Toa Lagi

‎Masih terkantuk-kantuk bukan karena semalam nonton bola paling religius pada sepertiga malam, apalagi dzikir dan tahajjud. Tapi karena semalam tidur soreku terganggu pengeras suara yang menyuarakan pemilihan ketua RW mau dipilih langsung atau tidak langsung, ada yang sepakat langsung dan ada yang  sepakat tidak langsung, saya ikut bingung sebab bangun tidur "nyawa" belum penuh terkumpul. Tak lama kemudian diadakan pemilihan "memilih", nah saya agak bingung bagaimana ngomongnya, mau milih ketua RW tapi sebelumnya diadakan pemilihan, pemilihan tersebut memilih "langsung dan tidak langsung" nah ruwet sekali demokrasi itu. Sangat membuang waktu, dan juga sangat mengganggu. Mungkin akan lain ceritanya kalau tidak pakai pengeras suara sejenis TOA (entah kenapa saya sangat jengkel dengan benda yang satu ini). Kan lebih enak kalau pakai pengeras suara yang hanya bisa didengar di mana para pemilih tersebut berada, bukan begini, sampai ke kampung sebelah. Terus gunanya apa buat "yang dipaksa mendengar" tersebut? Apa mereka harus bilang "wow" sambil berak?. Asu tenan!.
Dan malam ini saya ingin berdoa, semoga pabrik TOA itu bangkrut selamanya, dan tak pernah ada lagi sehingga toa hanya bisa dijumpai di museum, menjadi kenangan paling bodoh umat manusia. 
"Langsung"
"Tidak langsung"
"Langsung"
Huh, asu tenan!! Mau sampai jam berapa pesta demokrasi yang tak demokraris sama sekali ini?
---------------------------------
Selapanjang, Bandara Mas, Tangerang.

--Djenar Abunetti--
--djenar.andromeda@gmail.com
Sent from my BlackBerry 10 

0 comments: