Merah


Merah, warna terang yang banyak penggemarnya memang membuat sesuatu tampak lebih menarik. Dan sekarang yang berbau "merah" lagi ramai dibicarakan dan bukan merah yang sesungguhnya, merah memang memiliki daya tarik luar biasa, konon bisa menarik energi chi lebih banyak bagi pemakai pakaian berwarna merah. Lihatlah pada perayaan-perayaan, tempat ibadah, sarana ibadah dan hal-hal lainnya yang dimiliki warga etnis Tionghoa, merah begitu dominan. 

Merah bisa menjadi sebuah simbol, atau hanya memang sekedar warna. Dan ada beberapa orang yang memang phobia merah, phobia partai berbendera merah bergambar palu arit atau yang sok "phobia" bendera merah putih dan mengharamkan hormat padanya. Dua-duanya bisa menjadi sama tololnya hanya karena sebuah warna, warna selembar kain. Tak akan jadi kafir hanya karena hormat pada bendera, tak akan jadi muslim yang baik hanya karena anti Sang Saka Merah Putih!.

Merah juga bisa jadi benar-benar hiburan, bukan hiburan seperti anti bendera, pernah mendengar satu dialog di salah satu film warkop DKI? "Yang baju merah jangan sampai lolos", di dunia sastra ada novel Merahnya Merah karya Iwan Simatupang. Indonesia merah darahku, putih tulangku bersatu dalam semangatku, nah kalau yang ini lirik lagu yang diciptakan Gombloh (kalau tak salah).

Merah hanyalah warna biasa, seseorang atau kelompok bisa saja menjadi anti pancasila berbungkus baju putih. Atau yang berbaju merah bergambar palu arit bisa sangat mencintai Indonesia, sebab bisa saja dia seorang tukang mencari rumput yang nyambi menjadi tukang bangunan di kala ekonomi sesulit ini. Apalah arti selembar kain merah. 

Sudahlah, jangan terlalu marah, jadi merah mukamu. Semu merah tentu lebih indah.
---------------------------
*foto topi merah kiriman dari Igniz Patristiane.

--jenar Abunetti‎--
Galuhtimur, Jawa Tengah.
Sent from my BlackBerry 10 smartphone

0 comments: