Terjebak

Terjebak rasa lapar, berada dalam sebuah kamar dan di luar hujan deras, setelah hujan reda saya berusaha membebaskan diri dari rasa lapar dengan pergi kewarung sop ayam, jebakan berikutnya adalah rasa ingin tahu apa bedanya sop ayam dan soto ayam? nasi baru dimakan setengah hujan turun lagi dengan lebatnya, sampai nasi habis disusul dua batang rokok segelas teh hujan belum juga reda, kembali saya terjebak, jika tadi terjebak lapar, kamar dan hujan kini saya terjebak rasa kenyang di teras warung dan hujan deras. Hidup hanyalah persoalan lolos atau tidaknya kita dari serangkaian jebakan atau perangkap.

Orang bijak mengatakan dunia hanyalah ujian, sandiwara, penuh tipu daya, penjara dan lainya. Dan barangkali saya sedang tertipu, terpedaya oleh pikiran saya sendiri, rasa lapar ataupun kenyang dan ruang bernama kamar atau sebuah warung. Lalu pantaskah, bisakah atau mungkin bolehkah saya (manusia) menyalahkan jebakan-jebakan yang seliweran ataupun berserakan di depan hidung sendiri?

Sebuah kewajaran jika seorang ibu mengatakan "anaku dijebak, saya tahu dia tak pernah makai" disebabkan kasih sayangnya, namun bukan sebuah kewajaran jika jebakan atau perangkap berupa ketenaran, uang dan segala kemudahan yang memungkinkan semua itu terjadi (menggunakan narkoba) dilupakan begitu saja, barangkali kita memang menciptakan jebakan untuk diri sendiri maka kata-kata "dijebak orang lain" tak perlu ada.
-----------------------------
Cirebon, Talun


--Djenar Abunetti--
djenarabunetti@yahoo.com
Sent from my Nokia