Muka-Muka

Kemarin bebe'eman sama teman ngalor ngidul gak jelas, lama-lama sampailah pada bab muka, entah kenapa bisa sampai di bab muka juga gak jelas, namanya juga obrolan ngalor ngidul. Nah ini upaya yang sangat sia-sia, sudah jelas-jelas gak jelas tapi berusaha dijelaskan. Tapi saya jadi tahu, bahwa ketakjelasan bisa jadi jelas, ya itu, semakin jelas bahwa tak jelas. 
Ooh, saya baru ingat, itu karena depeku tak bermuka. *asem bener, udah ngetik banyak baru inget. Ehem, apa kamu sering dibuat menunggu tanpa kejelasan? Kalau iya, ada lagu untukmu, "jelas-jelas kaca" yang dinyanyikan Nia Daniati.  Ok, Baiklah, kita kembali ke muka!. Iya, muka masing-masing!.
Demi status soal muka saya rela mantengin tivi biar lebih banyak tahu aneka wujud muka, sekalian cuci mata, biar mukaku ikut seger liat yang cantik-cantik.

Muka pertama, pada iklan bedak.
Katanya cantik itu relatif, tapi kita bisa kok bedain mana Dian Sastro dan mana Mpok Nori, artinya hampir bisa dipastikan seseorang bisa dibilang cantik atau tidak. Alami atau polesan pabrik tentu lain perkaranya. Tetapi biar lebih afdhol dan penuh kesadaran saya sesekali juga mantengin muka sendiri di depan cermin. 
Dari hasil mantengin tivi tadi saya temukan berbagai produk perawatan muka, tapi meskipun banyak produk bagus tentu kalau dipakai sekaligus dari berbagai merk tersebut berbarengan pasti gak bagus hasilnya, juga efek sampingnya, terutama soal banyaknya pengeluaran alias boros. Jangan percaya begitu saja pada muka-muka cantik ini, bisa saja sebenarnya malah gak pake produk yang diiklankan. Muka-muka penuh obsesi cantik ini melahirkan inovasi kosmetik berbahan semen putih dan batu bata. Biar aman gunakan kamera 360.

Muka kedua, pada berita politik.
Jenis muka ini sama sering nongolnya dengan bintang iklan bedak, bedanya jenis muka ini lebih disering dipoles dengan air ludah, cowok cewek sama saja, susah dibedain, ludah memang tak bias gender. Tetapi masih bagus kalau ludah sendiri, kadang-kadang malah pasang muka dengan mimik memohon untuk diludahi. Tak ada ludah tahi pun jadi, sepertinya begitu prinsip mereka. Kadang-kadang jika tak puas mereka juga menganjurkan meludahi tetangganya, sodaranya apalagi musuhnya. Kamu bisa bikin jasa steam muka dengan ludah saat pilkada, atau pemilu, dan bukalah usahamu di depan panggung saat kampanye.

Muka ketiga, pada berita kriminal.
Muka pelaku kriminal yang tertangkap sering ditutupi kalau tidak ya dibikin buram, barangkali mereka sudah dianggap tak punya muka. Atau setidaknya berbaik hati menyembunyikan benjol-benjol atau memar-memar di muka akibat "dimassa" cieee massa, itu loh massa and the bear. Ketimbang malunya dobel ya ditutupi dengan topi atau kupluk ala ninja, prinsipnya melayani masyarakat. Ada yang butuh tutup muka karena malu, demi keamanan, atau demi apapunlah ya, ya dikasih. Polisi kita ternyata sangat baik, dan mengerti akan kebutuhan masyarakat. Jangankan tutup muka, tutup kasus aja bisa. Peluang usaha nih, kamu bisa bikin toko tutup muka ala ninja di teras kantor polisi. 

Muka keempat, di (infotainemen, jawa) info tahi banget
Muka-muka di sini lebih membingungkan, kadang kita liat yang mukanya menurut kita enggak banget, tapi pasangannya jauh lebih berbeda lagi, jelek-jelek bininya cakep gitulah. Di sini kadang muka tak begitu penting, tapi apa yang di balik muka itulah yang penting, bisa duitnya, mobilnya, depositonya atau malah dukunnya. Biar aman dari iri dengki, kamu bisa sering-sering lihat muka sendiri di cermin.

Muka kelima, muka hasil gogling.
Ada banyak akun dengan foto muka hasil gogling, tidak percaya dengan muka sendiri, mungkin. Atau mukanya masih dalam tahap renovasi, jadi belum bisa ditampilkan. Kadang-kadang nginbox minta ini itu atas nama ini itu juga. Lha ini jenis "muka" yang minta dibikin memar, diludahi, atau dituang semen!

Muka keenam, muka renungan.
Pada kata Januari yang berasal dari bahasa Latin iānuārius yang berarti "bulan Dewa Yanus". Yanus (bahasa Latin: Iānus) adalah dewa dalam kepercayaan bangsa Romawi yang mempunyai dua muka sehingga ia bisa melihat ke depan dan ke belakang secara bersamaan. Kedua muka tersebut juga membuatnya dapat melihat ke masa lalu dan masa depan. [wikipedia].

Eh, tetapi kita tak perlu menjadi dewa untuk tahu seperti apa masa depan kita, setidaknya kita bisa belajar dari 2015 untuk tahu seperti apa yang terjadi di 2016, ada kata bijak "pelajari masa lalu jika ingin meramalkan masa depan".  Untuk yang sering ketipu: Tetap kalem, dan hati-hati-hati dengan manusia bermuka dua. Karena jelas itu bukan dewa, tapi setan. :D nah ini status lama, basi dan bau jigong.
-----------------------------------
--Djenar Abunetti--
Galuhtimur, Jawa tengah.

Sent from my BlackBerry 10 smartphone

0 comments: