Kumuh

Sekarang saya bekerja di kawasan Jembatan Dua, Jakarta, tepat di gang seberang stasiun Angke. Kawasan ini sangat padat penduduk, rawan kebakaran dan banjir. Kesan pertama yang ada di kepala saya tak akan mampu bertahan lama di sini, namun setelah tiga hari saya mulai betah dan lebih menyukai kawasan kumuh ini ketimbang di Pancoran yang elite tempo hari. Saya masih ingin membandingkan rasanya tinggal di kawasan kumuh seperti ini dan tinggal di komplek elite, di sini saya bisa menemukan atau mendapatkan semua yang saya dan teman-teman butuhkan dengan mudah, seperti warung pulsa, warung nasi, warung rokok, warung kopi, pasar sayur, dan pasar loak sementara di Pancoran saya hanya sanggup bertahan dua minggu, di sana di atas jam lima sore harus siap-siap melangkah lebih jauh hanya untuk mencari warung nasi, warung pulsa dan lebih bising. Kumuh itu indah.

Tinggal di kawasan kumuh dan multietnis seperti ini memang lebih banyak yang didapatkan, kita bisa belajar tidak mengendarai motor semaunya, bayangkan sempitnya jalan jika sesama pejalan kaki saja saat berpapasan pun masih bersenggolan. Kita juga bisa belajar tentang toleransi beragama secara langsung bukan sekedar berteori, beretorika, berwacana ria atau berbusa-busa di kelas-kelas atau di forum manapun, di sini semua agama ada, dan satu-satunya yang merekatkan mereka adalah cinta , sebab cinta lebih tua dari agama, lebih mudah dibahasakan dan diterima. Saya jadi berpikir mungkin mereka yang hobi teriak-teriak di socmed tidak ada toleransi beragama tidak pernah keluar dari kamarnya atau sekedar melongokan kepala keluar jendela.

Tuhan tak mudah murka jika manusia tak mudah menghakimi sesamanya, dan sebuah firman yang terlupakan tertulis di dinding gang "elu asik gue santai, elu usik(l) gue bantai"
----------------------------
Jembatan Dua, Jakarta.


--Djenar Abunetti--
djenar.abunetti@gmail.com
Sent from my Nokia