Berita

Kita tidak pernah tahu dengan pasti tentang kebenaran sebuah berita, lebih-lebih di jaman sekarang, di mana setiap orang bisa "menciptakan, mengolah, mendistribusikan dlsb" sebuah berita. Di mata wartawan sebuah fakta ibarat sebuah bahan makanan, layaknya bahan baku makanan sebuah fakta bisa menjadi rasa, model, warna dan apa pun yang diinginkan. Tergantung selera. 

Sebuah bangunan yang sama  bisa diberitakan atau (diceritakan?) sisi hukumnya, dari mana asal muasal tanah di mana bangunan itu berdiri, dari mana biaya pembangunannya, untuk apa peruntukannya, sampai milik siapa, pribadi atau pemerintah dan lain-lain. Bisa diberitakan tentang seni arsitekturnya, bergaya gotik, klasik, modern atau minimalis. Bisa tentang sisi ekologisnya apakah ramah lingkungan atau tidak seperti menggunakan biotank, dilengkapi biopori atau resapan air hujan, menggunakan energi surya dan lain sebagaianya. Dan satu-satunya fakta yang sama, itu sebuah bangunan.

Di era banjir berita, berita juga cerita seperti tak ada nilainya sama sekali. Fakta memang tak akan mampu disajikan dengan utuh, sebagaimana adanya, apa yang kita lihat, baca dan dengar di media manapun  hanyalah "fakta" si pewarta. Dan pertanyaan sesungguhnya, apakah fakta itu? Mengapa ada sekian banyak  berita bombastis berjudul "FAKTA BLABLA...." dengan huruf besar semua dan sederert tanda seru seperti pagar di penjara?. Apakah mereka ingin memenjara kita? Pikiran kita?.

Kita seperti dipaksa untuk mempercayai begitu saja apa yang disuguhkan si pewarta tanpa boleh melihat sudut yang lain, mengunyah, apalagi sekedar icip-icip. Harus ditelan, dihabiskan tanpa sisa, kalau perlu tak usahlah buang air besar, sakit dan mati sekalian. Kejam sekali dunia jurnalistik model begitu. 

Apakah kita benar-benar menyuguhkan atau menikmati berita? Atau sekedar bercerita, mendengar cerita? Jika kau meragukan banyak berita, wajib hukumnya meragukan cerita, lebih-lebih ceritaku.
------------
Galuhtimur, Jawa Tengah.

Djenar Abunetti‎

Sent from my BlackBerry 10 smartphone

0 comments: