"Sepanjang sejarah manusia, kita telah begitu bergantung pada mesin untuk bertahan hidup. Nasib, rupanya bukan tanpa rasa ironi", kata Morpheus pada Neo. "Matrix adalah dunia mimpi yang dihasilkan komputer guna membuat kita tetap di bawah kontrol, untuk mengubah manusia menjadi ini", ujar Morpheus sembari memegang dan menunjukan batu baterai.*
Apa yang ditakutkan eksistensialis Gabriel Marcel menjadi kenyataan, teknologi pada akhirnya hanya membuat manusia terasing dari nilai-nilai kemanusiaanya. Jejaring sosial, smartphone membuat kita menjadi asosial dan berjalan menunduk seperti babi. Sepanjang sejarah penciptaan manusia adalah makhluk sempurna, namun Ia terlalu egois, dan membiarkan anak keturunannya diasuh ras mesin, ras terkejam dalam semesta, ras ciptaanya sendiri.
Oh dunia, wajah penatmu semakin nyata, garis-garis hitam melingkari matamu yang lamur seperti cincin bermata akik di jari keriputmu, engkau terlalu lelah mengarungi waktu dari jaman dinosaurus, big bang, megalitikum sampai zaman facebook. Engkau yang renta, tersiksa dan merana masih harus terbungkuk-bungkuk mengangkat selaksa beban peradaban, tata dunia baru, demokrasi, perang dan bencana alam. Oh dunia tak seharusnya mereka menggilaimu yang peot dan berhasrat menidurimu sampai pagi. Tapi manusia bukanlah makhluk yang waras, Ia berencana menaklukkan semesta, membantingnya di ranjang dengan libido di ubun-ubun.
Bumi yang diramalkan akan hancur limaratus mendatang, tak lagi layak untuk ditinggali, dan galaksi Bimasakti akan bertabrakan dengan galaksi tetangga terdekat, Andromeda dua milyar tahun lagi, namun sebagian memilih pasrah dan angop selebar-lebarnya. Dan bersabda "Totalitas dalam angop menentukan kualitas hidupmu". Lalu untuk apa semua ini? Langit terlalu gelap.
---------------------------
*dari film Matrix
**Foto dari Bits chanel BBM.
Djenar Abunetti
Galuhtimur, Jawa Tengah
Sent from my BlackBerry 10 smartphone


0 comments:
Posting Komentar