Jalan-jalan pagi jam lima sampai jam tujuh di rel kereta api sekitar Kali Gereng, Karang Anyar, Kalijurang, menghirup udara segar udara yang dirindukan banyak orang, ya sekedar dirindukan. Dan ini biasa kulakukan saat berada di kampung halaman, pada musim kemarau. Jika musim hujan seperti sekarang jalan menuju rel kereta menjadi basah dan licin, saya malas, udara segar cukup dirindukan saja dari balik selimut.
Sebentar lagi akan memasuki bulan puasa, dan biasanya di bulan ini seusai sholat subuh orang-orang akan memenuhi jalan kereta ini, untuk berolah raga atau sekedar duduk-duduk dan bermain petasan. Ramai sekali, tak seperti pada bulan biasa.
Entahlah, saya seperti sedang merindukan sesuatu, masa kecil. Masa-masa sebelum jatuh, dan terlempar ke atas bumi yang penuh masalah, pemanasan global, pencemaran tanah, air dan udara, perang, bencana alam dan segala kekacauan lain.
Tapi benarkah itu semua kekacauan? Dan bukan keteraturan? Bukankah alam hanya menjawab apa yang kita suarakan? Mengapa bisa disebut kekacauan? Dan bukan keteraturan? Jika kita menebang hutan lalu terjadi longsor, banjir, kehilangan udara segar dan mata air bukankah itu jawaban alam atas suara-suara kita? Apakah jawaban itu salah? Atau suara kita yang terlalu sumbang untuk diperdengarkan di telinga alam dan tak bisa kita dengar sendiri?. Dan bukankah itu wujud keteraturan?
Jangan-jangan kita sudah terlalu tuli dengan suara masa depan.
------------------------------------
--Djenar Abunetti--
Galuhtimur, Jawa Tengah.
Sent from my BlackBerry 10 smartphone


0 comments:
Posting Komentar