Malam jumat kemarin saya keluyuran ke keraton kasepuhan Cirebon, namun sayang sekali saya tak sempat mengambil gambar, kondisi malam yang minim cahaya membuat saya berpikir kembali, padahal saya ingin sekali melakukanya untuk melengkapi catatan ini. Keluyuran yang hanya satu jam itu tak memuaskanku dan menimbulkan sebongkah 'dendam' yang ingin segera dituntaskan tanpa tour guide seperti kemarin malam, kecewa berat saya pendam dalam-dalam. Sebenarnya tak susah masuk ke areal keraton hanya cukup mengisi daftar tamu setelah melewati gerbang kita bisa menentukan sendiri kemana arah atau tempat yang diinginkan, dan ini akan jadi modal keluyuran berikutnya.
Saya bukan pencari berkah seperti orang-orang yang saya lihat, mandi di sumur keramat, berkonsultasi dengan pelaku spiritual berzikir dan lainnya, itu bukan urusan saya dan saya tak perlu menghakimi "itu syirik, atau musyrik" sebab saya merasa sayalah yang musyrik sebab saya tak pernah sholat. Saya hanya blogger yang ingin melihat bukti sejarah sebuah kejayaan yang mampu bertahan hingga kini, dan itu berkah tersendiri buat saya, dan memasuki museum yang kemarin malam sudah tutup akan jadi tujuan utama saya nanti.
Kecewa? Teman-teman juga sepertinya kecewa ketika saya memasuki areal sumur keramat dan keluar tanpa bekas cuci muka ataupun menenteng botol berisi air sumur keramat tersebut karena yang memasuki areal tersebut hanya saya dan satu teman (Nano) yang terpaksa mengikuti saya sementara teman lainya (berempat) merasa takut dan duduk di pendopo atau aula. "kamu gak ikut mandi atau cuci muka" tanya Majid yang orang lokal begitu saya keluar, "enggak, bisa melihat semuanya buat saya juga sudah berkah" berkah melihat bukti sejarah yang begitu megah.
-----------------------
Cirebon, Talun
--Djenar Abunetti--
djenarabunetti@nokiamail.com
Sent from my Nokia