Aku kembali ke Galuh Timur meninggalkan dinginya udara Majalengka menuruni perbukitan, melintasi gunung kapur dan menikmati setiap liuk tikungan tajam sesekali lubang jalanan membuatku terlonjak dari jok mobil carteran dengan pengemudi yang mirip raja jalanan. Di seberang jalan orang-orang mengumpulkan dan memecah batu di sungai, mengumpulkan kayu bakar, memperbaiki saluran air, menggiring sapi dengan wajah berseri tak seperti dirimu yang merisaukan apakah air PAM mengalir dengan lancar, tersendat-sendat atau tidak sama sekali, listrik yang padam tiga kali sehari atau tayangan tivi yang mendadak jadi religus, 'dengan ramadlan kita tingkatkan mutu ibadah' diucapkan oleh koruptor murah senyum dan artis yang biasa setengah telanjang menajiskan poligami namun siapa saja bisa menidurinya, oh aku merisaukan sesuatu yang tak perlu terlebih artis itu.
Aku kembali ke Galuh Timur sebuah kampung yang menurutku lebih mirip miniatur Indonesia di mana segala kebusukan ada di sini lebih busuk dari jejak-jejak babi yang mengoyak moyak ladang kangkung musiman ibuku di tepi sungai yang dulu mengalir jernih hingga ikan-ikan dengan jelas terlihat sampai potassium memusnahkanya tanpa sisa kemudian kita terlambat menyadarinya akibat bujukan kota.
Aku selalu rindu kampung halamanku yang dulu, sebelum era globalisasi, modernisasi dan digitalisasi didengungkan corong-corong media yang berisi kebusukan, kebrengsekan dan segala bentuk kemunafikan.
Aku selalu rindu kampung halamanku kampung yang membesarkanku, mengajariku dan membawaku menyusup ke jendela kamarmu pada sebuah malam minggu ketika itu, aku selalu rindu.
------------------------------------
Galuh Timur
--Djenar Abunetti--
djenar.abunetti@gmail.com
Sent using a Sony Ericsson mobile phone