Saya sering membeli barang bekas atau barang loakan, tentu di pasar loak. Buku bekas saya biasa berburu di Asemka atau Blok M Square, juga di Pasar Senen, ada di Jakarta semua. Sementara untuk membeli celana bekas biasa di Pasar Kebayoran Lama, Pasar Poncol yang masih termasuk kawasan Pasar Senen.
Di Batam, saya menyebutnya Pasar Jodoh juga banyak barang loak yang bagus-bagus, ada sepatu, celana sampai tas. Di sini sepatu bekas bisa seharga empatratus ribu, tas bekas duaratus limapuluh ribu, bayangin berapa harga barunya. Tentulah ada uang ada barang. Kalau celana tak jauh beda dengan pasar-pasar yang ada di Jakarta, tawar-menawar seperti tak berlaku di pasar-pasar seperti ini. Biasanya mereka memasang harga rata-rata, yang paling penting teliti memilih barang yang akan dibeli, dan jika beruntung bisa dapet barang bagus, merk terkenal dengan harga murah.
Bagi sebagian orang membeli barang-barang bekas (kecuali buku) begini dianggap tak menghargai diri sendiri, entah patokannya apa. Menurutku biasa saja, saya malah menyukai barang bekas asal original, ketimbang baru tapi bajakan. Entah patokanku apa. Saya hanya merasa puas saat menemukan barang bagus (menurut saya) waktu mengobrak abrik lapak di pasar-pasar begini. Tentu semua tak lepas dari faktor uang.
Tapi kupikir bagus aja ada pasar-pasar begini, tak perlu gengsi, toh mahal dan murahnya sepatu tetap diinjak. Untung cuma barang yang diloakin ya?. Belilah loakan dengan hati-hati, sebab hati tak ada di pasar loak.
------------------------
Batuampar, Batam
Djenar Abunetti
Sent from my BlackBerry 10 smartphone


0 comments:
Posting Komentar