Main-Main

Pikiran sedang kacau dan sudah tiga hari ini saya tak melakukan sesuatu yang berguna, bagi diri atau pun orang lain. Pikiran sedang tak ingin diajak berdamai, ia ingin liar seperti biasanya, bermain-main dari tema satu ke tema yang lain, dari wall satu ke wall yang lain.

Sepertinya saya perlu barsantai, memanjakan pikiran, atau berhaha-hihi dengan siapa saja. Dan kupikir itu lebih baik ketimbang komentar menimbulkan salah paham, atau menyebarkan paham yang salah. Pikiran mulai santai, menurut diajak menulis status tentang main-main. Main-main hendaklah serius main-main, bukan sekedar pengalihan isu. Sebab isu apa saja bisa dianggap main-main dan bukan main-main, karenanya jangan main-main dengan isu. 

Di jaman "skrinsut" seperti sekarang seseorang bisa memainkan status main-main menjadi isu nasional, dan isu nasional menjadi main-main. Main-main haruslah jujur,  apa pun jenis mainanmu, valas, saham, atau main kayu gelondongan, dan tentu uang. Sebab uang muara dari sekian banyak jenis mainan yang ada di dunia ini, lebih-lebih jika kau main perempuan.

Malam sudah larut, tapi permainan tak pernah mengenal waktu. Pada dunia malam malah semakin ramai, baik yang di klab atau pun yang di atas kusam sajadah, altar atau apa pun namanya, ya, di atas sajadah atau pun altar seseorang bisa saja asik bermain dengan riang gembira dalam sunyinya, sepinya, juga gairahnya. Demikian juga di klab, seseorang bisa saja merasa tak bergairah, sunyi, sepi, dan terasing di bawah gemerlap lampu-lampu, di licinnya meja marmer.

Main-main bukanlah main-main, bermainlah dengan jujur, sebab jujur tak pernah main-main. Apa kau pikir ini serius? Santai saja, postingan ini hanya main-main.
------------------------
--Djenar Abunetri--
Galuhtimur, Jawa Tengah.

Sent from my BlackBerry 10 smartphone

0 comments: