hanyalah sebuah judul dari serangkaian perbuatan makhluk yang bernama manusia, kita bisa memilih judul semaunya, seperti saya yang memberi judul catatan semaunya.

Tetapi saya benar-benar belum mampu mengusir gelisah kali ini, dan ini bukan main-main meski saya percaya ada sekian ratus kegelisahan yang menguap ke udara Jakarta malam ini, tapi kegelisahan seringkali membuat orang-orang merasa sendiri dan terasing, seperti gelisahnya rakyat Indonesia yang merasa tak punya pemimpin atau sekedar wakil. Apa karena kita bukan siapa-siapa lantas tak mau melakukan apa-apa?
-----------------------------
Jembatan Dua, Jakarta.


--Djenar Abunetti--
djenarabunetti@yahoo.com
Sent from my Nokia