Delusi

31/05/2014
13:06

Di lain waktu seperti ada mesin penggiling padi di dalam telinganya membuatnya selalu mencari di mana mesin itu berada meski jam dinding menunjukan tengah malam mendekati pagi.

Bayang-bayang masa lalunya terus menguntit atau mungkin menempel di punggungnya yang mulai membungkuk, menambah selaksa beban di pundaknya yang ringkih menonjolkan tulang-belulang yang dulu sekokoh karang.

Orang-orang terus mengatakan padanya dan meyakinkannya bahwa mesin itu tak pernah ada, tapi Ia berkeras hati dan tetap yakin bahwa mesin penggiling itu ada, "sama nyatanya dengan televisi yang ada di depan kita", Ia berujar padaku, pada suatu pagi, saat sarapan dan menonton road runner.

Aku terus mencari tahu tentang skizo, delusi dan halusinasi, dan ingin tahu apa yang terjadi padanya dengan menguping pembicaraannya yang entah dengan siapa yang menemaninya kala duduk di tepi ranjang, di ruang tamu atau setiap kali dia menikmati senja di belakang rumah. Dan selalu saja aku melihatnya duduk sendirian berteman teh hangat dan tape singkong kesukaaanya.

Setiap kali adzan maghrib terdengar saat itu juga mesin-mesin penggiling mulai berderum di dalam kepalanya, kabel-kabel di atas kamar yang keluar dan melintasi dinding dapur miliknya dikatakan sebagai sumber tenaga mesin-mesin itu, "semua berawal dari sini, hingga ke kebun bambu di ujung desa sana". Aku tak mendengar dan tak melihat apapun selain sepi dan gelap namun mesin penggiling itu ada, meski hanya dalam kepalanya aku hanya perlu membongkar kepalanya.

Barangkali saja gila itu membebaskan dari segala beban, atau malah menunjukan lemahnya kita dan butuh perhatian.
----------------------------------
Galuh Timur, Jawa Tengah.

--Djenar Abunetti--
djenarabunetti@yahoo.com
Sent from Nokia Windows Phone.

0 comments: