Burung Hantu

Malam ini saya sulit tidur, saya "dihantui" burung hantu bukan karena mukanya, tapi suaranya yang berisik. Tapi sebenarnya tidak berisik-berisik amat sih, juga bukan karena takut sungguhan, hanya kasihan padanya. Maklum si burung masih anakan, sebenarnya saya tak suka menangkapi burung yang ada di alam bebas, selain bukan pecinta (?) burung saya juga tak punya bakat merawat burung. Iya bener tak bisa merawat burung. 

Ini hanya soal kasihan saja, setelah kemarin siang keponakan ikut bapaknya memetik kelapa muda, tahu ada burung di pohon kelapa tentu minta ditangkapin, sampai rumah bingung bagaimana memberi makannya, apa yang cocok, kapan sebaiknya diberi makan. Lebih mudah mengasuh anak orang sepertinya, bisa ditanya-tanya mau makan apa, rujak, sate atau ketupat sayur.

Semakin malam semakin kasihan saja, takut diterkam kucing akhirnya saya membawanya masuk ke kamar di sinilah saya jadi semakin sulit tidur karena si burung pindah-pindah sesukanya, maklum tak bisa dikasih tahu. Burung gitu loh, dan malam-malam begini saya harus mengurusi burung, burung yang sendirian, bagusan kalau ada jajanan burung kan bisa dikasih jajan tuh burung, iya burung.

Burung hantu  dan hantu burung, ia sesuatu yang berbeda meski sama-sama ada "hantu"nya dan sama-sama ada "burung"nya. Kedudukan keduanya jauh berbeda, burung hantu ada di alam nyata, dan hantu burung (jika ada) tentu tinggalnya di alam antah berantah, alam gaib (kalau memang ada). Tapi sama-sama menakutkan bagi sebagian orang. Burung hantu itu jelas nyata, hantu burung? Entahlah. Kita tanya saja pakar burung, dan pakar hantu, siapa tahu ada jawabnya berikut hantunya dan burungnya. Iya burungnya, tentu bukan burungnya pakar.

Entah kenapa saya jadi bertanya-tanya, ada apa dengan burung hantu? Ada apa dengan hantu burung? Mengapa keduanya sama-sama menakutkan bagi sebagian orang, dan biasa saja bagi sebagian yang lain. Ini sepertinya terkait dengan kondisi psikologis seseorang, dan soal percaya dan tidak percaya. Dan ini akan lama jika dibahas dengan serius dan akan membuat saya lupa tentang burung. Dan butuh pakar psikologi  untuk ditanya-tanya dan saya ingin bertanya kenapa saya jadi bertanya-tanya, hanya karena burung.

Nah untuk pakar bahasa sepertinya ada bagian bagaimana menjelaskan "burung hantu dan hantu burung" memiliki makna berbeda, padahal sama-sama memiliki potensi sama, menakutkan. Apakah makna sebuah kata sesuatu yang dibawa oleh kata tersebut, atau  kita yang melekatkan maknanya pada sebuah kata? 
Nah, ini lebih menakutkan bagiku. Burung hantu? Aku biasa saja. Kamu takut burung? Iya burung. Duh!
-----------------------
--Djenar Abunetti--
Galuh Timur, Jawa Tengah.

Sent from my BlackBerry 10 smartphone

0 comments: