"Ampun, sudah setengah duabelas, bulan sudah mengambang pias di langit luas sebentar lagi bulan amblas tak berbekas dikoyak makhluk melolong buas, dan kau Noyaw, belum menemukan kalimat paling bombastis atau mungkin yang paling sarkas sekalipun untuk menggambarkan apa yang ada dalam pikiranmu. Ampun, sudah setengah duabelas lewat sedikit, apa lagi yang kau tunggu Noyaw? Cepatlah cari kata-kata itu, kata paling indah, kata paling merdu, atau syahdu, barangkali ada di ujung gang, di balik tapal batas wilayah nyata dan khayal". Boy terus menggerutu sejak sore tadi, akibat tak menelan kopi bubuk tanpa gula, Boy jadi sedikit aneh akhir-akhir ini, kemarin Boy lebih aneh, minum teh tubruk dicampur asam dan tanpa gula. Rasa sepet asem membuat matanya seperti hendak melompat.
"diamlah Boy, hari sudah selarut ini coba matikan tivi dan hemat energi lalu biarkan aku masuk ruang multidimensi tanpa batas nyata dan khayal, atau biarkan saja tivi itu menyala, barangkali suara-suara presenter itu mampu membimbingku pada pencerahan spiritual paling instan, pencerahan selangkangan, yah mungkin saja jika semua selangkangan tercerahkan takan ada lagi skandal seks, prostitusi dan semacamnya tapi dunia takan menarik lagi, kau tahu Boy? Tanpa selangkangan dunia takan bergerak sejauh ini, tanpa selangkangan Eyang Subur atau Aceng Fikri dunia takan seriuh ini, dan semua itu bentuk lain dari "menjual selangkangan". Selangkangan meningkatkan rating, rating menarik iklan, iklan membawa uang, uang menarik selangkangan, selangkangan menarik selangkangan, tarik menarik, dorong mendorong. Dan kita lahir dari desakan semacam itu!!". Noyaw setengah berteriak, bersaing dengan suara tivi yang tak pernah mati dari pagi bertemu pagi.
"ah kau mulai lagi menyempitkan persepsi selangkangan dan dunia, baiklah Noyaw aku akan menyempitkanya lagi, menyempitkan selangkangan, sebagian orang ingin masuk surga karena menjaga selangkanganya sebagian lagi ingin masuk surga dengan membebaskan selangkanganya lalu di golongan manakah kita berada? Sudahkah kita membebaskan pikiran kita dari selangkangan yang ternyata tak sesempit yang kita duga? Selangkangan seperti gerbang dari dua alam, ia adalah batas dari dua titik yang berbeda. Bukankah kita berpindah alam melalui selangkangan? Atau paling tidak tak jauh dari itu sebab operasi cesar memungkinkan perpindahan dari alam rahim ke alam dunia tanpa melalui selangkangan". Boy tampak lebih bersemangat dengan tema pembicaraan ini.
"ya, selangkangan adalah sebuah batas, atau tapal batas nyata dan khayal sebab masuk surga atau masuk neraka karena selangkangan bisa jadi benar dan bisa jadi salah, namun yang sering kudengar tuhan berkata melalui utusanya bahwa Ia tak menyukai orang-orang yang melampaui batas". Noyaw seperti setengah yakin mengatakan kutipan ayat suci tersebut, mungkin juga sudah mengantuk, kami menatap langit-langit kamar, tak ada apapun selain pikiran kami yang jarang bertemu.
--------------------------------------
Jembatan Dua, Jakarta.
--Djenar Abunetti--
djenar.abunetti@gmail.com
Sent from my Nokia