Teriak

Baiklah, daripada bengong tak bisa tidur yang tak ketahuan sebabnya ini saya akan teriak-teriak, siapa tahu ada yang kasihan dan memberikan obat penenang, obat tidur, nasi padang dan  syukur-syukur duit sekarung. Teriak tak selalu salah, jelek dan menganggu, teriak-teriak saat ada orang budeg jalan di rel kereta lalu ada kereta mau lewat bisa jadi wajib hukumnya, teriak-teriak bangunin orang sahur bisa jadi bagus untuk latihan vokal, teriak-teriak tengah malam seperti ini di blog, di medsos bisa jadi makruh, mubah bahkan haram. Iya dong, tergantung siapa yang menghukumi, dan ketimbang saya dihukumi orang lain mending dihukumi diri sendiri. Boleh setuju boleh tidak, suka-sika situ deh, nulis sendiri hukumin sendiri masuk neraka dengan senang hati juga sendiri. 

Ya memang, teriak bisa jadi baik pada saat tertentu tapi sepertinya teriak itu lebih banyak dinilai jelek, aliran musik gedubrakan yang banyak-banyak teriak dinilai isinya tukang mabuk, padahal belum tentu juga, sementara yang pagi buta, siang bolong, tengah malam muterin pengajian keras-keras di musola juga sama menganggunya karena diteriakkan  pakai toa keras-keras, memangnya kalau dinikmati sendiri kenapa? Toh tuhan katanya tidak tuli dan tidak tidur. Kalau dikatakan mabuk malah marah, ya jelas itu mabuk agama. Melanggar hak orang lain itu dosa, dan orang lain punya hak untuk tidak mendengarkan tadarusmu, musikmu, teriakanmu.

Tapi semua orang sepertinya suka teriak, dan saya juga tentunya. Teriak itu tanda ingin didengarkan, dianggap ada, jangan-jangan kita tak terbiasa mendengar suara-suara di sekitar kita karena telinga sudah pekak oleh teriakan sendiri. Dan suara-suara di sekitar kita menjadi gangguan karena kita terlalu menikmati teriakan sendiri, dan menganggap teriakan kita paling merdu dan paling benar, karena kita terlalu pongah terhadap keadaan.

Eh, tetapi sepertinya diam, didiamkan, dan mendiamkan  bisa jadi sama capeknya dengan teriak. Menurutmu?.
---------------------------------------
Batuampar, Batam.

*foto lupa sumbernya dari mana, sorry.

Djenar Abunetti‎

Sent from my BlackBerry 10 smartphone

0 comments: