Babi

‎Binatang ini seringkali dipanggil-panggil saat orang marah tak terkendali, dan dia tak sendiri, kadang musuh binatang ini pun seringkali dipanggil tanpa alasan, anjing, mereka disatukan dalam pikiran orang yang marah. Dalam dua hal yang saya tahu babi dan anjing bermusuhan, pada saat si anjing jadi teman pemburu babi hutan, dan pada adu bagong. Pada adu bagong biasanya si babi di keroyok. Entah masih ada atau tidak acara semacam itu, dulu saya pernah melihatnya di VCD bajakan dan ini bukan patokan bahwa acara resmi semacam itu ada, barangkali itu hanya iseng belaka atau memang ada acara semacam itu pun saya tak tahu, dan kupikir itu bukan tontonan bagus. Lupakan. Di lain tempat dan waktu dua binatang ini bisa saja benar-benar berteman, bukan sekedar disatukan pikiran orang marah. Dan jangan marah soal pengetahuanku yang minim soal adu bagong.

Babi memang dekat dengan manusia, entah sebagai bahan makanan dan sumber energi, atau jadi bahan makian manusia pada manusia lainnya, manusia memang kejam. Terlepas dari babi,  manusia memang hobi membawa pihak lain untuk sekedar menunjukkan siapa dirinya, dan jika marah ia sering menunjuk binatang ini.

Ilmu pengetahuan makin berkembang, berkat kemajuan iptek kedekatan manusia dan babi akan semakin nyata, bahkan tak sekedar dekat, tapi menyatu menjadi diri (biologis) manusia itu sendiri. Jika sebuah kepercayaan melarang manusia mendekati binatang ini, dipelihara, untuk dimakan atau pun untuk mencaci, sains sebaliknya, mampu menyatukan dua hal tersebut. 

Dan bukan tidak mungkin nanti manusia akan berhati, berjantung dan berorgan-organ lain  dari babi, anjing, buaya, monyet dan kawan-kawannya itu terwujud di masa depan. Dan makian "sekebun binatang" tak laku lagi. Sains tak memerlukan konsep dosa untuk menghentikan orang mencaci sesamanya, karena sains akan menunjukan siapa kita di masa depan. Bisa jadi kita akan berjantung babi dan bermata  anjing, berkelamin buaya, berlidah jerapah dlsb. Dan otak simpanse? Saya sepertinya sudah memakainya.

----------------------
Galuhtimur, Jawa Tengah.

Djenar Abunetti
Sent from my BlackBerry 10 smartphone

0 comments: