Selesai sahur mata agak ada sepet-sepetnya gitu, mau tidur tapi katanya gak bagus. Gak tahu juga sih gak bagus buat apa, dan kata siapa. Tapi memang pastinya ada yang lebih bagus sih ketimbang tidur, berwudlu lalu berdzikir atau banyak-banyak beristighfar.
Tak butuh perjuangan berat untuk bangun sahur tadi, seolah ada yang membangunkan, lalu menengok jam di telepon genggamku menunjukan jam tiga kurang limabelas menit. Mungkin kebetulan. Pas banget kalau kupikir, tak kemalaman juga tak kesiangan. Jadi punya lebih banyak waktu untuk mencari dan mendapatkan lauk untuk sahur, kalau nasi masak sendiri. Eh, dimasakin teman.
Tapi ini bukan jadi jaminan bahwa pada sahur berikutnya saya akan mudah bangun, perjuangan untuk bangun pada waktu yang tepat untuk sahur akan terus dan harus dilakukan untuk menjadi lebih baik. Perjuangan adalah tanda hidup, dan bahkan hidup itu sendiri. Katanya orang, bukan kata saya.
Perjuangan, sebuah kata yang berat kalau kupikir-pikir. Bagaimana menurutmu? Dan sepertinya semua makhluk memiliki cara berjuang, cara bertahan hidup bagi dirinya atau kelompoknya. Di bulan puasa kita dituntut berjuang mengendalikan diri, bukan mengendalikan orang lain. Kita lebih dianjurkan "menutup mulut" terhadap warung, bukan dianjurkan menutup warung sementara mulut dibiarkan "menganga".
Lalu kenapa judulnya sedemikian hebat seperti nama belakang sebuah partai? Tidak ada apa-apa, namanya juga judul, bisa saja judulnya ngalor isinya ngidul, fotonya ngulon, endingnya ngetan, dan kupikir itu biasa di era sekarang-sekarang ini. Tak ada judul yang tak retak. Dan saya penyuka ketidakselarasan, kengawuran, kengacauan dan yang semacam itu. Sebagaimana pikiran-pikiran tak terkendali, tak terpimpin dan miskin usaha untuk selaras di antara laku-laku kehidupan dengan nilai agama dan budaya.
Sudah imsak, saatnya koplak.
---------------------------------------
Batuampar, Batam.
--Djenar Abunetti--
Sent from my BlackBerry 10 smartphone


0 comments:
Posting Komentar