11.40

Jarum panjang pada jam dindingku sudah bergeser ke kiri menjauh dari angka enam dan menunjuk angka delapan, sementara jarum pendek masih di sebelah kiri sejak tadi menunjuk angka sebelas, setengah duabelas malam lebih sepuluh menit, atau jam duabelas malam kurang duapuluh menit. Ini bukan hanya perkara waktu, boleh juga saya anggap perkara gaya pengungkapan yang lebih bertele-tele agar ada lebih banyak kata kiri yang bisa dituliskan pada soal waktu ini. Sebetulnya mungkin itu bukan di kiri sungguhan, lebih tepat "dikirikan", akan tetapi memang sepertinya bisa seperti itu, jarum jam sungguh-sungguh "di kiri". Ya begitulah, kiri pada sebuah jam. Lumayan jauh, mungkin tak ada hubungannya sama sekali.

Kiri itu penting, bayangkan jika mobil tak ada ban kirinya satu saja, kalau spion okelah kita masih bisa jalan sambil anjing-anjingan (bosan dengan kucing-kucingan) dengan polisi, karena kita bisa saja salah hanya karena tidak ada tutup pentil di ban, apalagi spion. Semua orang tahu. Untunglah motor tak ada soal dengan ban kiri, tapi mungkin dengan kondisi jaman sekarang yang banyak bermunculan motor beroda tiga dan hasil modifikasi, motor pun tak luput dari soal kiri, terutama itu tadi, soal ban. Ban dan kiri, lumayan dekat, malah sangat dekat.

Yey, kiranya apa yang saya mau bicarakan ini sih? Kira kiri kira kiri dari tadi! Tidak jelas sama sekali! Kira-kira dong kalau mau bicara soal yang kiri-kiri. Sekali lagi, kiri itu penting. Sopir metromini, angkot, bemo, bajay, dan buskota lain menganggap kiri itu penting, saat penumpang akan turun umumnya bilang "kiri bang", dan ajaib langsung berhenti, tak peduli di halte atau malah di perempatan, yang penting berhenti. Kiri adalah kata sakti yang sanggup menghentikan laju angkot dalam kecepatan tinggi bisa berhenti dengan mendadak, tak peduli kendaraan lain di belakang mau ikut ngerem atau tidak. Di sini kiri sangat dekat dengan kaum kelas bawah. Di sini semua ikut yang kiri, sebab pintu kendaraan umumnya di kiri, karena peraturan lalulintasnya begitu, setir di kanan. Lain halnya dengan taksi atau bemo, bisa saja penumpang bilang kiri tapi keluar dari pintu kanan, dan bemo berpintu belakang. Hanya di era transjakarta penumpang tak perlu teriak "kiri-kiri" dan bisa turun lebih banyak di pintu sebelah kanan. Di sini kanan dekat dengan kaum kelas menengah, tak jelas menengah bawah atau menengah atas.

Tapi kiri juga ditakuti pada lain kasus, dibenci pada kasus lainnya lagi. Kiri ditakuti pada soal ideologi, di sini bisa dibenci saat memberi sesuatu dengan tangan kiri, makan minum dengan tangan kiri bisa dianggap pengikut setan, apakah setan berideologi kiri yang layak ditakuti dan dibenci? Entahlah. 

Jarum jam semakin ke kiri, ke kiri terus berubah ke kanan, waktu terus berjalan, jaman berubah, kiri, kanan dan yang  kekiri-kirian semakin tak jelas. Malam semakin larut, hantu-hantu kiri mulai bangkit dari kuburnya, menyambut fajar yang merah. Di sini, kiri dan waktu bisa bertemu. 
---------------------------------------
--Djenar Abunetti--
Galuh Timur, Jawa Tengah.

Sent from my BlackBerry 10 smartphone

0 comments: