Entah pada siapa ucapan selamat hari buku harus dialamatkan pada saat-saat sekarang ini. Pada penerbit? Pecinta buku? Penulis, pengarang? Perpustakaan nasional? Atau pada setiap buku yang pernah kita baca?. Sedang buku itu sendiri tak pernah meminta diselamati, apalagi dibakar!.
Jika kita tak mampu mencintai buku, setidaknya jangan membakar buku kata pecinta buku, jika tak mampu membuatnya tertawa setidaknya jangan membuatnya menangis kata akun galau. Buku tetaplah buku, ia tak pernah memihak kiri atau kanan meskipun diasumsikan "buku kiri".
Menurutku, buku kiri itu bagus untuk otak kiri. Dan ia bagus untuk siapa saja, orang kiri atau orang kanan. Buku kiri hanya jelek untuk pengidap phobia kiri. Kiri adalah penyeimbang, tanpa kiri apalah arti sebuah kanan. Tapi sebaiknya Kalau ada yang ngiri kamu nganan aja.
Sebuah buku adalah tempat piknik, jalan-jalan atau berwisata yang murah, bisa didatangi kapan saja, di mana saja, ia bisa jadi berbeda sama sekali saat kita membacanya untuk yang kedua atau yang keseratus kalinya, sebab pemahaman kita selalu berubah. Oleh karenanya ada ungkapan "kamu kurang piknik" sebagai ungkapan bahwa kita kurang wawasan.
Seandainya ada pembakaran buku pada bulan atau minggu-minggu di mana hari buku diperingati itu pasti bukan perayaan yang baik dan alangkah baiknya jika menggratiskan, menyumbang atau membeli banyak buku bagus baik kiri maupun kanan, paling tidak ada upaya meningkatkan minat baca kita yang mendekati titik nol.
Mari piknik, agar pikiran selalu segar. Dan maaf jika postingan ini terasa garing, tak segar sama sekali. Kamu tahu kenapa? Karena aku kurang piknik.
---------------------------
*foto logo memperingati hari buku dari fans page Basuki Tjahya Purnama.
Galuhtimur, Jawa Tengah.
*foto logo memperingati hari buku dari fans page Basuki Tjahya Purnama.
Galuhtimur, Jawa Tengah.
Djenar Abunetti
Sent from my BlackBerry 10 smartphone



0 comments:
Posting Komentar