Pagi menjelang siang, aku masih duduk di sini di kursi kayu bertiga dengan kopi di mug bergambar Bernard Bear di atas meja bertaplak merah yang kusam termakan tajamnya gigi hari-hari serta buku kumpulan puisi pemberontakan yang kupinjam dari teman sejawat yang baru setengahnya kubaca dan aku tak tahu ini akan selesai atau akan masuk tumpukan tanpa pernah kembali ke pemiliknya dan seperti buku lainya menjadi remah-remah sisa kutu-kutu yang lebih tahu dariku bagaimana caranya menamatkan buku setebal tembok. Aku masih menempati rumah orang tuaku di desa Galuh Timur, desa yang entah mengapa selalu merasa lebih maju dari desa lainya hanya karena penduduknya mengadopsi segalanya dari kota sebesar Jakarta, lalu anak-anak muda membusungkan dada "kamilah anak jaman, anak masa depan" dengan sempoyongan dan nyaris terjungkal.
Cuaca hari ini cukup lembab namun orang-orang tak patah semangat untuk terus menggelar padi di atas *gribig, dan berdoa semoga matahari tak cepat bosan hari ini. Kopi belum terlalu dingin ketika riuh anak-anak seumuran keponakanku yang berusia empat tahun memasuki rumah menyelusup ke kolong meja di mana aku menikmati hari yang lembab ini lalu berlari memperebutkan posisi di depan tivi. Dan aku tak tahu mengapa harus pagi, kopi dan puisi sebab ini tampak sangat biasa seperti paragraf-paragraf yang sudah sering melintasi teras facebook, dan mungkin besok aku akan menggantinya menjadi sesuatu yang lebih biasa semisal pagi, nasi dan sambal terasi dan kupikir itu lebih manusiawi, baiklah besok kuteruskan catatan ini, catatan sambal terasi.
*gribig atau tambag, terbuat dari anyaman bambu, mirip tikar, bisa di gulung, namun jika di buat untuk plafond namanya menjadi tambag
------------------------------------
Galuh Timur
--Djenar Abunetti--
djenar.abunetti@gmail.com
Sent from my Nokia