Sebuah Pagi di Galtim

Pagi terbangun dari lelap dan menguap begitu saja dari tempat tidurnya setelah anak-anak riuh bermain melempar kerikil ke atas genting menangkapnya dan melemparkanya kembali berulangkali menyebabkan mata sang pagi enggan terpejam lagi dan memilih menguap begitu saja tanpa permisi bersama embun seperti mulut-mulut yang menguapkan banyak liur dan janji demi sesuap suap, pagi pergi hanya meninggalkan jejak-jejak sarkasme, sinisme, kedangkalan dan kedongkolan ataupun kejumudan tentang Century, kitab suci dan elpiji bahkan neraka yang panasnya melebihi panasnya kursi ikut menguap lenyap bersama pagi yang mendadak senyap setelah anak-anak pelempar kerikil dianjurkan bermain petak umpet dengan cacing-cacing di perut yang terus meratap memohon untuk disuap tak cukup dihibur dengan acara demo memasak dengan sebaskom payudara nyaris tumpah sebagai penguat rasa dan pengundang selera.

Dan kemudian pagi kutemukan kembali setelah melewati sebuah sore yang bulat menggelinding turun menuju remang maghrib, pecah di gelas-gelas pelan meleleh, menguap di dingin kabut isya ringan tak berjejak dan bisa jadi pagi tak pernah datang lagi setelah tahu aku memperlakukanya dengan tak semestinya seperti orang lain.
---------------------------------
 Galuh Timur


--Djenar Abunetti--
djenar.abunetti@gmail.com
Sent using a Sony Ericsson mobile phone