Sekarang Sudah Senin

Sekarang sudah hari senin tapi mata masih sepet dibawa melek, akibat begadang malam minggu kemarin. Seperti orang-orang kebanyakan, kami ngumpul-ngumpul membicarakan banyak hal, politik, agama, ekonomi, sosial, budaya, seni dan tentu soal cinta. Dan jangan khawatir, itu semua cuma nggaya, kami tak mampu membicarakan yang berat-berat.

Saya merasa terlempar jauh ke masa sebelum orde reformasi, di mana ngumpul-ngumpul seperti ini dilarang meski saat itu saya belum paham kenapa hepi-hepi saja dilarang, bukankah bahagia menjadi syarat utama bahkan tujuan hidup? Ayahku seringkali melarang "jangan pulang malam, ngumpul-ngumpul, nanti dikira maling". Tapi saat itu saya hanya berpikir , "siapa yang akan menuduh maling di desa sepi, dan tak ada barang mewah selain kemewahan milik para petani, kebo, kambing dan sapi" dan itu bukan perkara gampang membawanya, butuh keahlian khusus.

Tapi ngumpul-ngumpul tak pernah berhenti saya lakukan, toh saya bukan siapa-siapa, apa-apa. Saya hanya anak muda yang mencari bahagia dengan caranya sendiri, seperti anak baru gede lain pada umumnya, main catur, dengerin musik, atau sesekali berkelahi, darah muda. Tapi saya tak pernah tahu, mengapa ngumpul-ngumpul saja pernah dilarang. Oh, saya buta sejarah.

Sekarang sudah senin, saatnya melek mata, melek sejarah, melek teknologi, ilmu pengetahuan, ekonomi dan politik. Tapi ngumpul-ngumpul masih dilarang, hanya karena memutar film dokumenter, membaca karya sastra, atau sekedar ngopi-ngopi, iya ngopi-ngopi. Barang-barang yang dulu susah kudapat. Senin seharusnya hari yang sibuk, demikian juga dengan bangsa ini, lupakan perkelahian malam minggu kemarin, karena kita sudah tak muda lagi, darah kebijaksaanaan, kedewasaan mestinya sudah mengalir. Ayolah, hari sudah senin, kita kerja saja dan biarkan mereka bahagia dengan caranya.
-----------------------------
--Djenar Abunetti--
Galuhtimur, Jawa Tengah.

Sent from my BlackBerry 10 smartphone

0 comments: