"Mau kemana" tanya nenek dengan terbata-bata pada suatu pagi yang mendung.
"Orang hidup harus pergi", ibu menjawab ketus ketika akan menuju kebun jagung.
Aku mendengarnya dari balik bilik.
Menjadi tua memang menjengkelkan seperti nenek, juga ibu. Aku takut menjadi tua, tapi orang hidup memang harus pergi, pergi dari masa kanak-kanak menuju masa remaja, dewasa kemudian pergi menuju masa tua. Orang hidup memang harus pergi. Kata-kata ibu terus terngiang sepanjang hari, sepanjang minggu. Tapi aku tak mengerti mengapa ibu seketus itu, semarah itu, nenek memang telah pergi dari masa-masa romantis menuju masa yang suram, dan menjengkelkan semua orang. Tapi aku belum mengerti mengapa ibu semarah itu.
Orang hidup harus pergi. Berhari-hari, berminggu-minggu berbulan-bulan, bertahun-tahun aku mencoba menerka maksud ibu, mungkinkah pergi yang dimaksud ibu hanya sekedar mencari nafkah, atau ada hal yang lebih penting, lebih serius dari pergi merawat kebun jagung dari ganggunan babi-babi. Sekian waktu yang terbuang, aku lupa pada nasihat ibu yang disampaikan dengan lembut aku lebih mengingat kalimat itu yang disampaikn dengan marah, ketus dan jauh dari sifat lembutnya selama ini. Aku tak berani bertanya ketika ibu marah, atau sedang tak enak hati. Mungkin ibu terlalu kesal terhadapku yang tak pernah pergi dari kebiasaan datang dan pergi dari hidup kaumnya, atau itu hanya rasa bersalahku.
Tapi orang hidup harus pergi, pergi kemana, dari apa? Dari kemelakatankah? Menuju kekosongankah? Tapi aku tahu ibu tak ingin aku pergi dari hidupnya, dari rumah sederhanyanya. Tapi orang hidup harus pergi.
Hari terus berganti, orang-orang terus datang dan pergi, sekedar basa-basi menawarkan kopi atau membuat sakit hati. Aku mulai mengerti, maksud kalimat ibu, orang hidup harus pergi. Tapi jengkelkah ibu terhadapku yang tak jua beranjak pergi dari kesendirian?.
Sepertinya aku sudah menjadi tua dan menjengkelkan ibu.
-------------------------------
Kebayoran Lama, Jakarta.
--Djenar Abunetti--
djenar.andromeda@gmail.com
Sent from my BlackBerry 10

0 comments:
Posting Komentar