Bolak-Balik

Saya sedang tidak enak badan, sedari maghrib sudah terasa batuk pilek akan datang lagi karena semalam nekat minum air dingin (efek tidur dekat kulkas), kali ini saya pindah tempat tidur untuk yang kesekian kali. Pertama di atas tapi banyak tikusnya lalu pindah ke ruangan sebelah dekat tivi biar kalau nonton bola tinggal buka mata, tapi berisik, pindah lagi ke bawah deket kulkas masih berisik juga akibat suara tv masih kedenger dan berisik lantai yang dilalui orang-orang. Kemudian pindah lagi ke tempat yang lebih jauh malah ketemu dua orang yang kalau ngobrol gak kira-kira volumenya, lebih dari tv. Saya stres malam ini, mau istirahat lebih awal tapi susahnya kayak mengakui kekalahan.

Saya coba baca-baca biar mata capek tapi masih gak bisa merem, maka saya berpikir saya mau makan yang banyak padahal bukan kebiasaan saya, siapa tahu kalau kekenyangan saya bisa merem. Kemudian saya keluar sambil ngebayangin ngabisin dua mangkuk bubur kacang hijau atau bubur ayam dan dua butir telur setengah mateng. Di depan gerbang depan tempat tinggal pasutri tukang mie ayam masih asik menunggui dagangannya, saya hanya tersenyum dan berlalu karena saya tak begitu menyukai makanan jenis mie, burcang sama buryam masih menari-nari di kepala, 75 meter dari situ saya melewati tukang nasi goreng yang "bandel" kalau saya pesan jangan banyak-banyak nasinya masih tetep saja dikasih banyak selain sayang kalau gak abis saya memang tak bisa makan banyak (kecuali kalau makan lalapnya pete) maka saya cukup melambai meski cuma kenal wajah gak kenal nama. 50 meter kemudian sampailah saya di warung bubur, "ada burcang?"
"abis mas, yang itu belum mateng",
"kalau buryam?"
"abis juga mas"
Kepalaku semakin pening, sialan udah jauh-jauh malah abis, "ya sudah telor setengah mateng aja dua". Duduk menunggu telor setengah mateng, ada pembeli lain yang lebih dulu sedang menikmati mie instan. "ah kalau cuma ada mie doang sih mendingan mie ayam tadi" batinku. Telor setengah mateng sudah jadi (mateng?). Tak ada bubur telor doang pun tak mengapa jadi pikirku sambil mengingat mie ayam depan gerbang rumah, ya sudah saya akan makan mie malam ini. Telor sudah habis, bayar dan balik lagi. Seperti tadi melewati tukang nasi goreng melambai dan berlalu, satu perempatan dan satu tikungan lagi gerobak mie ayam akan terlihat terangnya, betul setelah tikungan habis gerobak mie ayam terlihat dan nampak pasutri tukang mie ayam sedang membereskan dagangannya, tabung gas sudah keluar, botol-botol sudah dimasukan ke dalam wadah. Apes. Saya masih mencoba tersenyum, melewatinya dan masuk ke gerbang dan mikir apa saya akan makan pop mie aja di warung rokok sebelah kiri, kan cukup teriak dari lubang di pager yang hanya cukup untuk melongokkan kepala keluar seperti di waktu lain, "ah masa makan pop mie sih" batinku lagi, "mending nasi goreng bandel itu dong" masih membatin. Akhirnya saya keluar lagi, pasutri mie ayam masih belum selesai, saya melewatinya lagi, melewati satu tikungan yang penuh anak-anak bermain petasan bumbung "abang bolak balik mulu sih bang" saya cuma tersenyum  pahit. Satu perempatan terlewati dan nampak lampu gerobak nasi goreng masih menyala, duduk mengantri sebentar dan masih seperti biasa selain rasa nasi gorengnya kacau porsinya masih tetep bandel, terlalu banyak dan kali ini penuh tulang ayam, "memangnya saya kucing" batinku. Saya pulang menyisakan nasi goreng seperti di hari lain, membawa rasa jengkel akibat bolak-balik dan makin susah tidur sebab dua orang yang tadi ngobrol ganti mendengkur dengan keras. Saya capek, ingin tidur itu saja. Sulitnya seperti mengakui kekalahan.
-----------------------------
Duri Pulo, Jakarta.

--Djenar Abunetti--
djenarabunetti@yahoo.com
Sent from Nokia Windows Phone

0 comments: