Bisa kita bayangin dong seberapa tingginya gunung yang terbuat dari "sampah" makanan yang kita buang setiap hari, atau malah tak terbayangkan karena saking tingginya? Berapa energi yang terbuang sia-sia? Tak terhitung!. Kalau sebutir nasi yang ada di piringmu saja misalkan didatangkan dari Cianjur berapa liter bahan bakar yang dihabiskan untuk mengantarkannya ke kotamu? Belum ongkos penanaman, perawatan, pemanenan. Itu hanya sedikit contoh kira-kira yang jauh dari data yang sesungguhnya.
Berapa orang yang menghargai, mensyukuri makanan yang ada didepannya dan berapa yang tidak? Ini lebih rumit lagi karena tida bisa didata, sebab ada yang makan dengan penuh syukur dan ada yang makan sambil menggerutu hanya karena kurang pedes, kurang asin, atau malah kurang banyak.
Di tempat lainnya ada yang sengaja membuang makanan, padahal masih layak dinikmati, bisa karena memesan makanan terlalu banyak, membuang makanan untuk kesenangan seperti lempar-lemparan buah tomat, kue tart dlsb. Dan alam harus terbungkuk-bungkuk menopang semuanya itu, menahan beban kerakusan manusia yang tak pernah ketahuan ujungnya.
Puasa seharusnya membuat kita lebih peka dengan hal-hal semacam itu, peka dengan derita orang lain yang kekurangan, peka terhadap lingkungan di mana kita tinggal, peka terhadap planet kita di mana kita tinggal dengan menghormati, menghargai, dan mensyukuri makanan yang ada di depan kita. Bukankah puasa seharusnya membuat kita lebih sederhana dalam memandang kebutuhan kita, dan bukan menyederhanakan, menyepelekan keinginanan-keinginan yang melintas di hati, pikiran. Sebab keinginan tak pernah mengajak sederhana. Makanlah apa yang kita butuhkan, bukan yang kita inginkan. Pemanasan global bisa dimulai dan dikurangi dari meja makanmu. Sederhana bukan?.
---------------------------------------------
Batuampar, Batam.
Djenar Abunetti
Sent from my BlackBerry 10 smartphone


0 comments:
Posting Komentar